Translate

Friday, August 26, 2016

Mental Bungkusan

... Apakah daya upaya kita dikobarkan pada saat-saat tertentu hanya untuk dibungkus lagi pada saat-saat lainnya? Apakah kebaikan kita diungkapkan pada saat-saat tertentu hanya untuk dibungkus lagi pada saat-saat lainnya?...

O_O

     Sebuah batang besi tertancap tegak di atas tanah. Batang besi itu sangat tinggi dan dicat berwarna putih. Namun putihnya sudah terlihat kusam, berkarat di beberapa bagian. Bagaimana tidak? Batang besi itu telah lama berada di sana, setua bangunan yang mengelilingi lapangan tempat batang besi tersebut berada. Jelas usianya lebih tua daripada semua orang yang mengelilingi batang besi tersebut. Ya, orang-orang mengelilingi batang besi tersebut pada suatu jarak tertentu, dan sedang menghadap batang besi tersebut. Orang-orang itu berpakaian putih dan berbaris rapi. 

     Mereka semua tampak serius, khususnya orang-orang yang berbaris di bagian depan. Sementara itu, orang-orang di barisan belakang terlihat lebih santai. Ada yang mengantuk, ada yang menolah-noleh, ada yang sedang menggaruk-garuk, dan ada juga yang sedang meregangkan badan karena pegal berdiri. Mereka yang di belakang dapat melakukan hal-hal itu karena mereka sedikit tersembunyi oleh rekan-rekan mereka yang berdiri di depan. Ya, mungkin sudah ada beberapa di antara kalian yang tahu apakah kejadian yang sedang terlihat ini, serta batang besi apa yang tadi kusinggung-singgung di awal cerita. Ini adalah pemandangan kegiatan upacara bendera yang dilaksanakan di lapangan sebuah sekolah, dan para peserta upacara bendera ini sedang menghadap sebuah tiang bendera di mana sebentuk bendera berkibar gagah di atasnya.

Sementara itu, orang-orang di barisan belakang terlihat lebih santai.

     Setelah upacara usai, bendera di atas tiang itu menjadi saksi dari berbagai aktivitas seru di bawahnya. Pada hari itu, seusai upacara bendera, para siswa dan guru tidak melakukan kegiatan belajar-mengajar seperti biasa. Akan tetapi, mereka mengadakan banyak perlombaan di lapangan sekolah. Ada pertandingan sepak bola, ada pertandingan balap karung, ada pertandingan makan kerupuk, ada pertandingan panjat pinang, serta masih banyak pertandingan lainnya.

     Hampir semua pertandingan tersebut berlangsung dengan sangat seru dan menegangkan. Banyak siswa yang menonton terlihat sangat bersemangat dan berteriak-teriak memberi dukungan pada teman-teman mereka yang sedang bertanding. Sementara itu, siswa yang bertanding terlihat bertanding dengan mengerahkan segala kemampuan dan kekuatan mereka untuk mengalahkan lawannya. Suasana yang terlihat di sini terasa menggembirakan dan menghangatkan hati. Bayangkan saja keadaan yang sedang terjadi. Para siswa terlihat bersemangat semuanya, para siswa terlihat ceria semuanya, para siswa terlihat berusaha sekuat tenaga mereka semuanya, dan para siswa terlihat sportif semuanya.

Suasana yang terlihat di sini terasa menggembirakan dan menghangatkan hati.

     Akan tetapi, layaknya bendera di atas tiang yang sekarang sedang berkibar gagah namun nanti akan dilipat dan disimpan dalam lemari yang gelap, keadaan di sekolah itu terlihat serupa. Setelah pertandingan usai, keesokan harinya, kegiatan belajar-mengajar berlangsung bagaikan telah melupakan semangat yang terlihat di hari sebelumnya. Para siswa datang terlambat, para siswa bermalas-malasan di kelas, para siswa menyontek, dan para siswa saling menghina satu sama lain tanpa mengenal batas sopan santun. Ya, semangat mereka sudah selesai dikibarkan. Dan sekarang, semangat mereka sudah kembali dilipat dan disimpan rapi. Dasar, para pemilik mental bungkusan.

-------ooo-------

     Malam itu adalah hari yang meriah dan cerah. Bintang dan bulan bersinar indah menghiasi langit. Orang-orang terlihat sibuk dengan senyum mereka yang mewarnai wajah. Hari itu bertepatan dengan salah satu hari raya keagamaan, dan itulah sebabnya semua orang merayakannya dengan gembira. Dan sebagai tanda berlangsungnya hari raya keagamaan tersebut, sebuah pohon dengan bentuk dan hiasan yang khas dipajang oleh hampir setiap orang yang merayakan hari raya itu. Sebuah pohon yang indah dan berwarna-warni, sebuah pohon yang terang-benderang oleh lampu-lampu kecil mungil, yang mengingatkan bahwa hari raya tersebut bertujuan untuk memperingati Dia yang bagaikan cahaya penerang di dalam kegelapan.

Bintang dan bulan bersinar indah menghiasi langit.

     Orang-orang terlihat berkendara santai menuju ke beberapa tempat. Orang-orang terlihat berkendara menuju ke tempat ibadah untuk kemudian memperingati hari raya tersebut dengan khidmat, untuk mengenang makna aslinya di tengah hiruk pikuk perayaannya. Setelah itu, orang-orang terlihat berkendara menuju tempat kediaman saudara mereka untuk bertegur sapa dan bercengkerama satu sama lain. Terlihat nuansa persaudaraan yang begitu hangat. Suara tawa terdengar sayup-sayup dari rumah-rumah, semakin menambah nuansa akrab yang terapung di tengah udara malam.

