Translate

Tuesday, November 22, 2016

Pedang Raja : (1) Pangeran Kecil

... Berjaga-jagalah dan waspadalah senantiasa ...

O_O

     Malam itu adalah sebuah malam yang sunyi dan tenang. Suara yang muncul dari alam membuat suasana begitu sempurna dan damai. Tirai gelap malam yang tampak bergelombang karena awan kelabu yang berarak perlahan, tampak memainkan bulan purnama dan tangan cahayanya. Malam ini bagaikan mengundang setiap orang untuk beristirahat mengarungi dunia mimpi tanpa mau meninggalkan seorang pun tersisa di dunia nyata. Malam yang terlalu indah dan khidmat untuk dilewatkan selain dengan beristirahat senyenyak mungkin.

     Di bawah terang rembulan yang berkas-berkasnya sampai di permukaan bumi bak sutra lembut keperakan, sebuah siluet megah tampak dari kejauhan. Siluet itu menggambarkan bangunan yang besar, dengan tembok-tembok dan menara-menara yang tinggi, juga dengan jendela-jendela yang bercahaya putih kekuningan. Siluet hitam legam yang lebih tegas hitamnya daripada langit malam ini menambah agungnya nuansa malam alih-alih nuansa mencekam.

     Dan memang benar, siluet hitam di tengah suasana malam itu memang menjadi tanda berdirinya sebuah istana yang begitu megah dan indah. Tembok-temboknya berwarna kelabu kehitaman, dengan permukaan bergelombang yang terasa mulus jika disentuh. Tembok yang terbuat dari bongkahan batu besar-besar yang tersusun rapat dan kokoh satu di atas yang lainnya. Berdiri di sisinya dan menatap ke atas akan membuat setiap orang melihat, bukan hanya suatu istana yang tegar, namun juga sebentuk benteng yang kuat, yang menjadi saksi bisu dari perjalanan pasti sang waktu, yang menjadi saksi sintas dari penyerangan di masa-masa terdahulu.

... yang menjadi saksi sintas dari penyerangan di masa-masa terdahulu.

     Hanya dua hal yang tidak tertebak jika kita menilai segala apa yang ada di istana tersebut berdasarkan siluet yang ada. Pertama, siluet itu tidak menampakkan sebuah lapangan luas dan taman luas, masing-masing di bagian depan dan belakang istana tersebut. Hal ini karena bayangan-bayangan pepohonan, semak-semak, datarnya dataran berumput, serta datarnya dataran berbatu tersembunyi oleh tembok-tembok tinggi yang mengelilingi mereka semua. Kedua, siluet itu tidak menampakkan sebuah parit lebar yang layaknya ada mengelilingi istana-istana yang berjaya sejak masa lalu. Hal ini karena parit lebar tersebut berada lebih dalam daripada permukaan tanah, terlalu dalam untuk diseberangi tanpa berenang melaluinya, terlalu lebar sampai-sampai menguak bayangan istana dan langit di atasnya bagaikan cermin raksasa yang bergelombang kecil-kecil.

     Di lorong gelap istana, yang remang-remang oleh pencahayaan seperlunya di kala malam hari, terlihat beberapa orang berlalu-lalang. Para pengawal yang mendominasi orang-orang yang berlalu-lalang ini. Para pengawal yang bertanggung jawab menjaga keamanan istana ini dan segala isinya dari segala bentuk kejahatan. Entah pencurian, penculikan, bahkan pembunuhan. Ya, walaupun kejadian tersebut kemungkinan tidak akan sering-sering terjadi, namun tidak ada salahnya berjaga-jaga dan berwaspada dengan segala apa yang kita miliki dan segala sesuatu yang dapat kita lakukan, bukan?

Entah pencurian, penculikan, bahkan pembunuhan.

     Istana itu memiliki puluhan lorong di dalamnya, yang saling sambung-menyambungkan berbagai macam ruangan di kawasan istana tersebut. Salah satu dari sekian banyaknya lorong tersebut, bersisian dengan sebuah pintu menuju sebuah ruang yang cukup megah. Ruangan itu berhiaskan berbagai ornamen tembok yang indah yang dengan indahnya memainkan warna merah dan emas. Ruangan itu memiliki sebuah jendela kaca besar yang sekarang tengah tertutup oleh tirai lembut berwarna kekuningan. Di luar jendela kaca yang sedang menutup tersebut, terdapat sebuah teras yang menjorok keluar, ke arah lapangan istana yang berada di bagian depan. Oleh karena teras tersebut berada di bagian yang cukup tinggi, pemandangan yang dapat terlihat dari teras tersebut tidak terbatas oleh tembok tinggi istana yang mengelilingi seluruh penjuru istana. Cakrawalalah yang menjadi batas pemandangan yang dapat dilihat dari teras tersebut. Sebuah teras yang menawarkan pemandangan indah yang pantas disaksikan oleh sang Ratu, pemilik ruangan tersebut.

     Sang Ratu tengah tertidur di ruangan indah tersebut di ranjangnya yang tidak kalah indah dan megahnya daripada ruangan tersebut. Sebuah ranjang yang besar berbentuk persegi, dengan empat tiang tinggi berukiran, masing-masing di keempat penjuru sudutnya. Di keempat tiang tersebut, tergantung tirai tipis berwarna gading, menutupi ranjang di keempat sisinya, melindungi dengan sempurna. Sang Ratu tengah terlelap di ranjang dengan selimut tebal yang tampak nyaman, yang juga tampak mewah karena jahitan benang emas pada selimut tersebut.

... menutupi ranjang di keempat sisinya, melindungi dengan sempurna.

     Sang Ratu ternyata tidak sendirian di dalam ruangan tersebut. Ada seseorang lagi di dalamnya. Seseorang yang baru berusia dua tahun. Ya, bayi laki-laki itu adalah putra dari sang Ratu dan sang Raja. Sang Pangeran yang merupakan putra pertama Raja dan Ratu yang berbahagia, Sang Pangeran yang merupakan calon pengganti sang Raja pada masa mendatang. Sang Pangeran tengah tertidur di dalam sebuah ranjang kecil khusus bayi di sisi ranjang sang Ratu. Ranjang kecil itu dilapisi dinding tinggi empuk di keempat sisinya, yang menjaga sang bayi tanpa mengenal lelah. Di dalam ranjang tersebut, sang Pangeran tengah terlelap tanpa beban sedikit pun, dengan selimut lembut yang menghangatkannya. Setiap hal yang menyusun tempat peraduan si Pangeran mungil itu, baik ranjang, selimut, maupun dinding empuknya, semuanya tidak luput oleh hiasan berupa jahitan benang emas yang begitu indah.

     Tanpa disadari oleh siapapun, sekelebat bayangan hitam melewati lorong dengan senyap dan pasti. Bayangan itu layaknya telah mengenal seluruh lorong di istana ini dan tahu ke mana setiap lorong akan membawanya. Bayangan itu adalah milik sesosok laki-laki bertubuh besar, yang berjalan ke sebuah tujuan dengan pasti. Sosok manusia itu berjalan terus tanpa ragu, juga tanpa berpapasan dengan para pengawal yang sedang berjalan ke sana-kemari untuk berjaga malam. Saat sosok itu berjalan melewati bagian lorong yang diterangi cahaya lentera, tampak lebih jelas bahwa sosok itu mengenakan jubah berwarna hitam legam. Di tengah remang-remang cahaya lentera, tampak juga bekas luka sayat di kulit sosok tersebut, yang berawal dari depan daun telinga kirinya dan terus memanjang ke bawah melewati pipi, leher, dan masih memanjang terus sampai tersembunyi ke dalam jubahnya, entah bekas luka itu berakhir di mana.

... entah bekas luka itu berakhir di mana.

     Dan sekali lagi, sosok itu sedang berjalan menuju ke sebuah tujuan dengan pasti. Sosok itu tiba-tiba berhenti di depan sebuah pintu. Saat itu tidak ada siapapun yang sedang berjalan melewati lorong di mana pintu itu berada. Sosok itu segera membuka pintu dengan perlahan, berusaha tidak membuat keributan sedikit pun. Dia segera masuk dan menutup kembali pintu, juga dengan hati-hati. Ternyata sosok itu tiba di ruangan di mana sang Ratu dan sang Pangeran kecil berada.

     Sosok itu kemudian berjalan setenang mungkin, mendekati ranjang sang Pangeran. Sosok itu melihat ke dalam ranjang tersebut dan tersenyum melihat sang Pangeran yang tengah tertidur pulas, tanpa tahu akan masa depan, tanpa tahu akan setiap hal yang berikutnya mungkin terjadi. Sosok laki-laki itu kemudian mengeluarkan pedang yang dibawanya sepelan mungkin, agar tidak menimbulkan suara ngilu beradunya logam yang dapat membangunkan siapapun…

- bersambung -

Saturday, November 12, 2016

Kenal

... Jika seseorang yang tak kita kenali sekarang mungkin menjadi seseorang yang nantinya berurusan dengan kita di masa mendatang, mengapa harus memilih-milih orang dalam berbuat kebaikan? ...