     Di tempat lain, kesibukan lain terjadi. Beberapa keluarga terlihat merayakan hari raya ini dengan memberi hadiah-hadiah pada orang-orang yang memerlukan, pada mereka yang kurang beruntung di dunia ini. Beberapa keluarga membagi-bagikan nasi-nasi kotak pada para pengemis. Beberapa keluarga menyumbangkan sejumlah uang pada panti asuhan, panti jompo, maupun panti wreda. Sementara itu, beberapa keluarga terlihat memberikan bingkisan-bingkisan pada mereka yang tinggal tersisih di pinggiran kota besar, mereka yang bahkan tetap hidup susah walaupun telah bekerja membanting tulang di bawah terik matahari tanpa mengenal waktu.

Di tempat lain, kesibukan lain terjadi.

     Akan tetapi, layaknya pohon khas yang dipajang oleh orang-orang yang merayakan hari raya tersebut, yang nantinya akan disimpan dan dibungkus kembali setelah hari raya itu usai, keadaan orang-orang yang merayakannya terlihat serupa. Setelah hari raya usai, hari-hari berikutnya berlangsung hampir tanpa jejak akan pernah berlangsungnya hari raya tersebut. Orang-orang terlihat lebih sering muram dan murung daripada menebar senyum. Orang-orang bertengkar dengan anggota keluarga mereka, bahkan karena hal kecil sekali pun. Orang-orang tidak lagi mau memberi, namun dengan rakusnya menerima, meminta, bahkan mencuri. Ya, kasih mereka sudah selesai diungkapkan. Dan sekarang kasih mereka sudah disimpan dan dibungkus dengan rapi. Dasar para pemilik mental bungkusan.

^_^

Monday, August 22, 2016

Harapan dari Pembukaan Pekan Raya Jakarta 2016

... pasti ada harapan untuk Jakarta, pasti ada harapan untuk Indonesia ...

O_O



Titik Awal
     Jumat sore, 10 Juni 2016, direktur regional perusahaan tempat saya bekerja memberikan kami undangan ke acara pembukaan Pekan Raya Jakarta 2016. Undangan menunjukkan angka ‘49’. Artinya, empat puluh sembilan kali acara tahunan itu telah diadakan, mulai dari tahun 1970-an. Waktu itu adalah masa-masa yang disebut sejarah sebagai Orde Lama, saat krisis finansial Asia mengguncang Indonesia. Saat itu, mungkin banyak orang yang bertanya, “Apakah ada harapan untuk Indonesia?” Dan saya yakin, walaupun sekian lamanya telah berlalu, walaupun kondisi Indonesia telah berubah, masih ada yang menanyakan hal serupa.

Di Perjalanan
     Saya dan rekan-rekan sekerja memutuskan untuk pergi. Saya dan beberapa orang mengendarai sepeda motor untuk menempuh perjalanan dari kantor kami di daerah Pondok Indah, menuju ke JIExpo Kemayoran. Jaraknya sekitar dua puluh kilometer menurut apa yang ditampilkan oleh aplikasi peta online yang saya akses dengan mudah melalui komputer di kantor. Sementara itu, yang lainnya memutuskan untuk memesan mobil dari aplikasi transportasi berbasis online. Praktis sekali.
     Saya melewati jalan Sultan Iskandar Muda dan jalan Teuku Nyak Arief. Sepanjang perjalanan, macet dan lancar bergantian menyambut. Saya kemudian memperhatikan jalur khusus di sebelah kanan saya. Jalur yang diperuntukkan bagi bus transjakarta koridor 8, yang menghubungkan Lebak Bulus dengan Harmoni. Saat saya memperhatikan jalur tersebut, ada yang terasa berbeda. Sekitar awal sampai pertengahan 2015, jalur koridor 8 ini masih sering diserobot oleh mobil dan sepeda motor. Namun sekarang, jalur itu telah terlihat hanya dilewati bus transjakarta, terlepas dari bagian underpass yang memang diperuntukkan bagi bus transjakarta dan kendaraan lainnya.
     Setelah itu, perjalanan saya berlanjut melewati jalan Lingkaran Putri Hijau dan jalan Tentara Pelajar. Saya pun melihat Stasiun Palmerah yang tampak modern dan rapi, sangat berbeda dengan keadaannya dahulu. Lalu saya mengingat stasiun kereta yang akrab dengan saya, yaitu Stasiun Pasar Minggu dan Tanjung Barat. Kondisi mereka sekarang pun, saya akui, jauh lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Sebentuk keyakinan terlintas dalam diri saya, setelah melihat aspek teknologi informasi yang kian memudahkan, kesadaran masyarakat akan peraturan, serta fasilitas transportasi yang terus diperbaiki. Ada harapan untuk Jakarta. Dan jika ini semua terjadi secara nasional, maka pasti, ada harapan untuk Indonesia.

Sampai Tujuan
     Saya dan rekan-rekan tiba di area panggung utama JIExpo Kemayoran pada malam hari. Rangkaian acara pembukaan ternyata menjadwalkan sesi untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Semua tamu undangan, dan tentunya saya, berdiri tegap dan menyanyikan lagu kebangsaan ciptaan Wage Rudolf Soepratman tersebut. Sesekali tatapan saya menangkap raut-raut di sekitar saat mereka menyanyi. Mereka yang tadinya sedang asyik mengobrol, sibuk memotret, dan membaca selebaran, semuanya terlihat serius dan khidmat saat menyanyi.
     Kemudian ada sesi di mana sambutan diberikan. Oleh Prajna Murdaya, selaku Direktur PT JIExpo; oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, selaku Gubernur DKI Jakarta; dan oleh Tjahjo Kumolo, selaku Menteri Dalam Negeri RI. Saya akan berfokus pada isi sambutan Basuki Tjahaja Purnama.
     Beliau dengan semangat menggambarkan cita-citanya akan keadaan Jakarta di masa depan. Berbagai macam fasilitas umum disebut oleh beliau: Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), Light Rail Transit (LRT) yang salah satunya rutenya langsung menuju ke area Pekan Raya Jakarta, toilet-toilet umum di sekitar Monas dengan sistem sewa eletronik, pelayanan kebersihan gratis, rusun dan apartemen, serta rumah sakit. Semuanya itu demi terpeliharanya kelangsungan hidup warga Jakarta.
     Semua ucapan beliau, yang saya harap dapat direalisasikan sesegera mungkin, menyemangati saya sebagai salah satu dari sepuluh juta warga Jakarta (angka tahun 2014 dari Bappeda Jakarta). Selain itu, semangat saya bertambah juga pada sesi doa bersama yang menampilkan lima pemuka, mewakili lima agama di Indonesia. Sebentuk keyakinan kembali melintas di kesadaran saya saat melihat aspek nasionalisme, jaminan akan kesejahteraan umum, serta toleransi antarumat beragama, yang semuanya dengan berani ditunjukkan dan dicita-citakan. Ada harapan untuk Jakarta. Dan jika ini semua terjadi secara nasional, maka pasti, ada harapan untuk Indonesia.