O_O

     Hari itu adalah sebuah hari yang cerah. Hari yang cocok sekali untuk melakukan aktivitas di luar rumah. Entah berolah raga, berkebun, atau berjalan-jalan menuju ke berbagai tempat rekreasi. Semuanya sepertinya menyenangkan jika dilakukan di hari nan cerah ini. Melihat berkas sinar matahari yang begitu bercahaya dan menghangatkan, semangat di dalam diri pun terasa ikut berkobar, layaknya tidak ada yang dapat menghentikan diri kita untuk mencoba segala sesuatu pun. Layaknya kita memiliki segala waktu di seluruh dunia untuk digunakan sebebas-bebasnya, layaknya kita memiliki kekuatan tak terkira untuk mengerjakan ribuan hal dari yang biasa-biasa sampai yang luar biasa.

     Aku pun demikian. Akan tetapi aku tidak pusing-pusing memikirkan apa yang perlu kulakukan di hari yang cerah itu. Sudah ada sebuah acara yang terjadwal di agendaku hari itu. Aku akan pergi mengunjungi pernikahan seorang teman lama. Seorang teman dari masa-masa sekolah menengah atas. Seorang teman yang penuh semangat, penuh canda, dan penuh keakraban. 

     Namun, layaknya hari itu mempengaruhi semangat dalam diriku untuk tidak malu-malu muncul keluar, hari itu ternyata juga mempengaruhi semangat dalam diri orang tua dan adik-adikku untuk tidak segan-segan muncul keluar. Orang tuaku dan adik-adikku ternyata juga telah memiliki acara di agenda mereka masing-masing. Orang tuaku dan adikku yang pertama akan pergi menuju ke acara pertungangan salah satu anak perempuan sepupu ibuku, sementara adikku yang kedua akan pergi menuju ke sebuah festival color run bersama teman-temannya.

Orang tuaku dan adik-adikku ternyata juga telah memiliki acara di agenda mereka masing-masing.

     Oleh karena kedua acara tersebut dijadwalkan untuk berlangsung pada siang hari, sementara acara pernikahan temanku itu akan berlangsung pada sore harinya, maka jadilah aku saat ini berada di rumah sendirian. Aku menjaga rumah sendirian karena orang tuaku dan kedua adikku telah terlebih dahulu pergi menuju ke acara mereka masing-masing. Akan tetapi, walaupun aku berada sendirian di dalam rumah saat itu, api semangat dari dalam diriku tidak meredup sedikit pun.

     Saat berada sendirian di rumah atau di tempat apapun, biasanya beberapa hal dapat terjadi. Pertama, ada kemungkinan kita menjadi tidak bersemangat dan bingung harus melakukan apa. Biasanya hal ini terjadi saat kita sedang memiliki perasaan negatif dalam hati kita, dan mengakibatkan kita akan melamun atau berdiam diri atau bahkan menangis sendirian. Kedua, ada kemungkinan kita merasa lelah dan mengantuk. Hal ini cenderung terjadi saat kita telah melewati hari-hari sibuk atau saat-saat di mana kita baru saja melakukan banyak aktivitas, dan pada akhirnya kebanyakan dari kita akan memutuskan tidur untuk menghabiskan waktu. Ketiga, ada kemungkinan kita terpikir untuk mencoba melakukan sesuatu, apapun itu. Kemungkinan ini banyak terjadi bila kita memiliki perasaan positif dalam hati kita, dan mengakibatkan kita akan mencari-cari banyak hal untuk dikerjakan maupun dicoba. Kemungkinan ketiga inilah yang terjadi padaku hari itu.

Kemungkinan ketiga inilah yang terjadi padaku hari itu.

     Aku mencoba menghabiskan waktu sampai dengan sore hari dengan melakukan beberapa hal. Pertama, aku mencoba membuat pot kecil baru untuk tanaman kaktus mini milikku, karena pot lamanya terlihat sudah retak di beberapa bagian. Aku membuat pot kecil ini dari toples plastik bening bekas kue-kue milik ibuku. Aku melubangi bagian dasarnya dengan bor, agar berlubang-lubang seperti pot pada umumnya, supaya tanahnya nanti tidak terlalu lembap jika disiram. Tidak lupa juga aku mengolah tanah dari taman di bagian depan rumahku dengan membasahinya, menggemburkannya, dan mencampurkannya dengan sedikit dedaunan kering, agar tanah itu menjadi tanah baik yang siap ditanami. Kemudian, aku mengisi pot kecilku dengan tanah tersebut, tidak sampai penuh, namun membentuk cekungan di bagian tengahnya. Aku lalu meletakkan kaktus miniku di cekungan tersebut sambil terus menutupi bagian dasar kaktus mini tersebut dengan tanah. Begitulah aku terus mengisikan tanah ke dalam pot kecil buatanku itu sampai akhirnya pot kecil tersebut penuh.

     Setelah selesai membuat pot kecil tersebut, aku bermain-main dengan kelinciku yang berwarna putih bersih. Kelinciku itu dulu, seingatku berukuran kecil, namun sekarang terlihat begitu besar. Aku mengelus-elus kelinciku itu, aku mengangkat dan menggendongnya, serta aku juga memberinya beberapa makanan kesukaannya. Wortel, mentimun, dan kangkung.

Wortel, mentimun, dan kangkung.

     Seselesainya aku bermain dengan kelinciku, aku mengembalikannya ke bagian belakang rumah, tempat kelinciku itu bermain-main dengan bebas. Kemudian, aku memainkan permainan di smartphone milikku dan membaca buku yang tengah kubaca. Kulakukan kedua hal tersebut secara bergantian untuk menghindari kejenuhan karena melakukan sesuatu secara terus-menerus tanpa henti.

     Benar apa yang dikatakan orang-orang, bahwa waktu terasa berjalan begitu cepat jika kita mengisi hari kita dengan melakukan berbagai kesibukan. Tidak terasa, saat aku tengah membaca buku dan melirik ke arah jam dinding, waktu telah menunjukkan pukul empat sore. Ya, aku harus bersiap-siap untuk pergi menuju ke acara pernikahan temanku.

     Aku bersiap-siap, dan aku juga tidak lupa memeriksa berbagai-bagai hal di dalam rumahku yang akan kutinggalkan kosong tersebut. Aku memeriksa kompor, memeriksa peralatan-peralatan listrik, memeriksa kelinci peliharaanku dan memberinya makan, serta memeriksa pintu-pintu dan jendela-jendela. Tidak lupa juga aku menyalakan lampu di bagian depan rumah, agar rumah tidak terlalu gelap pada sore dan malam hari. Serta, agar keluargaku atau diriku, siapapun yang terlebih dahulu pulang nanti pada saat hari gelap, dapat melihat dengan baik. Aku pun pergi.

Aku pun pergi.

     Setibanya aku di tempat resepsi pernikahan temanku itu, seperti yang dapat ditebak oleh siapapun, suasananya begitu ramai oleh orang-orang dengan pakaian pesta. Aku tiba-tiba melihat pemandangan yang membuatku terkejut. Di kejauhan, aku melihat seorang temanku yang lain. Seorang teman dari masa kuliahku dulu. Dia mengenakan jas, dan bros kembang berwarna putih tersemat di sisi kanan jasnya. Bros itu, kuyakin dengan pasti, menunjukkan bahwa dia adalah anggota keluarga dari mempelai yang menikah. Tapi bagaimana mungkin? Apa hubungan teman kuliahku ini dengan mempelai yang menikah?

     Aku memberanikan diri menyapa teman kuliahku itu dan berbincang dengannya. Perbincangan kami membuatku pada akhirnya mengetahui, bahwa ternyata teman kuliahku itu adalah adik dari si mempelai perempuan. Ternyata begitu… Si mempelai pria adalah teman semasa sekolah menengah atasku, sementara si mempelai perempuan adalah kakak dari teman kuliahku.

     Seselesainya acara resepsi pernikahan itu, aku pulang. Di rumah, ternyata keluargaku telah tiba terlebih dahulu. Aku, setelah selesai membersihkan diri dan memakai pakaian tidur, bergabung dengan keluargaku dan kami saling bercerita tentang acara kami masing-masing. Adikku yang kedua menceritakan kisahnya terlebih dahulu di acara festival color run yang diikutinya, kemudian aku menceritakan kisahku. Aku menceritakan meriahnya suasana di resepsi pernikahan, menceritakan dekorasi tempat resepsi pernikahan, menceritakan si mempelai pria yang adalah teman sekolah menengah atasku, dan juga menceritakan keterkejutanku bahwa ternyata teman kuliahku dulu adalah adik dari si mempelai perempuan. Tapi ternyata keterkejutanku tidak berhenti di sana…

Tapi ternyata keterkejutanku tidak berhenti di sana…

     Saat kedua orang tuaku bercerita tentang acara pertunangan yang mereka hadiri dan memperlihatkan foto-fotonya padaku, tanpa sengaja aku melihat seseorang yang kukenal. Aku mencoba meyakinkan diriku, untuk mencegah diriku keliru mengenali. Akan tetapi sungguh, aku mengenal seorang perempuan di foto itu. Perempuan itu adalah teman gerejaku. Aku kemudian bertanya pada orang tuaku tentang siapakah perempuan di foto itu. Ternyata, perempuan di foto itu, teman gerejaku itu, adalah adik dari pihak pria yang bertunangan. Jadi begitu… Si pihak perempuan yang bertunangan adalah anak dari sepupu ibuku, sementara si pihak pria yang bertunangan adalah kakak dari teman gerejaku.