Sebagai Penutup
     Agama yang saya imani mengajarkan bahwa setiap bentuk pemerintahan berlangsung atas izin dari Tuhan yang Maha Esa. Maka saya diwajibkan untuk membantu dan selalu mendoakan yang terbaik untuk mereka. Membantu bukan hanya dalam hal bekerja sama, tapi juga ikut mengawasi kinerja secara sehat, dan berani menegur apa yang tidak benar secara tepat. Semuanya demi bersama-sama membangun Jakarta, membangun Indonesia. Saya percaya, pasti ada harapan untuk Jakarta, pasti ada harapan untuk Indonesia.

^_^

Thursday, August 18, 2016

Tidak Semua

... Selalu saja ada yang berbeda ...

O_O

     Hari itu, siang hari terasa sangat terik. Matahari kira-kira tepat berada di atas kepala. Bayangan tepat menggumpal di bawah setiap orang yang sedang beraktivitas, bagaikan tidak berani menghadapi cahaya yang menghujani setiap hal di kolong langit. Aku sedang berada di dalam sebuah mobil angkutan umum berwarna biru muda, di bangku penumpang yang berada di bagian belakang. Mobil itu terlihat renta. Lantainya, kursinya, jendelanya, dan atapnya, semua menyerukan hal yang sama, “Aku sudah tua…

     Namun di dalam tempat sempit nan tua tersebut, banyak hal yang terjadi dan tertangkap oleh kedua mataku. Aku dapat menyaksikan banyak hal karena aku kebetulan sedang duduk di kursi penumpang yang terjauh dari pintu penumpang bagian belakang. Mobil angkutan umum, pada umumnya, memiliki pintu penumpang belakang yang berada di sisi kiri, hampir bersisian dengan pintu penumpang depan yang berada di sisi yang sama. Masuk dari pintu penumpang belakang, biasanya kita harus menunduk karena atap mobil memang biasanya tidak terlalu tinggi. Lalu, biasanya kita akan disambut oleh sebuah bangku pendek yang diletakkan berdekatan dengan pintu penumpang belakang. Bangku itu sengaja diletakkan di sana untuk diduduki dua orang, walaupun tempat itu agak berbahaya karena bersisian dengan pintu penumpang belakang yang hampir selalu dibuka.

     Setelah berada di dalam bagian belakang mobil dan menghadap ke belakang, sepanjang kiri dan kanan akan terlihat kursi penumpang yang memanjang ke belakang. Di sisi kiri, kursinya lebih panjang daripada di sisi kanan, karena keberadaan pintu penumpang belakang di sisi kanan. Kursi di sisi kiri ditujukan untuk diduduki oleh enam orang sementara di sisi kanan ditujukan untuk diduduki oleh empat orang. Jadi, dengan ditambah dua penumpang di kursi penumpang depan, total penumpang yang dapat dibawa oleh mobil angkutan umum ini adalah empat belas orang! Hebat, bukan!

Hebat, bukan!

     Dan siang itu, angkutan umum ini sudah menampung jumlah penumpang maksimal, sehingga suasana bertambah sumpek dan gerah. Lalu, kembali ke gambaran yang aku ceritakan sebelumnya, aku duduk di kursi penunmpang belakang di sisi kiri yang terjauh dari pintu penumpang belakang, sehingga aku dapat mengamati banyak aktivitas di dalam mobil tersebut. Ada yang sedang bermain-main dengan telepon genggamnya, ada yang sedang melamun, ada yang sedang bersenandung, dan ada juga yang sedang mengupil dengan begitu asyiknya… Hahaha…

     Kemudian, pada suatu ketika, seorang pengamen bergerak mendekati pintu penumpang belakang dan berdiri di sana sambil menunduk ke bagian dalam mobil. Pengamen biasanya duduk di bangku pendek dekat pintu penumpang belakang. Akan tetapi, karena saat itu mobil sedang penuh, dia berdiri di ambang pintu penumpang belakang sambil memberikan salam khas pengamen, “Selamat siang, Bapak dan Ibu sekalian… Maaf mengganggu perjalanan Anda semuanya, tapi kami hanyalah berusaha bertahan hidup semata di ibu kota yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri ini… Semoga Anda berkenan memberi karena sedikit dari Anda tidak akan membuat Anda jatuh miskin, juga tidak membuat kami kaya raya… Lagu untuk Anda semua…” Dan begitulah pengamen itu mulai menyanyi sambil berdiri, bersandar pada sisi ambang pintu penumpang belakang sambil memainkan gitar kecilnya. Berbahaya memang bersandar di sana sambil mengamen sementara mobil angkutan umum ini melaju, tapi sepertinya pengamen itu telah terbiasa melakukannya.

     Dua tembang dinyanyikan oleh pengamen itu. Dia menyanyi di tengah hiruk pikuk siang hari, nada kelelahan bercampur dengan nada lagu yang dia dendangkan. Lalu tibalah saatnya si pengamen menarik bayaran dari para penumpang yang rela memberi. Terlihat beberapa orang merogoh saku mereka atau mengeluarkan dompet mereka untuk mengambil sejumlah uang. Aku tidak melakukan itu semua karena uangku tersimpan jauh di dalam tas, sementara uang di sakuku hanya cukup untuk membayar biaya perjalananku dengan angkutan umum ini.

Dua tembang dinyanyikan oleh pengamen itu.

     Dan sebuah hal menarik terjadi dengan cepat, namun meninggalkan bekas di dalam hatiku. Seorang penumpang kulihat tengah kebingungan dan dengan cepat merogoh sakunya untuk memberi pada si pengamen. Si penumpang terlihat sibuk dan hanya menemukan beberapa keping uang logam di sakunya. Dia lalu memberi sambil tersenyum dan mengangguk memberi hormat pada si pengamen. Tapi tanggapan si pengamen sungguh tidak kuduga. Si pengamen, dengan ekspresi wajah merendahkan, tiba-tiba membuang uang logam tersebut dan segera pergi sambil terdengar mengeluh pada si penumpang. Tidak semua orang miskin itu rendah hati ya, ada saja orang miskin yang sombong…

-------ooo-------

     Malam hari itu, aku sedang berangkat menuju ke suatu tempat karena ada janji dengan rekan-rekan masa laluku. Rekan-rekan ini adalah teman-teman yang kukenal saat dahulu bersekolah. Sudah lama sekali masa-masa sekolah itu berlalu dan sekarang kami semua telah bekerja. Kami semua telah memiliki kesibukan masing-masing dan tanggung jawab masing-masing di tempat masing-masing. Lebih sulit rasanya untuk berkumpul pada masa-masa ini daripada pada masa bersekolah dulu. Tidak heran jika banyak orang tua menasihati agar kita melakukan banyak hal, sebanyak-banyaknya, saat kita muda. Contohya, mengikuti banyak kegiatan organisasi, ikut serta dalam aktivitas keagamaan, bewisata ke banyak tempat, menjadi panitia untuk mengadakan acara-acara tertentu, dan masih banyak lagi. Sebab saat kita muda, pada umumnya kita jarang memiliki kesibukan dan tanggung jawab akan keluarga dan kelangsungan hidup kita. Dan pada saat kita dewasa, saat kita telah memiliki kesibukan dan tanggung jawab akan keluarga, saat itulah hampir semua waktu dan tenaga kita harus digunakan untuk melindungi dan melayani keluarga.

Lebih sulit rasanya untuk berkumpul pada masa-masa ini daripada pada masa bersekolah dulu.

     Pikiran dan perasaanku begitu bersemangat saat itu, karena orang-orang yang akan kutemui adalah teman-teman dekatku, dan juga karena kami telah lama tidak bersua dan bercengkerama. Aku mengingat banyak waktuku bersama mereka pada masa-masa sekolah. Kami berjalan-jalan ke berbagai tempat, kami membicarakan berbagai hal, kami menertawakan berbagai lelucon, kami saling mendengarkan curahan hati, serta kami saling menasihati. Tapi tidak hanya hal-hal baik dan indah yang melulu mewarnai persahabatan kami. Kami pernah juga marah besar, kami pernah juga bertengkar hebat, serta kami pernah juga menangis karena kesedihan yang tiada taranya. Namun, dengan semua kenangan akan hal baik dan tidak mengenakkan tersebut, kami teruji sebagai sahabat sejati, kami teruji sebagai sahabat setia, kami teruji sebagai sahabat baik.

     Tidak kusadari perjalananku malam itu telah hampir menemui garis akhir. Aku mengendarai sepeda motor kesayanganku yang berwarna hitam sambil mencari jalan di tengah belasan, bahkan mungkin puluhan, kendaraan bermotor lainnya yang memenuhi jalan. Aku dan teman-temanku setuju untuk bertemu muka di sebuah mal yang cukup besar di tengah ibu kota. Sebuah mal megah yang pasti diakui kemewahannya oleh hampir semua orang di ibu kota. Sebuah mal yang dipenuhi orang-orang dengan gaya prestisius. Sebuah mal yang dipenuhi nuansa luks.

     Ada sesuatu yang cukup unik menyangkut hal ini. Pernahkah kalian menuju ke suatu tempat dan merasakan nuansa sederhana? Pernahkah kalian menuju ke suatu tempat dan merasakan nuansa mewah? Pernahkah kalian menuju ke suatu tempat dan merasakan nuansa ngeri? Ya! Ternyata pancaindra dapat mempengaruhi emosi dan penilaian manusia. Ternyata perancang tempat-tempat tersebut telah memanfaatkan berbagai hal untuk mempengaruhi penilaian manusia akan tempat-tempat yang mereka desain. Dan pastinya, perancang tempat-tempat tersebut akan berusaha agar para manusia betah berada di sana, dengan memanfaatkan berbagai cara. Mulai dari pengaturan pencahayaan dan pemandangan, permainan musik dan suara, pelayanan orang-orang dan penempatan ruang-ruang, penjagaan suhu dan sirkulasi udara, sampai dengan pemberian aroma-aroma yang harum dan menyenangkan. Pikirkanlah tempat-tempat yang membekas di kenangan kalian karena kalian sekadar suka pada tempat tersebut, lalu pikirkanlah apa saja yang ada di sana. Pasti ada sesuatu yang menarik dirimu di sana! Pasti ada sesuatu yang menyenangkan pancaindramu di sana! Apapun itu…

Ya! Ternyata pancaindra dapat mempengaruhi emosi dan penilaian manusia.