     Baru sekarang kualami sendiri pepatah yang mengatakan bahwa ‘dunia itu sempit…’ Tapi, jika menarik kesimpulan lebih jauh, ada baiknya kita menjalin hubungan baik dengan sebanyak mungkin orang yang ada di sekitar kita, karena bisa saja suatu saat nanti di masa depan, kita akan berurusan dengan mereka… Karena bisa saja suatu saat nanti di masa depan, kita akan berhubungan dengan mereka… Karena sekali lagi… Dunia itu sempit...

^_^

Friday, November 4, 2016

Orang Samaria yang Murah Hati

... “Dan siapakah sesamaku manusia?” - Pernahkah kita membenci seseorang bukan karena apa yang dia perbuat dan putuskan secara bebas, tapi karena latar belakang dan masa lalunya yang tidak dapat diubahnya? - ...

O_O

     “Hahaha, mimpi saja terus…” Seorang temanku berkata pada temanku yang lain. Temanku yang pertama kemudian melanjutkan perkataannya, “Memang kamu pikir mudah menjadi seorang imam? Aturan ini itu, tanggung jawab ini itu. Dan kalaupun kamu bisa menyanggupi itu semua, jalan menjadi imam tetap tertutup untukmu, Kawan. Imam harus berasal dari suku Lewi, bahkan tidak semua orang dari suku Lewi berhak, hanya keturunan Harun saja yang berhak… Hahaha…”

     Dan memang begitulah kenyataannya. Sejenak tadi, temanku yang kedua berangan-angan dan membayangkan kalau-kalau dia dapat menjadi seorang imam, jabatan yang sangat tinggi dan dihormati, sekaligus disegani dan ditakuti di bangsa kami. Bagaimana tidak? Menjadi imam berarti menjadi wakil bangsa di hadapan Tuhan dan menjadi perantara antara Tuhan dengan bangsa kami. Sejarah bahkan mencatat nama-nama imam yang harus menanggung kemarahan Tuhan karena tidak melakukan beberapa hal sebagaimana mestinya, seperti yang sudah diperintahkan oleh Tuhan sendiri. Mereka mati, tanpa kesempatan meminta maaf dan menyesali kesalahan mereka. Misalnya, hampir pasti tidak ada yang tidak mengetahui kisah kengerian amarah Tuhan pada Nadab dan Abihu, yang lalai dalam jabatan mereka sebagai imam. Tuhan sungguh-sungguh tidak bermain-main dengan jabatan imam…

     Oleh karena lamunan temanku yang kedua itulah, temanku yang pertama mengucapkan kata-kata ejekan tadi. Berbeda dengan temanku yang kedua, temanku yang pertama berasal dari suku Lewi, sehingga secara aturan, dia berhak bekerja di rumah Tuhan, suatu saat nanti di masa depan yang entah kapan. Akan tetapi, kami sama-sama tahu bahwa dia juga tidak dapat menjadi imam, karena dia tidak berasal dari keturunan Harun. Dan begitulah kami semua tertawa bersama-sama karena imajinasi kosong temanku yang kedua itu. Kami tertawa saat kami tengah berbincang-bincang pada siang hari yang cerah itu, aku bersama dengan teman-temanku.

Berbeda dengan temanku yang kedua, temanku yang pertama berasal dari suku ...

     Dan seperti biasanya, kala hari siang, kami mendapat kesempatan untuk berhenti berbincang-bincang sejenak dan memperhatikan tingkah polah seseorang. Seseorang yang menarik di mata kami, bukan karena hal-hal positif, tapi karena hal-hal negatif. Hal-hal negatif yang kotor dan mengesalkan. Orang itu adalah orang Samaria, kumpulan orang yang pada masa lalu pergi memisahkan diri dari nenek moyang kami dan berbaur dengan bangsa lain. Mereka tidak hanya melakukan kawin campur dengan bangsa asing itu, namun mereka juga ikut menyembah dewa-dewi bangsa asing tersebut. Kami, sebagai orang Yahudi, tidak akan pernah bisa menerima pengkhianatan seperti itu. Pengkhianatan yang bukan hanya pada orang Yahudi, tapi terlebih, juga pada Tuhan yang dulu pernah kami semua sembah bersama-sama. Mata kami memandang mereka dengan tidak hormat, begitu menjijikkan, kafir, dan sesat…

     Kami saat itu tengah berbincang-bincang di tepi sebuah jalan yang dibuat meninggi, sehingga kami bisa melihat orang-orang yang berjalan di jalan di bawah kami. Di jalan di bawah kami itulah kami melihat orang Samaria itu lewat sambil menundukkan kepalanya. Ya, tentu saja engkau HARUS menundukkan kepala saat lewat di kota orang Yahudi ini, dasar orang rendahan… Orang Samaria itu sering lewat di jalan di bawah kami ini pada siang hari, ya kira-kira pada saat-saat seperti inilah, entah apa yang dikerjakannya. Dia melangkah dengan pelan dan hati-hati, layaknya sedang menyembunyikan dirinya. Sepertinya dia merasa malu, dan memang itulah yang HARUS dia rasakan saat ini, di tempat ini…

     Setelah kami memperhatikan orang Samaria itu, seperti biasanya, kami memberi pelajaran pada orang Samaria itu. Kami melemparkan batu-batu kecil padanya, atau buah-buahan kecil, atau terkadang gumpalan tanah. Dan seperti biasanya juga, dia hanya memberikan tatapan keras pada kami, tanpa bisa melakukan apa-apa. Ya, rasakan itu orang kurang ajar! Kau memang pantas dilempari dengan apapun dan kau tidak berhak membela diri dengan alasan apapun! Orang Samaria itu kemudian terus berjalan menjauh dari kami. Beberapa orang di sekitarnya sempat menyadari apa yang kami perbuat, tapi mereka hanya bungkam. Mereka layaknya sudah terdoktrin oleh paham bahwa orang Samaria adalah orang jahat semuanya, yang tidak pantas ditolong.

Beberapa orang di sekitarnya sempat menyadari apa yang kami perbuat, tapi mereka hanya bungkam.

     Beberapa waktu berlalu dan hari sudah menjelang sore. Aku dan teman-temanku memutuskan untuk beranjak dari tempat kami di tepi jalan. Memang sangat cepat dan menyenangkan jika kita menghabiskan waktu bersama teman-teman terdekat kita. Teman-teman terbaik, begitulah aku menganggap mereka semuanya. Kami menelusuri jalan yang masih cukup ramai itu dan mendekati pasar, sampai tiba-tiba sebuah suara mengagetkan kami. “HIIIEEEKKK!!!... HIIIEEEKKK!!!...” Itulah suara yang mengagetkan kami. Suara seekor kuda yang mengamuk. Lalu suasana bertambah kacau saat kami melihat orang-orang berlari mendekat ke arah kami.

     Orang-orang itu berteriak ketakutan dan terlihat sedang melarikan diri dari sesuatu. Otakku langsung menghubungkan berbagai keadaan ini dan menyimpulkan sesuatu. Sepertinya seekor kuda tengah lepas kendali dan mengamuk di pasar ini, dan kuda itu sedang berlari ke arah kami, ke arahku. Dan pemikiranku langsung terbukti beberapa detik kemudian. Aku melihat seekor kuda hitam yang begitu besar sedang berlari ke arahku. Aku segera menyadari bahwa teman-temanku sudah melarikan diri, sehingga aku ikut lari menghindar. Akan tetapi, aku sangat sial saat itu. Aku tertabrak oleh orang-orang dan terjerembap di atas tanah. Kakiku bahkan terkilir. Aku melihat orang-orang berlari meninggalkanku, bahkan teman-temanku berlari meninggalkanku.

     Aku melihat sosok kuda hitam besar itu berderap pasti ke arahku. Aku berteriak minta tolong, namun aku hanya melihat wajah-wajah ngeri orang di sekelilingku, termasuk wajah teman-temanku. Tidak seorang pun yang berani mendekatiku dan menolongku. Saat sosok kuda hitam besar itu telah hampir berada di sisiku, aku berbaring menyamping dan meringkuk ketakutan, berusaha melindungi diri. Tuhan, tolong aku… Hanya itu yang bisa aku katakan. Dan… Kuda hitam besar itu… Melompatiku…

Dan… Kuda hitam besar itu… Melompatiku…

     Aku bernapas lega karena kuda hitam besar itu tidak menginjak-injak diriku. Aku pasti terluka parah jika terinjak oleh makhluk marah sebesar itu. Namun… Aku sadar mimpi burukku belum berakhir… Kuda hitam itu secara tiba-tiba berbalik arah, menatap ke arahku, dan berderap mendekatiku dengan pasti… Aku kembali meringkuk ketakutan dan menyaksikan kuda hitam besar itu berdiri diam di sisiku. Kuda hitam ini ternyata jauh lebih besar daripada yang kubayangkan. Tapi hanya sejauh itu yang dapat aku pikirkan, karena pada detik berikutnya, kuda hitam besar itu mulai menginjak-injak diriku!!!

     Kuda hitam besar itu mengangkat kakinya dan menurunkannya, berulang-ulang di atas tubuhku. Aku hanya dapat berguling-guling secara acak untuk menghindar sambil menahan rasa sakit tak tertahankan. Aku hanya dapat memohon agar ini semua segera berakhir sambil berharap ada yang berusaha menolongku. Tapi aku sadar bahwa waktu berlalu sangat lambat tanpa ada yang berani menyelamatkanku, termasuk teman-teman dekatku, teman-teman baikku. Saat itu aku benar-benar menangis dan berteriak, “TUHAN!!! TOLONGLAH AKU!!!”