     Lalu… Tibalah aku di sebuah tikungan yang akan membawaku menuju ke tempat parkir mal tersebut. Tikungan itu ternyata dipenuhi begitu banyak mobil yang kurasa ingin memasuki mal. Aku pun merayap pelan-pelan dengan hati-hati di sela mobil-mobil itu, memanfaatkan tipisnya sepeda motor yang kukendarai. Aku secara sopan menyalakan lampu sein dan mengangguk pada orang-orang di dalam mobil yang sedang bermacet-macet di tikungan tersebut. Ya… Lampu sein sebenarnya masih masuk akal sih, walaupun sebenarnya tidak perlu, karena tikungan yang kulakukan bukanlah tikungan yang menghalangi laju kendaraan di belakang maupun di depanku. Akan tetapi buat apa sih aku memberi anggukan? Betul… Betul… Sebenarnya tidak perlu… Tapi aku menyadari, saat aku berkendara juga, bahwa tidak ada orang yang senang didahului atau disalip, baik saat sedang melaju maupun menunggu. Buktinya, berapa kali dirimu justru menambah kecepatan saat melihat kendaraan lain menyalakan sein untuk berpindah ke depanmu? Berapa kali dirimu merapatkan bagian depan kendaraanmu dengan bagian belakang kendaraan lain agar tidak ada yang dapat berpindah ke depanmu? Berapa kali dirimu membunyikan klakson untuk menghentikan kendaraan yang kaulihat ingin keluar dari persimpangan jalan ke depanmu? Mungkin saja ini adalah efek samping ego manusia yang mendapat celah untuk dipuaskan ketika berkendara. Tapi… Ya, pikirkanlah sendiri apakah egomu yang seharusnya mengendalikan dirimu saat berkendara atau dirimu yang seharusnya mengendalikan egomu itu…

     Daaan… Sesuai dengan apa yang telah kuceritakan dan kujelaskan tadi. Aku saat itu terpaksa harus menjadi saksi dan korban dari banyak mobil mewah yang sepertinya telah habis kesabarannya oleh kemacetan yang mereka hadapi, entah sejak kapan mereka bermacet-macetan. Benar-benar tidak enak loh, menjadi sasaran mobil-mobil mewah yang lebih dikendalikan oleh ego daripada oleh sopan santun. Aku terpaksa bersabar saat sebuah mobil mewah membunyikan klakson dengan keras dan panjang, yang memekakkan telingaku, saat aku pelan-pelan melintas di depannya yang sedang berhenti. Aku terpaksa ikut berhenti dan menunggu lama saat sebuah mobil mewah menutupi lajur kecil yang dapat kulewati dengan mudah jika seandainya dia tidak menutupinya dengan mobilnya yang lebar. Aku terpaksa mengerem mendadak beberapa kali saat beberapa mobil mewah secara tiba-tiba mengegas kencang lalu mengerem keras, bahkan beberapa di antaranya memotong lajuku saat mengegas. Hmmm… Harus sabar… Harus sabar… Tidak semua orang kaya itu sopan dan berbudaya ya, ada saja orang kaya yang kelihatan tidak berpendidikan…

Hmmm… Harus sabar… Harus sabar…

-------ooo-------

     Lalu yang manakah diri kita?

^_^

Wednesday, August 3, 2016

Sisa Kebaikan

... apakah sudah tidak tersisa sedikit pun kebaikan, di sekitarku maupun di luar sana? ...

O_O

     Sore hari itu aku merasa sangat tidak bersemangat. Sangat tidak bersemangat. Sore hari yang begitu padat dan bising di tengah perjalananku menuju rumah, terabaikan begitu saja. Pikiran dan perasaanku merasa sepi di keramaian yang hiruk pikuk itu. Aku merasa sendirian di kemacetan yang parah itu. Suara klakson dan deru mesin sambung-menyambung melayang di udara panas yang teramat sumpek. Kemudian, perasaan dan pikiranku mulai membawa pengaruh bagi tindakan fisikku, tubuhku. Gerak-gerik tubuhku mulai terbawa oleh arus emosi yang telah menumpuk tertahan, dan hampir meluap. Aku mulai membunyikan klakson panjang-panjang dan sering. Aku mulai mengebut melewati celah-celah sempit di antara kendaraan tanpa berpikir panjang. Aku mulai berteriak-teriak dan memaki pada pengendara yang ceroboh dan salah.

     Lihat… Itulah mengapa kita harus berwaspada pada apa yang sedang kita pikirkan dan rasakan. Itulah mengapa pengendalian diri itu penting. Perasaan dan pikiran kita, disadari atau tidak, akan mendapatkan kesempatan untuk muncul ke dunia nyata lewat perkataan dan perbuatan kita. Dan sebisa mungkin, sebelum mereka semua keluar tanpa batas dan tanpa terkontrol, harus ada penyaring yang namanya pengendalian diri. Sebaik apa pengendalian diri kita dapat dilihat dari apa yang keluar sebagai perkataan dan tindakan kita pada saat pikiran dan perasaan negatif sedang memenuhi relung jiwa, sedang mendesak keluar dari dalam raga. Sekuat apa pengendalian diri kita dapat dilihat dari apa yang orang lain amati dan perhatikan pada saat kesedihan, kemarahan, dan kekecewaan, sedang mengancam kita, sedang menantang kita.

Itulah mengapa kita harus berwaspada pada apa yang sedang kita pikirkan dan rasakan. Itulah mengapa pengendalian diri itu penting.

     Dan aku akui… Aku sedang kalah saat itu… Pengendalian diriku kalah setelah emosiku diserang bertubi-tubi oleh banyak orang dan masalah. Sehingga akibatnya, seperti yang kuceritakan di awal, aku terasa dan terlihat bukanlah sebagai diriku yang biasanya. Aku terasa dan terlihat bukanlah sebagai orang yang kukenal dan kuketahui. Atau apakah justru inilah diriku yang biasanya, diriku yang seharusnya kukenal dan kuketahui? Orang-orang di luar sana mengatakan bahwa saat kita sedang berada dalam tekanan, sifat asli kitalah yang akan muncul, wajah asli kitalah yang akan terungkap di bawah apapun topeng peran dan ekspresi yang sedang kita kenakan dan perankan. Jadi mungkinkah ini sifatku yang asli? Wajahku yang asli? Kurasa tidak juga... Saat kita berada di bawah tekanan yang amat sangat, saat kita tertekan dan menunjukkan amarah, itu pun adalah topeng yang saat itu kita putuskan untuk kenakan, sebentuk topeng kemarahan…

     Lalu, jika semua itu adalah topeng, yang manakah yang namanya sifat asli kita? Menurutku, secara pribadi, sifat asli kita adalah kumpulan topeng yang kita sering dan suka kenakan pada saat-saatnya masing-masing. Itulah warna diri kita, semua topeng tersebut. Karena tanpa topeng-topeng itu, berarti tidak ada emosi, dan tidak ada manusia normal tanpa emosi. Dan salah satu inti penting yang harus kita ketahui adalah, kita semua unik dalam memilih topeng seperti apa yang ingin kita kenakan dan kapan mengenakan topeng tersebut… Secara khusus, jika kita membicarakan tentang topeng kemarahan, setiap kita pasti berbeda-beda dalam memilih topeng kemarahan apa yang ingin kita kenakan dan kapan kita mengenakannya. Dengan kata lain, bentuk kemarahan dan batas kesabaran kita pasti berbeda-beda. Itulah yang aku mengerti tentang masalah sifat asli manusia. Sederhana saja, bukan? Jadi sampai di mana kisahku tadi?