     Aku tidak begitu mengetahui apa yang terjadi berikutnya, namun yang jelas, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Aku melihat sekilas sesosok tubuh manusia berlari mendekati kuda hitam besar itu dari samping. Sosok itu berlari cepat dan dengan sengaja menabrakkan tubuhnya ke sisi kuda hitam besar itu, berusaha membuat kuda itu kaget dan berhenti menginjak-injak diriku. Kuda itu bergeser ke samping karena dorongan sosok itu, kemudian menatap ke arah diriku dan sosok itu. Kuda itu meringkik sambil mengangkat kedua kakinya, terlihat mengancam, namun sosok itu tidak meninggalkanku sambil terus melangkah lincah dan berwaspada. Kuda hitam besar itu terlihat mencari celah untuk menyerang, namun gerakan lincah sosok tersebut membuatnya ragu.

... berusaha membuat kuda itu kaget dan berhenti menginjak-injak diriku.

     Beberapa saat kemudian, beberapa orang terlihat melemparkan tali dan jerat pada kuda hitam besar tersebut, berusaha melumpuhkannya. Sosok itu selama beberapa saat menatap ke arah kuda tersebut, seperti sedang berjaga-jaga kalau-kalau kuda hitam besar itu berontak melepaskan diri. Barulah setelah kuda itu berhasil ditenangkan, sosok itu berpaling ke arah diriku dan dengan terampil memeriksa diriku yang sedang kesakitan. Untuk pertama kalinya aku mengetahui siapa sosok yang dengan berani itu berusaha menolongku. Dia adalah sosok orang Samaria yang senantiasa kuganggu bersama dengan teman-temanku. Dia adalah sosok orang Samaria yang selalu kuumpat tanpa ragu-ragu bersama dengan teman-temanku. Dan sekarang dia berada begitu dekat denganku, menolongku, saat bahkan teman-teman dekatku tidak menolongku.

     Aku merasa hatiku ingin meledak. Meledak karena kemarahan, rasa malu, kesedihan, dan rasa kecewa bercampur aduk di dalam situ. Marah karena teman-teman baikku ternyata tidak seberani orang Samaria ini. Malu karena orang Samaria ini adalah orang Samaria yang selalu kuganggu, Sedih karena orang Samaria ini tentunya mengingat diriku dan perlakuanku padanya selama ini. Serta kecewa karena pikiranku pada teman-temanku dan orang Samaria ini seolah-olah dibuktikan keliru, salah, terbalik. Saat orang Samaria ini melihat kakiku yang terkilir, aku sudah tidak dapat menerima keadaan ini. Orang-orang Yahudi lainnya melihat diriku dan orang Samaria ini dengan enggan. Bahkan teman-temanku memperlihatkan tatapan enggan yang sama, yang begitu menyakitkanku. Aku memaksakan diriku berdiri dan berlari. Aku menangis karena kakiku kesakitan. Tapi aku terlebih menangis karena tatapan orang-orang Yahudi, termasuk teman-temanku, padaku. Aku terlebih menangis karena pemahamanku bagaikan dijungkirbalikkan semuanya. Aku orang Yahudi!!! Tapi kenapa orang Yahudi yang adalah sesamaku justru pergi meninggalkanku?!!! Kenapa orang Samaria yang hina itu justru datang mendekatiku?!!! KENAPA TUHAN?!!!

     Kesakitan kembali mengambil alih semua yang kurasakan. Aku terpaksa berhenti berlari dan bersandar di sisi tembok sebuah bangunan, di bawah sebuah jendela yang terbuka. Entah bangunan apa itu, aku tidak peduli, aku hanya ingin sejenak beristirahat dari semua rasa sakit yang kualami. Aku memejamkan mata dan diam sejenak. Aku merasakan kakiku yang terkilir berdenyut dan membuatku merasa ngilu. Aku terus terpejam dan mendengar dua buah suara dari jendela di atasku. Suara yang pertama terdengar biasa-biasa saja. Akan tetapi suara yang kedua terdengar unik. Suara yang kedua terdengar begitu dalam dan menenangkan. Suara yang kedua terdengar begitu menyenangkan dan akrab.

Aku memejamkan mata dan diam sejenak.

     Dari pembicaraan mereka, sepertinya kedua orang ini sedang membahas tentang hal keagamaan, sesuatu yang sebenarnya kurang menarik bagiku. Akan tetapi saat itu, pembicaraan mereka justru sangat menarik bagiku. Aku mendengar suara pertama berkata, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Kemudian aku mendengar suara kedua menjawab dengan pertanyaan, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Hmmm, jawaban yang bagus menurutku, karena memang hukum Taurat adalah hukum utama orang Yahudi. Tentu saja jawaban-jawaban tentang hal-hal keagamaan harus berakar dari sana.

     Suara yang pertama menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Ya! Lagi-lagi jawaban yang sangat bagus! Aku kemudian mendengar suara kedua terdengar setuju dengan jawaban ini, “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”

     Tapi pembicaraan ini tidak berhenti di sana. Suara pertama bertanya, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Suara kedua menjawab dengan sebuah cerita yang seolah-olah ditujukan khusus untuk diriku, padahal diriku tidak ada hubungannya dengan pembicaraan mereka berdua sama sekali, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.” Baiklah, kota Yerusalem dan kota Yerikho kurang lebih berjarak delapan belas kilometer jauhnya dan terkenal berbahaya bagi pejalan kaki. Perampokan dan pembunuhan sering sekali terjadi di sana karena keadaannya yang sepi. Sampai-sampai jalan itu dijuluki ‘Jalan Berdarah’. Lalu apa yang terjadi setelah itu?

... ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, ...

     Suara yang kedua melanjutkan, “Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.” Hah!!! Jadi imam dan orang Lewi meninggalkan orang itu tanpa memberi pertolongan? Memang imam dan orang Lewi bisa setega itu? Bukankah mereka adalah orang yang paling dekat hubungannya dan urusannya dengan Tuhan? Lalu bagaimana kelanjutannya?

     Suara kedua melanjutkan kisahnya dan aku merasa kaget, “Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.” Tuhan?! Kenapa orang Samaria itu tidak hanya menolongnya, tapi juga merawat dan menjaminnya?! Lalu, dua dinar itu upah bekerja penuh selama dua hari, loh?! Kenapa cerita ini harus tentang orang Samaria sih?! Apa yang sebenarnya mau Engkau katakan padaku, Tuhan?

     Suara kedua mengakhiri kisahnya dengan berkata, “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Orang pertama menjawab pertanyaan itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Ya, dengan kata lain, orang Samarialah yang merupakan sesama dari si korban perampokan itu…

“Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah ...

     Aku tidak dapat menahan air mataku dan aku menangis… Aku selama ini begitu memusuhi orang Samaria yang baru saja menolongku, namun karena apa? Orang Samaria itu tidak pernah berbuat jahat padaku. Orang Samaria itu tidak pernah berbuat jahat pada orang-orang yang kukenal. Mungkin benar bahwa nenek moyang mereka telah mengkhianati nenek moyang kami dan Tuhan, tapi orang Samaria yang selama ini kuganggu tanpa kenal sopan santun itu mungkin berusaha berubah dan mencoba menebus kesalahan nenek moyang mereka. Orang Samaria itu tidak memilih untuk dilahirkan menjadi seorang Samaria, tapi Tuhan mengizinkan dia lahir sebagai seorang Samaria. Orang Samaria itu tidak bisa mengubah masa lalunya, asal-usulnya. Pilihan adalah hakku, untuk menerimanya ataupun menolaknya. Tuhan, maafkan aku yang memiliki rasa dengki dalam hatiku… Maafkan aku yang membeda-bedakan orang yang semuanya merupakan ciptaan-Mu… Maafkan aku yang tidak sadar bahwa semua orang adalah sesamaku manusia…

     Sebuah semangat kemudian mendorong diriku untuk mengintip ke dalam ruangan lewat jendela di atasku. Aku ingin tahu siapa yang sedang berbincang-bincang. Aku mengintip dan kaget akan apa yang kulihat. Seseorang berwajah ramah ternyata baru saja menoleh padaku, menatap ke dalam mataku, seolah-olah tahu bahwa aku akan mengintip. Dia tersenyum dan membuatku merasa seperti buku yang terbuka, tidak ada satupun isi hati dan pikiranku yang kurasa dapat tersembunyi dari tatapan lembut itu. Aku menarik napas dan merasa begitu lega. Aku kemudian berkata dalam hatiku, “Tuhan, berilah aku pengertian bahwa orang Samaria itu juga adalah sesamaku manusia… Berilah juga aku keberanian untuk meminta maaf pada orang Samaria yang selama ini kuganggu itu…” Orang yang menatapku itu ternyata merupakan pemilik suara kedua. Dia, dan bukan orang lainlah, pemilik suara kedua itu. Dia membuktikan hal itu saat berkata, masih sambil menatapku, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

^_^

Friday, October 28, 2016

Tidak Mau Pindah

... Mengapa kita khawatir dan takut? Karena sesuatu yang nyata atau tidak? ...

O_O

     “Pokoknya aku nggak mau pindah... Huhuhu...” Itulah kata-kata ibuku yang tengah bercerita sambil menangis pada teman dekatnya. Sebenarnya aku juga sudah kerasan tinggal di rumah yang seumur hidup telah kutinggali ini. Hanya saja, satu dan lain hal membuat aku, kakakku, dan kedua orang tuaku harus pindah ke tempat lain. Kira-kira singkatnya, rumah yang saat ini kutinggali adalah rumah milik almarhum kakekku, dan kakekku memiliki tiga orang anak, sehingga sepeninggal kakekku, rumah tersebut diputuskan untuk dijual. Kemudian, beberapa minggu yang lalu, ada seseorang yang tertarik pada rumahku dan mencoba menawar harganya. Ternyata, setelah orang tuaku dan kedua anak kakekku yang lain berdiskusi, disetujuilah keputusan untuk menerima penawaran harga yang diajukan. Jadilah akhirnya, aku sekeluarga harus merapikan perabotan milik kami, sambil mencari-cari rumah baru, sambil mempersiapkan diri untuk pindah.

     Rumah lama kami itu tidak terlalu megah dan tidak terlalu mewah, akan tetapi karena rumah itu adalah rumah tua yang telah lama berdiri, rumah itu memiliki struktur yang kuat serta ukuran yang cukup luas, layaknya rumah-rumah tua jika dibandingkan dengan rumah-rumah yang dibangun di masa kini. Ya, mungkin pada masa lalu, orang-orang lebih memikirkan kualitas bangunan daripada kuantitasnya, sebab pada masa lalu pembangunan tidak sepesat sekarang. Sekarang, orang-orang lebih memikirkan kuantitas bangunan daripada kualitas, sebab lebih banyak bangunan yang harus dibangun pada masa kini untuk menampung jumlah orang yang semakin dan semakin banyak. Kemungkinan besar, inilah salah satu penyebab banyaknya kasus bangunan tidak layak pakai dan tidak layak huni di kota-kota besar. Berbahaya...

     Mengenai kepindahan ini, kami sekeluarga melakukan banyak upaya untuk mencari rumah-rumah baru yang terjangkau oleh keadaan ekonomi kami. Kami bertanya pada kenalan-kenalan kami, kami mencari-cari lewat jaringan internet, kami mencari-cari di antara kolom-kolom iklan koran, dan kami pun menajamkan mata kami untuk mencari papan bertuliskan ‘DIJUAL’ yang tertempel pada rumah-rumah yang kami temui setiap kali kami melakukan perjalanan.

... untuk mencari papan bertuliskan ‘DIJUAL’ yang tertempel pada ...

     Setelah beberapa hari, kami sekeluarga menemukan beberapa rumah yang menarik perhatian kami. Kami mencatat nomor telepon narahubung yang tercantum pada rumah-rumah yang menarik perhatian kami itu, kemudian mencoba menghubungi mereka untuk mencari-cari informasi tentang harga, luas, status kepemilikan, kelengkapan surat-surat administratif, keadaan rumah, keadaan lingkungan sekitar rumah, dan berbagai hal lainnya. Berbagai informasi ini membantu pilihan kami mengerucut pada beberapa rumah. Kami menghilangkan rumah-rumah yang surat-surat administratifnya tidak lengkap, rumah yang terkena banjir, rumah yang terlalu mahal, dan rumah yang lingkungan sekitarnya tidak membuat kami kerasan.

     Kami sekeluarga akhirnya menemukan sebuah rumah yang cocok dengan kriteria yang kami sendiri tentukan. Sebuah rumah yang terletak di sisi sebuah jalan yang tidak terlalu sibuk, namun jalan tersebut cukup lebar untuk dilalui oleh sepasang kendaraan roda empat. Sebuah rumah yang tidak terlalu luas, namun memiliki dua lantai yang fungsional. Sebuah rumah yang tidak terlalu mewah, namun cukup untuk kami sekeluarga beraktivitas dan beristirahat. Sebuah rumah yang tidak terlalu megah, dan harganya cukup terjangkau.

     Seharusnya, segala sesuatu berjalan lancar sampai waktu kami harus pindah nanti. Akan tetapi, ada sebuah masalah yang muncul. Satu per satu kabar-kabar dan berita-berita buruk terdengar oleh kami sekeluarga, dan ibuku adalah orang yang paling terpengaruh oleh kabar-kabar tersebut. Pertama-tama, kami mendengar bahwa tidak jauh dari lokasi rumah baru kami itu, terjadi sebuah perampokan. Penindakan atas upaya perampokan ini disiarkan lewat acara berita di beberapa stasiun televisi, sehingga kami sekeluarga mengetahuinya. Berita ini membuat ibuku merasa tidak tenang dan tidak senang pada rumah baru kami itu.

Satu per satu kabar-kabar dan berita-berita buruk terdengar oleh ...

     Berikutnya, proses pengurusan surat-surat rumah baru kami itu memakan waktu yang sangat lama dan terkesan sangat bertele-tele. Entah memang ini adalah masalah nyata yang sungguh-sungguh ada, ataukah karena beberapa orang yang kurang tanggap dan kurang serius dalam pekerjaannya. Namun apapun alasannya, hal ini membuat ibuku benar-benar merasakan aura negatif pada rumah baru kami itu.

     Ketidaktenangan ibuku akhirnya terus berlanjut dan menyebabkan beliau sering terlihat melamun dan depresi. Ibuku terlihat tidak bersemangat dalam kesehariannya, bahkan pernah sampai jatuh sakit. Padahal, saat Ayah mengantarkan Ibu untuk memeriksakan diri ke dokter, dokter tidak menemukan penyakit apapun pada Ibu. Aku kemudian berkesimpulan bahwa pikiran-pikiran negatif ibukulah yang menyebabkan keadaan fisiknya melemah dan terus menurun. Berbahaya...

     Beberapa kali bahkan Ayah dan Ibu bertengkar soal rumah baru kami itu. Ibu berkeras tidak mau pindah ke sana. Namun Ayah menganggap bahwa ketakutan dan kekhawatiran ibuku itu tidak masuk akal, karena Ayah menganggap bahwa rumah baru kami itu memiliki keadaan yang sangat baik sebagai rumah tinggal. Aku dan kakakku hanya dapat bersabar saat melihat mereka bertengkar, sambil berkata-kata untuk menenangkan ibuku, mencoba meyakinkan Ibu bahwa segala ketakutan dan kekhawatiran beliau hanyalah semu. Ya, memang menurut penilaianku dan kakakku, rumah baru kami itu cukup baik dan layak huni, sehingga kami berdua mendukung pendirian Ayah sambil memberi pengertian pada Ibu.

... rumah baru kami itu ...

     Itulah yang menjadi latar belakang awal kisah ini. Mendengar kabar ibuku yang sedang tidak enak badan, banyak temannya dan sanak saudara kami yang datang mengunjungi Ibu. Ibu sering menangis saat bercerita bahwa beliau sangat tidak ingin pindah ke rumah baru kami itu.

-------ooo-------

     Lalu, saat yang bersejarah bagi kami sekeluarga pun tiba. Kami pindah dari rumah lama kami, tempat aku dan kakakku tinggal sejak kami berdua lahir, menuju ke rumah baru kami. Selama proses pindahan ini, aku dan kakakku bergantian meyakinkan Ibu dan menghibur Ibu, sementara Ayah memilih untuk berdiam diri karena beliau harus berfokus pada proses pindahan yang tidaklah sederhana. Ada barang-barang yang harus diawasi, kendaraan-kendaraan sewaan yang harus diawasi, dan tukang-tukang yang harus diawasi.

     Pada beberapa hari pertama kami tinggal di sana, tidak ada masalah apa-apa, dan kami berusaha terus meyakinkan Ibu bahwa rumah baru kami ini adalah rumah yang sangat baik untuk ditinggali. Beberapa hari kemudian, keadaan Ibu semakin baik dan semangatnya kembali terasa menjalar di atmosfer rumah kami yang sederhana itu. Dan beberapa hari kemudian, Ibu sudah bagaikan lupa pada ketakutan dan kekhawatirannya. Beliau tersenyum, tertawa, bahkan berat badannya naik hingga lima kilogram karena nafsu makannya yang bertambah.

Dan beberapa hari kemudian, Ibu sudah bagaikan ...

     Hmmm, mungkin beberapa dari kita bisa belajar dari pengalaman ini. Mungkin kita terlalu takut dan khawatir pada beberapa hal yang belum terjadi, sampai akhirnya ketakutan dan kekhawatiran itu menjebak kita, mencengkeram kita, sehingga kita menjadi lemah, negatif, bahkan tidak dapat melakukan apa-apa...

^_^

Friday, October 21, 2016

Buku Besar dan Api Mungil : (3/3) Kasih Membawa Keadilan

... Pengorbanan yang paling berharga, yang dapat diberikan oleh seseorang pada orang lain, adalah waktunya, tenaganya, hidupnya sendiri ...


     Si Buku Besar bangkit dengan susah payah dan kesakitan setelah ditendang oleh si Buku Hitam. Dia kembali mendekati si Api Mungil dengan tertatih-tatih, lalu berusaha menarik rantai pengikat si Api Mungil dari tangan si Buku Hitam. Si Buku Hitam tidak tinggal diam. Dia membuka halaman-halamannya dan mengeluarkan duri-duri tajam untuk menghantam dan menusuk si Buku Besar. Serangannya kena telak. Si Buku Besar tertusuk-tusuk dan tersayat-sayat oleh duri dan terhempas jauh.