Lalu, jika semua itu adalah topeng, yang manakah yang namanya sifat asli kita?

     Oiya, di jalan yang bising, sumpek, panas, macet, padat, pada suatu sore hari yang pemandangan langit di atasnya tidak kuacuhkan, karena tekanan demi tekanan yang mengeroyok diriku. Aku rasanya ingin berteriak sekeras-kerasnya saat itu. Tapi kutahan karena aku tidak ingin menarik perhatian orang banyak yang mungkin akan memasukkan diriku ke rumah sakit jiwa. Lalu, tibalah aku di sebuah jalan sempit di mana begitu banyak mobil mengantre dan banyak sepeda motor berusaha menyelip di pinggir jalan. Aku yang juga sedang mengemudikan sepeda motor ikut mengantre dan merayap di pinggir jalan sempit tersebut. Kemudian, secara tiba-tiba, sebuah sepeda motor melakukan aksi yang sangat menyebalkan.

     Sebuah sepeda motor, saat itu secara tiba-tiba mengebut dan mengambil jalur trotoar di sisi kiriku. Dia kemudian terlihat maju ke depanku karena dia ingin menyalip diriku dan kembali dari jalur trotoar ke jalan. Dia, tanpa melihat dekatnya jarak diriku dengan sepeda motor di depanku, secara langsung berpindah dari jalur trotoar ke jalan, tepat di depanku. Akibatnya, bagian belakang sepeda motornya mengenai bagian depan sepeda motorku. Dia kemudian berkendara begitu saja dengan santai, layaknya tidak terjadi apa-apa. Bahkan, klakson yang aku bunyikan terlihat tidak dipedulikannya. Di sini, aku bertambah marah…

     Mengapa kukatakan ‘bertambah marah’? Karena, aku telah mengalami banyak hal buruk sebelum ini. Pertama, di rumah, aku sedang ada masalah dengan orang tuaku dan keluarga orang tuaku. Ini karena aku memutuskan untuk memesan sebuah restoran untuk perayaan hari ulang tahun ayahku. Dalam memutuskan, aku berusaha tidak memberatkan orang tuaku dan telah mempertimbangkan banyak hal. Namun ternyata, kerabat dari ayahku, tanpa tahu apa-apa, langsung mencela dan menyindir pilihanku dengan pedas. Aku telah berusaha menjelaskan pada mereka dengan sopan, tapi kerabat dari ayahku itu tidak mau mendengarkan dan terus saja berkomentar semaunya sendiri. Aku tidak dapat melawan, aku tidak dapat membalas, aku hanya dapat menerima, aku hanya dapat mengikhlaskan. Ya, kuharap kita sama-sama tidak menjadi seseorang yang suka seenaknya sendiri dan tidak mau mengerti orang lain. Sungguh sangat menyedihkan, mengecewakan, dan menyakitkan loh, berhadapan dengan orang seperti itu. Percayalah…

Percayalah…

     Lalu, kedua. Aku sedang bertengkar dengan teman-teman dekatku. Ya, memang sih, setiap hubungan persahabatan pasti memiliki masalah masing-masing dan pasti bertengkar. Akan tetapi, pertengkaran ini menjadi sesuatu yang berbeda karena, pertengkaran ini terjadi di masa-masa beratku dan karena pertengkaran ini disebabkan oleh sesuatu yang sama dengan kisahku sebelumnya bersama kerabat ayahku. Ada satu kesalahpahaman antara diriku dan para temanku itu, tapi setiap penjelasan dan masukanku untuk mereka tidak didengarkan. Mereka justru terus berpegang pada keyakinan mereka sendiri dan membalas setiap kata-kataku dengan tajam. Tidak kusangka, aku harus mengalami hal ini, dua kali, dengan orang-orang yang terdekat denganku. Aku sedih, aku kecewa, dan aku marah karena ini semua. Sangat marah… Amat sangat marah sekali…

     Aku bingung karena keadaan ini semua. Aku disakiti oleh orang-orang terdekatku. Aku juga diperlakukan seenaknya saja oleh orang-orang yang tidak kukenal. Tapi aku tidak boleh membalas mereka, aku tidak boleh menjahati mereka, aku tidak boleh mendendam pada mereka. Itulah yang kuingat dari pesan Tuhan yang sering diajarkan berulang-ulang padaku. Tapi jika demikian, apa yang bisa aku lakukan? Apa aku harus menahan rasa sakit terus-menerus? Apa aku harus layaknya orang bodoh yang hanya bisa menerima keadaannya begitu saja? Semua kejadian ini membuatku berpikir, apakah sudah tidak tersisa sedikit pun kebaikan, di sekitarku maupun di luar sana?