     Si Api Mungil tidak tega melihat keadaan si Buku Besar. Si Buku Besar yang terhempas jauh darinya sekarang sudah terlihat tidak seagung dan seberwibawa dahulu. Sekarang, si Buku Besar sudah terlihat robek, kumal, kotor, dan penuh tertusuk duri-duri panjang. Si Api Mungil kembali menangis. Saat tatapan si Api Mungil bertemu dengan tatapan si Buku Besar yang baru saja beranjak bangkit, senyum menenangkan si Buku Besar pada si Api Mungil membuatnya semakin tersedu.

Si Api Mungil tidak tega melihat keadaan si Buku Besar.

     Si Buku Besar belum menyerah. Dia berusaha bangkit kembali dan berjalan mendekati si Api Mungil, masih dengan semangat yang sama, yaitu untuk melepaskannya dari si Buku Hitam. Walaupun setiap langkah terasa sangat berat dan menyakitkan, si Buku Besar tidak berhenti dan terus melangkah, perlahan namun pasti. Si Buku Besar sekarang kembali berada dekat si Api Mungil. Si Buku Besar kemudian berusaha menarik rantai yang mengikat si Api Mungil dengan lemah, dengan tenaga yang masih tersisa. Si Buku Hitam yang semenjak tadi terdiam karena memikirkan siksaan apa lagi yang dapat ia munculkan untuk si Buku Besar kemudian menyadari sesuatu yang bisa dilakukannya. Dia tidak memunculkan apapun dari halaman-halaman dirinya, tapi dia menarik si Buku Besar dan segera membantingnya ke tanah dengan keras. Hal ini dilakukan dengan sengaja karena si Buku Hitam telah tahu ada beberapa duri panjang yang tersisa menancap di bagian belakang si Buku Besar. Akibatnya, duri-duri itu menembus si Buku Besar, dan si Buku Besar melolong sangat kesakitan saat duri-duri itu menembus dirinya.

     Si Buku Besar terbaring tidak berdaya. Si Buku Hitam kemudian menginjak dan menatapnya. Si Buku Hitam berkata, “LIHAT! KEKUATANMU SAJA TIDAK MEMIHAKMU SEKARANG! LALU UNTUK APA KAMU MEMIHAK API ITU?! HAHAHA!!!” Si Buku Besar menoleh pada si Api Mungil yang masih terisak. Si Api Mungil kemudian memberanikan diri memandang si Buku Besar. Si Buku Besar tersenyum padanya. Si Buku Hitam yang melihat kejadian itu menyadari sesuatu yang dapat dilakukannya untuk membuat si Buku Besar dan si Api Mungil semakin menderita. Si Buku Hitam menarik si Buku Besar, kemudian mengangkatnya. Si Buku Hitam berjalan mendekati si Api Mungil dan melempar si Buku Besar ke atas si Api Mungil. Si Buku Hitam kemudian segera menginjak si Buku Besar.

Si Buku Hitam kemudian menginjak dan menatapnya.

     Seperti yang dapat terduga, terjadi sesuatu yang begitu mengerikan. Perlahan-lahan, si Api Mungil membakar si Buku Besar. Si Buku Besar berteriak kesakitan sementara si Api Mungil berusaha beranjak pergi, akan tetapi si Api Mungil terjepit di bawah si Buku Besar yang sedang diinjak oleh si Buku Hitam. Sebuah lubang dengan tepi kehitaman pun terbentuk di tengah si Buku Besar. Lidah-lidah api terlihat membakar si Buku Besar dari tengah lubang tersebut. Si Buku Besar menyadari bahwa sebentar lagi dirinya akan menjadi abu, habis terbakar oleh api, sehingga dirinya memanggil lembut si Api Mungil dengan sisa-sisa dirinya dan tenaganya, “Api yang kukasihi… Lihat diriku…” Si Api Mungil memandang si Buku Besar yang masih terbakar. Si Buku Besar kemudian berkata lagi, “Dirimu tidak bisa mengubah masa lalu… Dirimu tidak bisa mengubah kesalahan yang telah kaulakukan… Tapi kamu menyesal kan? Kamu meminta maaf kan?” Si Api Mungil mengangguk cepat. Si Buku Besar melanjutkan kata-katanya sebelum dia habis sepenuhnya menjadi abu, “Kalau begitu, aku mengampunimu… Jangan mengulangi kesalahanmu ya… Biar damai ada dalam hatimu… Jangan biarkan rasa bersalah menghantuimu… Aku sungguh mengasihimu…”

     Si Buku Besar kemudian menghilang dalam sisa-sisa lidah api. Yang tampak kemudian hanyalah abu yang tersebar di sana-sini. Abu yang dahulunya adalah si Buku Besar. Sekarang hanya ada kesunyian di tempat itu. Kesunyian yang melayang di antara si Buku Hitam dengan si Api Mungil. Si Api Mungil menyadari bahwa dia telah kehilangan sesuatu yang begitu berharga untuk selamanya. Si Api Mungil menyadari bahwa kecerobohannya harus ditebus dengan harga yang sangat mahal. Si Api Mungil menyadari bahwa tidak akan ada lagi si Buku Besar yang sangat mengasihinya.

Yang tampak kemudian hanyalah abu yang tersebar di sana-sini. 

     Si Buku Hitam tertawa keras dan mengejek saat melihat kesedihan si Api Mungil. Si Buku Hitam tertawa puas dan penuh kemenangan. Di mata si Buku Hitam, sudah tidak ada lagi yang lebih hebat daripada dirinya, sudah tidak ada yang dapat membela si Api Mungil. Menyadari hal itu, si Buku Hitam berkata pada si Api Mungil, “Pengorbanan yang sia-sia dan menggelikan. Pengorbanan yang bodoh dan tidak berarti. Sekarang si Buku Besar harus habis tanpa sisa dan dirimu masih berada dalam genggamanku. HAHAHA…!!!” Si Api Mungil tidak dapat berkata apa-apa. Si Buku Hitam kemudian melanjutkan kata-katanya, berniat mengisap si Api Mungil ke dalam halaman-halaman dirinya yang gelap, memadamkannya selamanya, “Baiklah kalau begitu… Masuklah ke dalam halaman-halamanku yang gelap untuk selamanya… Di mana kamu akan menghilang dalam kesepian dan kesendirian, di mana kamu akan menyesali seluruh hidupmu, di mana tidak ada lagi harapan dan kasih sayang…”

     Si Api Mungil kemudian melihat halaman-halaman si Buku Hitam terbuka. Halaman-halaman itu begitu gelap dan mencekam, bagaikan tangan-tangan hitam bercakar tajam yang berusaha menarik segala sesuatu ke dalam halaman-halaman tersebut. Halaman-halaman itu bagaikan selalu kelaparan, tidak pernah akan puas terisi oleh sebanyak apapun yang berhasil ditariknya ke dalam sana. Si Api Mungil merasa sangat ketakutan, akan tetapi tidak ada lagi yang dapat dia lakukan untuk pergi dan membebaskan diri. Si Api Mungil hanya dapat menanti halaman-halaman gelap si Buku Hitam mengisapnya sampai habis. Akan tetapi, si Api Mungil teringat pada kata-kata si Buku Besar, bahwa si Buku Besar memaafkan dan mengasihinya. Si Api Mungil kemudian tersenyum penuh damai walaupun saat itu adalah saat-saat menakutkan bagi dirinya. Dan sesuatu yang tidak terduga terjadi…

Si Api Mungil kemudian melihat halaman-halaman si Buku Hitam terbuka.

     Saat si Buku Hitam berusaha mengisap si Api Mungil, terlihat butiran-butiran hitam kecil beterbangan masuk ke dalam halaman-halaman si Buku Hitam. Semakin kuat si Buku Hitam mengisap, semakin banyak butiran hitam kecil yang masuk ke dalam si Buku Hitam. Butiran-butiran hitam kecil itu beterbangan di sekitar si Api Mungil, butiran-butiran hitam kecil itu adalah sisa-sisa abu dari si Buku Besar. Butiran-butiran hitam kecil itu melindungi si Api Mungil, butiran-butiran hitam kecil itu bagaikan berkata pada si Buku Hitam, ‘Kau begitu menginginkan sesuatu untuk kautelan? Ambillah sisa-sisa diriku sampai dirimu puas, tapi jangan sentuh api yang kukasihi ini!’

     Pusaran abu hitam si Buku Besar mengelilingi si Api Mungil, melindunginya tanpa ada habisnya. Sementara itu si Buku Hitam terus menerus mengisap dan mengisap, sampai-sampai halaman-halaman si Buku Hitam penuh dengan abu, sampai dia tidak sanggup lagi mengisap. Si Buku Hitam pun akhirnya berhenti mengisap. Dia sudah tidak mampu lagi mengisap. Dia kemudian pergi dengan tersiksa sambil berkata pada si Api Mungil, “Jangan senang dulu, dasar Api bodoh!!! Aku masih ada!!! Aku akan selalu ada!!! Aku akan selalu mengawasimu!!!

Dia kemudian pergi dengan tersiksa sambil berkata pada si Api Mungil, ...

     Si Api Mungil sekarang tinggal sendiri. Abu si Buku Besar mungkin memang melindunginya, tapi si Buku Besar sudah tidak ada lagi. Rasa takjubnya segera berubah kembali menjadi kesedihan. Kecerobohannya, kesalahannya, dan kesombongannya membuat si Buku Besar harus tersiksa, bahkan sirna oleh karena si Api Mungil sendiri. Tiba-tiba pusaran angin lembut membelai si Api Mungil. Pusaran angin itu menerbangkan abu si Buku Besar yang tersisa dan secara ajaib membentuk gambaran si Buku Besar, sebelum akhirnya terbang menghilang terbawa angin. Dalam waktu yang singkat itu, terdengar sayup-sayup suara si Buku Besar berkata pada si Api Mungil, “Aku masih akan menjaga, menghibur, dan menolongmu… Walaupun aku tidak bisa selalu di sisimu seperti dahulu… Karena dirimu adalah api yang kukasihi… Selamanya…

- TAMAT -

Monday, October 17, 2016

Buku Besar dan Api Mungil : (2/3) Kesalahan Membawa Kesulitan

... Kesalahan bisa diampuni, tapi juga harus dipertanggungjawabkan ...

Cerita sebelumnya : Buku Besar dan Api Mungil : (1/3) Kelahiran Membawa Kebahagiaan
Cerita berikutnya : Buku Besar dan Api Mungil : (3/3) Kasih Membawa Keadilan

     Hari demi hari berlalu dengan keceriaan dan kebahagiaan dari semuanya. Si Buku Besar berbahagia, si Api Mungil berbahagia, demikian pula dengan semua yang ada di sekitar mereka. Kehadiran si Api Mungil terlihat melengkapi kebahagiaan semua yang ada di sana. Mereka semua mengisi hari-hari dengan tarian, nyanyian, cerita, dan tawa. Mereka semua saling membantu dan saling menghibur satu sama lain. Dan yang terutama, mereka semua saling mengasihi dan menyayangi. Tidak ada yang bersedih di tempat tersebut, tidak ada kenangan buruk di tempat tersebut, tidak ada penyesalan di tempat tersebut.

     Sampai pada suatu hari, si Api Mungil mengalami hal yang menakutkan pada saat dia tengah sendirian saja, tanpa si Buku Besar dan teman-temannya di sekelilingnya. Si Api Mungil melihat suatu tempat di kejauhan, tempat yang gelap dan legam, tempat di mana kabut hitam dan asap kelabu terlihat menggumpal dan bergulung, tempat di mana si Buku Hitam tinggal. Si Api Mungil, setelah hari-hari berlalu, menyadari bahwa dia mampu menerangi dan menghangatkan, layaknya si Buku Besar. Selain itu, si Api Mungil juga menyadari bahwa si Buku Besar ternyata mampu melakukan banyak hal. Hal itu membuat si Api Mungil berpikir bahwa dia juga mampu melakukan hal-hal yang dilakukan oleh si Buku Besar. Dengan keberanian yang ceroboh, si Api Mungil melangkahkan kakinya menuju ke kejauhan, mendekati tempat tinggal si Buku Hitam.


... si Api Mungil melangkahkan kakinya menuju ke kejauhan, ...

     Si Api Mungil berada di perbatasan yang gelap, antara tempat yang dibuat si Buku Besar untuknya dengan tempat tinggal si Buku Hitam. Si Api Mungil memanggil-manggil, namun tidak ada jawaban. Si Api Mungil kemudian melangkahkan kaki memasuki tempat yang gelap tersebut. Di dalam tempat itu, pusaran angin kencang membuat si Api Mungil tidak dapat melihat dengan jelas. Si Api Mungil terus melangkah, dan sesuatu mengagetkannya.

     Si Api Mungil menginjak sehelai kain tebal berwarna hitam. Kain itu, seperti yang dapat tertebak, mulai terbakar dengan cepat. Si Api Mungil berubah panik dan ketakutan, tidak tahu apa yang terjadi. Sementara itu, api terus membesar dan terus membakar kain hitam yang ternyata sangat luas itu dengan kecepatan yang janggal, sangat cepat, terlalu cepat. Di suatu sudut, si Buku Hitam melihat semua pemandangan ini dengan seringai lebar. Si Buku Hitam kemudian mendekati si Api Mungil dan mengikat si Api Mungil dengan rantai tajam yang dikeluarkannya dari halaman-halamannya. Lalu, si Buku Hitam dengan mudah mengisap api yang berkobar dan mengumpulkan sisa-sisa kain hitam yang sebelumnya telah terbakar. Tawa jahat terdengar membahana dari tempat gelap itu. Tawa si Buku Hitam yang sepertinya puas karena sesuatu berjalan sesuai rencananya, sementara si Api Mungil menjadi semakin ketakutan dan panik karena suara tawa si Buku Hitam.


... api terus membesar dan terus membakar kain hitam yang ternyata sangat luas itu dengan kecepatan yang janggal, ...

     Si Buku Hitam kemudian menyeret si Api Mungil ke tempat yang dibuat oleh si Buku Besar untuk si Api Mungil. Di sana, si Buku Besar ternyata telah berdiri menghadap si Buku Hitam, layaknya sedang menanti si Buku Hitam untuk mendekat, layaknya telah tahu apa yang sedang terjadi, layaknya mengerti apa tujuan kemunculan si Buku Hitam. Dan ternyata memang benar bahwa si Buku Besar mengetahui itu semua. Si Buku Besar mulai berkata, “Lepaskan dia dan maafkan dia! Dia hanya api yang tidak tahu apa-apa!” Si Buku Hitam mencibir dan menjawab, “Apa…? Apa?! APAAA?! Tidak semudah itu! Dia melanggar perintahmu untuk tidak mendekati tempatku berada! Dia telah merusak kain penghias tempatku tinggal! DAAAN… Kau pasti juga tahu bukan, Buku Besar, bahwa dia mengira dirinya sama sepertimu, bisa melakukan segalanya, aaataaauuu… dengan kata laaaiiin… Dia itu SOMBONG!!! Semua itu KEEESAAALAAAHAAAN! Dan kesalahan haruslah DIIIHUUUKUUUM!”

     Si Api Mungil segera menyadari kesalahan besar yang dilakukannya. Dia sangat menyesal dan tertunduk, tidak berani menatap si Buku Besar. Si Buku Besar tidak langsung menjawab perkataan si Buku Hitam. Si Buku Besar tahu apa yang terlebih dahulu harus dikatakannya. Si Buku Besar berkata pada si Api Mungil, “Api, lihat aku sekarang…” Si Api Mungil mengangkat wajahnya perlahan-lahan, takut si Buku Besar memaki dan memarahinya. Akan tetapi, yang menyambut tatapan wajahnya adalah sesuatu yang berbeda. Si Buku Besar berkata padanya, “Sekarang kamu tahu kesalahanmu. Lain kali jangan seperti itu. Dan yang lebih penting… Aku memaafkanmu, Api…”


Lain kali jangan seperti itu.

     Layaknya mendengar sesuatu yang sangat menyakiti dirinya, si Buku Hitam berteriak dengan keras dan melengking. Dia berkata dalam kemarahan, “MAAF! MEMANG HANYA ITU YANG BISA KAU LAKUKAN, BUKU BESAR! MEMAAFKAN, MEMAAFKAN, DAN MEMAAFKAN! LALU SIAPA YANG AKAN BERTANGGUNG JAWAB?! KAAAUUU ITUUU HARUS ADIL! HARUS ADIL!!! API INI HARUS MENANGGUNG KESALAHANNYA! DIA HARUS KAUPADAMKAN! PADAMKAN DIA TANPA SISA! SEEEKAAARAAANG!!!”

     Si Api Mungil teramat sangat ketakutan saat mendengar bahwa dia harus dimusnahkan, dilenyapkan tanpa sisa. Kesedihan pun menyerang si Api Mungil, karena kenangan-kenangan indah yang dia lalui bersama-sama si Buku Besar dan teman-temannya. Si Api Mungil menangis tersedu-sedu karena penyesalan begitu memenuhi dirinya. Si Buku Hitam menikmati tangis penyesalan si Api Mungil dan berteriak pada si Api Mungil, “NAH! Sekarang rasakan akibatnya! Kau akan segera PAAADAAAM… PADAM tanpa sisa! Lupakan semua teman-temanmu… Kau tidak akan pernah bertemu mereka lagi…”


Sekarang rasakan akibatnya!

     Si Buku Besar berteriak menggertak si Buku Hitam, “CUKUP!!! Jangan takut-takuti dan mengancam dia!” Si Buku Hitam tidak kalah dan menggertak balik, “KALAU BEGITU PADAMKAN DIA SELAMANYA! KALAU KAU TIDAK MAU MEMADAMKANNYA, SERAHKAN DIA PADAKU SELAMANYA! BIAR AKU YANG MENGATUR HUKUMANNYA!” Si Buku Besar menggeleng, “Tidak akan! Aku mengasihi dia, dan kurasa dia telah sangat menyesali perbuatannya sampai-sampai tidak mau mengulanginya lagi. Iya kan, Api?” Si Api Mungil mengangguk cepat, dan berkata, “Iya… Maaf…” Si Buku Besar berkata lagi, “Nah, kau lihat sendiri bukan, bahwa dia telah menyesali kesalahannya dan telah meminta maaf… Sekarang bebaskan dia…” Si Buku Hitam berteriak keras dan mengeluh panjang, “DUUUH!!! LALU BAGAIMANA DENGAN DIRIKU! BAGAIMANA DENGAN KAIN HIASAN MILIKKU! KAU SANGAT TIDAK ADIL! TIDAK AAADIIIL!!!”