     Aku tiba di akhir ruas jalan sempit itu setelah beberapa saat lamanya merayap dengan sepeda motorku di sana. Aku kemudian memasuki ruas jalan yang lebih besar, sebelum akhirnya kembali memasuki ruas jalan yang sempit. Di ruas jalan ini, aku melihat sesuatu memberikan warna lain dalam hatiku. Aku melihat pemilik sebuah warung sedang memberikan dua bungkus makanan pada seorang pengemis dan anak yang dibawanya serta. Tidak seberapa jauh, aku melihat seorang tukang parkir menyeberangkan seorang buta. Dan di akhir jalan itu, aku melihat banyak orang sedang bahu-membahu membantu seseorang yang tengah terjatuh dari sepeda motornya di jalan. Semua pemandangan ini memberi warna lain pada hatiku. Warna harapan…

Warna harapan…

     Mungkinkah setiap emosi yang kita miliki dianugerahkan Tuhan karena Dia ingin kita tahu apa yang Dia mau dari setiap kita? Mungkinkah Tuhan memberikan pada kita rasa marah saat kita melihat sesuatu yang buruk karena Tuhan ingin kita tahu bahwa Ia pun marah saat melihat kita melakukan sesuatu yang buruk? Mungkinkah Tuhan memberikan pada kita rasa sedih saat kita melihat sesuatu yang buruk karena Tuhan ingin kita tahu bahwa Ia pun sedih saat melihat kita melakukan sesuatu yang buruk? Mungkinkah Tuhan memberikan pada kita rasa kecewa saat kita melihat sesuatu yang buruk karena Tuhan ingin kita tahu bahwa Ia pun kecewa saat melihat kita melakukan sesuatu yang buruk?

     Mungkinkah Tuhan memberikan pada kita rasa bahagia saat kita melihat sesuatu yang baik karena Tuhan ingin kita tahu bahwa Ia pun bahagia saat kita melakukan sesuatu yang baik? Mungkinkah Tuhan memberikan pada kita rasa bangga saat kita melihat sesuatu yang baik karena Tuhan ingin kita tahu bahwa Ia pun bangga saat kita melakukan sesuatu yang baik? Mungkin saja… Baiklah, walaupun berat, walaupun sulit, walaupun penuh tantangan, aku akan terus berharap dan percaya pada Tuhan dan kasih-Nya… Berharap bahwa masih banyak sisa kebaikan dianugerahkan-Nya di dunia ini, berharap bahwa masih banyak sisa kebaikan bertebaran di seluruh penjuru dunia…

^_^

Wednesday, July 27, 2016

Ke Tukang Ikan

... Jangan menyuruh ikan-ikan yang kita pelihara di akuarium untuk tidak stres, tidak marah, atau tidak berantem. Peliharalah mereka dengan baik agar mereka tidak stres, tidak marah, dan tidak berantem. ...

O_O

     Sore hari itu, matahari muncul malu-malu dari balik awan tebal. Suasana mendung menggantung di langit dan membuat setiap hati merasakan kesenduan yang unik. Bukan sedih yang biasa, tapi sedih karena terbawa suasana. Suasana yang seakan-akan membuat pikiran ingin membuat dan mendendangkan senandung lagu bernada pilu. Pernahkah kalian merasakan sore hari mendung seperti ini? Jika belum, kuharap kalian mendapat kesempatan untuk menikmatinya, karena… Ya unik, bukan? Melihat bagaimana cuaca dengan ajaib mempengaruhi hati dan otak manusia. Tuhan, Sang Maha Kuasa memang tiada duanya.

     Oleh karena suasana yang unik tersebut, aku mengingat banyak hal pada saat itu. Hal-hal yang terpendam jauh di alam ingatan dan kenangan, yang seharusnya dapat saja teringat di kala lain. Akan tetapi inilah satu lagi keunikan pikiran dan perasaan manusia. Selain dapat dipengaruhi oleh keadaan alam yang sebenarnya tidak memiliki hubungan langsung dengan emosi, ternyata situasi dan kondisi di sekitar manusia juga dapat membangkitkan ingatan atas kejadian dan peristiwa di masa lalu yang suasananya bersesuaian. Jadilah aku mengingat kejadian dan peristiwa di masa lalu yang membuatku sedih, kecewa, dan marah.

     Salah satu peristiwa yang kuingat adalah peristiwa menyedihkan yang terjadi padaku di masa kecil… Bayangkan! Kejadian di masa kecil! Sekarang kalian tahu hebatnya pikiran manusia dalam mengingat dan perasaan manusia dalam merekam, bukan? Suasana sendu langit sore kelabu saat itu membuatku mengenang kejadian di mana dulu aku sering diolok-olok dan diledek oleh teman-temanku. Aku semakin sedih saat mengenang detil yang terekam dengan kuat saat mereka meledek diriku. Kata-kata kasar, umpatan-umpatan menyakitkan, dan ekspresi wajah mereka yang begitu dingin, itu semua membuatku merasa sedih walaupun kejadian tersebut telah berlalu belasan tahun yang lalu. Bahkan sesekali aku sempat marah dan kesal, kemudian berpikir negatif… Kenapa aku dulu tidak membalas mereka dengan sekejam-kejamnya, ya?

Bahkan sesekali aku sempat marah dan kesal, kemudian berpikir negatif…

     Setelah itu, peristiwa lain lagi kukenang. Kali ini adalah kejadian yang baru-baru saja kualami. Aku mengingat dengan jelas, bahwa saat itu aku sedang mengendarai sepeda motorku dengan santai. Lalu aku tiba di sebuah pertigaan, di mana aku hendak terus lurus. Dari arah berlawanan, aku melihat sebuah sepeda motor berkendara dengan kencang dan merapat ke bagian tengah jalan. Walaupun dia tidak menyalakan lampu sein, aku tahu dia akan berbelok masuk ke cabang pertigaan, ke arah kiriku. Ya, setelah lama berkendara di jalan, kalian pasti akan memiliki sejenis indera keenam. Kalian tiba-tiba saja dapat mengetahui bahwa mobil ini akan berbelok, bahwa sepeda motor ini akan berhenti, bahwa lampu lalu lintas akan segera berubah warna. Lucu, bukan? Sepengetahuanku, konsultan dan peramal adalah sebagian kecil pekerjaan yang juga akan mengasah indera keenam kalian juga, loh. Cobalah buktikan…