     Si Buku Besar tiba-tiba mendekati si Api Mungil dan berusaha menarik rantai pengikat si Api Mungil. Akan tetapi, si Buku Hitam menahan rantai tersebut dan menendang dengan kuat si Buku Besar sampai si Buku Besar terjatuh dan terguling jauh. Si Buku Hitam berkata, “KAU tidak punya pilihan. KAU tidak bisa menggunakan kekuatanmu untuk melawanku. TAHU KENAPA?! KARENA KAU HARUS ADIL! API INI HARUS PADAM!” Dan memang begitulah yang sesungguhnya terjadi. Si Buku Besar tidak dapat mengeluarkan apapun dari halaman-halaman dirinya untuk menolong si Api Mungil. Dan tepat seperti yang dikatakan oleh si Buku Hitam, ini semua adalah karena si Buku Besar harus berlaku adil, karena keadilan adalah salah satu dari sekian banyaknya hal benar dan baik yang tersimpan dalam halaman-halaman si Buku Besar.


Dan tepat seperti yang dikatakan oleh si Buku Hitam, ...

- bersambung -

Cerita sebelumnya : Buku Besar dan Api Mungil : (1/3) Kelahiran Membawa Kebahagiaan
Cerita berikutnya : Buku Besar dan Api Mungil : (3/3) Kasih Membawa Keadilan

Monday, October 10, 2016

Buku Besar dan Api Mungil : (1/3) Kelahiran Membawa Kebahagiaan

... Awal kehidupan selalu mengundang kebahagiaan karena itu adalah tanda terbukanya pintu-pintu dan jalan-jalan baru tiada terduga menuju ke masa depan yang lebih baik. Itulah yang membuat para orang tua dengan saksama mempersiapkan dan dengan semangat menyambut kehadiran anak-anak mereka yang baru saja hadir ke dalam dunia ...
O_O

     Pada suatu hari, ada sebuah Buku Besar yang terlihat agung dan berwibawa. Buku Besar itu menyukai segala sesuatu yang benar dan baik, serta di dalamnya tertulis begitu banyak hal yang menarik dan menakjubkan. Dari dalam halaman-halamannya yang berkilau, tertulis begitu banyak tulisan yang rapi dan indah, serta gambar-gambar yang bagus dan cantik. Dari waktu ke waktu, Buku Besar itu senantiasa merangkai banyak hal di lembaran-lembaran halamannya menjadi hal-hal baru yang tidak terduga dan tidak ada duanya.

     Sementara itu, di suatu tempat lain, ada sebuah Buku Hitam yang terlihat kejam dan licik. Buku Hitam itu tidak sebesar dan setebal si Buku Besar, namun dia dalam beberapa hal mirip dengan si Buku Besar. Buku Hitam itu penuh dengan segala sesuatu yang salah dan buruk. Di dalamnya tertulis begitu banyak hal yang jahat dan mengerikan. Dari halaman-halamannya yang gelap, tertulis begitu banyak tulisan yang jelek dan rusak, serta gambar-gambar yang menyedihkan dan menakutkan. Dari waktu ke waktu, Buku Hitam itu senantiasa merangkai banyak hal di lembaran-lembaran halamannya menjadi hal-hal baru yang tidak terduga dan tidak ada duanya.


Sementara itu, di suatu tempat lain, ada sebuah Buku Hitam ...

     Salah satu hal yang membuat Buku Besar dan Buku Hitam itu mirip adalah karena mereka berdua dapat masing-masing memunculkan apa-apa saja yang tertulis dalam halaman-halaman mereka. Si Buku Besar sering terlihat memunculkan berbagai hal baik yang tersimpan rapi dalam halaman-halamannya, kemudian si Buku Besar akan bermain-main bersama mereka. Di kesempatan lain, si Buku Besar sering terlihat bercengkerama bersama-sama mereka yang muncul dari halaman-halaman si Buku Besar. Dan di kesempatan lain lagi, si Buku Besar sering terlihat berjalan-jalan bersama-sama mereka yang muncul dari halaman-halaman si Buku Besar. Si Buku Besar melakukan ini semua karena si Buku Besar menyayangi semua yang ada.

     Sementara itu, si Buku Hitam sering terlihat memunculkan berbagai hal buruk yang tersimpan asal-asalan dalam halaman-halamannya, kemudian si Buku Hitam akan mempermainkan dan menjahati mereka. Di kesempatan lain, si Buku Hitam sering terlihat mengejek dan menghina mereka yang muncul dari halaman-halaman si Buku Hitam. Dan di kesempatan lain lagi, si Buku Hitam sering terlihat memukul dan menyakiti mereka yang muncul dari halaman-halaman si Buku Hitam. Si Buku Hitam melakukan ini semua karena si Buku Hitam ingin menyengsarakan dan membinasakan semua yang ada.


Si Buku Hitam melakukan ini semua karena ...

     Si Buku Besar memiliki ketertarikan pada sebuah benda yang tersimpan dalam halaman-halamannya yang mengilap. Benda itu adalah api. Si Buku Besar melihat keindahan dari lidah api dan melihat banyak hal berguna dapat dilakukan oleh api. Di halaman-halamannya, si Buku Besar mencatat bahwa api dapat mengeluarkan cahaya indah, layaknya si Buku Besar yang juga bercahaya. Si Buku Besar juga mencatat bahwa api dapat menghangatkan, layaknya si Buku Besar yang dapat memberikan kehangatan. Selain itu, si Buku Besar juga mencatat bahwa api dapat bermanfaat untuk menciptakan berbagai hal, layaknya si Buku Besar yang dapat mengeluarkan berbagai hal dari dalam halaman-halamannya.

     Si Buku Besar telah lama memperhatikan api ini di dalam halaman-halaman dirinya dan menyadari bahwa ternyata begitu banyak hal positif yang kemungkinan dapat dilakukan oleh api. Demikianlah lama kelamaan, semakin si Buku Besar memperhatikan api di dalam halaman-halaman dirinya, si Buku Besar semakin meletakkan harapan dan kasih sayang pada api. Ya, bahkan jauh sebelum api tersebut ada dan muncul dari halaman-halaman si Buku Besar, si Buku Besar sudah penuh akan harapan dan kasih sayang pada api. Harapan dan kasih sayang yang sedemikian besarnya membuat si Buku Besar mengeluarkan banyak hal dari halaman-halaman dirinya sebelum memunculkan api ini. Sebabnya adalah, si Buku Besar tidak ingin api harus sengsara, berkekurangan, dan kesepian saat membuka mata untuk pertama kalinya. Demikianlah si Buku Besar membuat sebuah tempat yang baik dan teman-teman yang baik juga untuk api.


... si Buku Besar semakin meletakkan harapan dan kasih sayang pada api.

     Dan saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Segala sesuatunya telah siap untuk menyambut kemunculan api. Sebuah tempat yang bagus sudah tersedia, banyak hal yang dapat dimainkan oleh api di tempat tersebut, serta banyak teman yang sudah siap menemani api di sana. Si Buku Besar kemudian mengeluarkan api dari halaman-halaman dirinya. Api itu mungil dan bercahaya. Api itu lucu dan menghangatkan. Api itu menggemaskan dan menyenangkan. Si Api Mungil kemudian berkenalan dengan si Buku Besar dan teman-teman barunya. Hari itu menjadi hari yang begitu indah untuk semua. Hari di mana si Api Mungil lahir, hari di mana sebuah kehidupan baru disambut.

     Namun demikian, si Buku Besar menyadari ada bahaya yang senantiasa siap mengancam si Api Mungil, yaitu keberadaan si Buku Hitam. Si Buku Hitam tidak pernah suka akan hal baik, sehingga kehadiran si Api Mungil yang menebarkan suasana bahagia ini terasa sangat mengganggu si Buku Hitam. Tanpa disadari oleh yang lainnya, si Buku Besar melihat si Buku Hitam yang tengah memandang ke arah mereka dengan penuh dengki dan kebencian dari kejauhan, dari tempat asalnya yang gelap, dari tempat asalnya yang jauh namun berbatasan dengan tempat yang dibuat oleh si Buku Besar untuk si Api Mungil.


... si Buku Besar menyadari ada bahaya yang senantiasa siap mengancam si Api Mungil, ...

     Untuk melindungi si Api Mungil, si Buku Besar berpesan pada si Api Mungil agar tidak terlalu jauh bermain-main ke perbatasan tempat yang dibuat oleh si Buku Besar untuk si Api Mungil, ke tempat gelap di mana si Buku Hitam berada. Si Api Mungil yang cerdik kemudian bertanya pada si Buku Besar, “Mengapa aku tidak boleh ke sana?” Si Buku Besar menjawab, “Karena di sana ada bahaya yang senantiasa siap sedia menyakiti segalanya, termasuk dirimu.” Si Api Mungil kemudian bertanya lagi, “Mengapa dirimu tidak menghilangkan bahaya tersebut?” Si Buku Besar menjawab, “Belum saatnya sekarang, terlalu banyak yang akan terhilang tanpa harapan lagi jika aku menghilangkannya sekarang.” Si Api Mungil lalu bertanya lagi, “Mengapa dirimu tidak mengubah bahaya tersebut menjadi sesuatu yang baik?” Si Buku Besar menjawab, “Aku sedang berusaha mengubah bahaya itu menjadi sesuatu yang baik. Tapi sampai sekarang, sekeras apapun aku meyakinkan dirinya, setelah berbagai hal yang aku lakukan, dia masih belum mau berubah.” Demikianlah pembicaraan itu berakhir.