     Lalu, melanjutkan ceritaku sebelumnya, aku dan si pengendara yang akan berbelok itu tiba di pertigaan kurang lebih hampir bersamaan. Aku sedikit lebih dahulu tiba karena jarakku sebelumnya memang lebih dekat ke cabang pertigaan. Aku kemudian terus melaju lurus dengan santai, walaupun aku telah melihat si pengendara yang akan berbelok itu hampir memotong jalanku. Untuk menghindari aksi nekatnya, aku sedikit membelokkan sepeda motorku, dan saat itulah terjadi sesuatu yang menyulut kekesalanku. Si pengendara yang akan berbelok itu, entah sengaja atau tidak, juga terus melaju, sehingga bagian belakang sepeda motorku terserempet sedikit dengan bagian depan sepeda motornya. Aku yang tengah melaju tidak dapat berhenti begitu saja dan dirinya, saat aku menoleh ke belakang, juga terus melaju dengan santai. Aku sungguh kesal dan marah… Apa sih maunya orang itu? Huuuh… Rasanya ingin sekali aku mengulang waktu tersebut dan mengejarnya, lalu meneriakinya tanpa ampun… Aaaaaah!!!

Aku sungguh kesal dan marah…

     Tak kusangka perjalananku telah usai. Aku sedari tadi duduk di jok bagian belakang sepeda motor sebagai seorang penumpang. Sepeda motor itu dikendarai oleh ayahku, dan kami berdua sekarang sudah tiba di tujuan kami. Ayahku memarkir sepeda motor dan kami berdua turun darinya. Kami telah tiba di sebuah toko yang menjual akuarium, ikan hias, makanan ikan, dan berbagai perlengkapan pelengkap akuarium. Kami tiba di toko tukang ikan yang tidak begitu jauh dari rumah kami. Ya, kami memang berencana untuk membeli beberapa perlengkapan akuarium dan makanan ikan saat itu.

     Ayahku yang berkeliling dan memilih, sementara aku melihat-lihat ikan hias yang ada. Tugasku saat itu memang hanyalah membantu membawa barang-barang yang dibeli, jadi sekarang aku dapat bersantai. Saat itu, aku melihat-lihat banyak ikan hias, yang semuanya merupakan ikan air tawar. Ya, kurasa memang wajar jika banyak tukang ikan menjual ikan air tawar saja, karena ikan air laut butuh perawatan dan perlengkapan lebih banyak. Walaupun memang, warna-warni ikan air laut lebih kaya daripada ikan air tawar. Coba saja kalian perhatikan ikan botana, ikan giru, dan banyak ikan air laut lainnya.

     Saat aku melihat-lihat ikan, aku mendengar percakapan menarik antara salah satu tukang ikan dan pelanggannya, “Pak, ikan sepat ini jangan digabungkan dengan ikan lainnya kalau akuarium Bapak tidak terlalu besar. Mereka biasanya galak kalau dengan ikan yang lain di akuarium sempit. Kalau bapak mau ikan yang bisa digabungkan, bisa memilih ikan mas, ikan mas koki, ikan sapu-sapu, dan ikan bendera. Tapi pastikan ukuran mereka semua tidak jauh berbeda, kasihan ikan yang lebih kecil kalau mereka digabungkan. Kadang-kadang yang besar suka mengganggu yang kecil.”

Kadang-kadang yang besar suka mengganggu yang kecil.

     Si tukang ikan berjalan ke suatu arah, diikuti oleh pelanggannya. Mereka berhenti, lalu si tukang ikan melanjutkan penjelasannya, “Atau ini Pak. Ikan cupang saja kalau memang akuariumnya kecil. Tapi satu ekor saja, karena Bapak tahu sendiri kan, ikan cupang itu galak dengan sesamanya yang laki-laki. Padahal yang bagus siripnya itu yang laki-laki. Nah, ikan cupangnya di akuarium kecil Bapak nanti ditemani dengan ikan-ikan kecil ini, ikan neon atau ikan guppy. Tapi kalau memang ingin memelihara ikan-ikan yang kecil, paling-paling repotnya saat mengganti air, Pak. Takut kalau-kalau ikannya tidak sengaja tersedot atau terbuang. Hahaha…”

     Si pelanggan menggeleng dan berkomentar, “Wah, repot juga ya Pak. Ikan-ikan ini semua punya sifat dan kebutuhannya mereka sendiri.” Si tukang ikan kemudian menjelaskan setelah tertawa lagi sejenak, “Hahaha… Yah begitu deh Pak. Mereka kan cuma ikan. Kalau marah ya marah, stres ya stres, berantem ya berantem. Kita manusia yang punya otak yang memikirkan bagaimana yang terbaik untuk mereka semua. Biar mereka nggak marah, nggak stres, nggak berantem. Kita yang pelihara, kita yang atur, kita yang tanggung jawab.”

     Aku mengangguk-angguk dari tempat tersembunyi. Benar juga… Seperti ikan-ikan itu yang hanya punya naluri, emosi kita mirip seperti ikan-ikan itu. Ada emosi yang namanya marah, kesal, sedih, depresi, takut, kecewa, dan lain-lain. Yang ikan-ikan itu tahu hanya hidup dan bertahan hidup. Begitulah ikan yang bernama marah sebenarnya ingin terus marah dan marah, begitu juga ikan bernama kesal, sedih, depresi, takut, serta kecewa. Mereka ingin terus dan terus begitu. Tapi… Jika memang ikan-ikan itu hidup di dalam akuarium hati yang dirawat oleh seorang manusia hidup, kitalah yang harus bisa memelihara mereka, mengatur mereka, dan bertanggung jawab terhadap mereka. Kitalah yang harus pintar-pintar mengendalikan mereka. Karena hampir mustahil untuk menghilangkan mereka dari akuarium hati kita, bukan? Toh tanpa mereka, akuarium hati kita akan seperti mati, iya kan? Membosankan…

Aku mengangguk-angguk dari tempat tersembunyi.

^_^

Thursday, July 21, 2016

Polisi Tidur

... Saat dirimu menyadari ada polisi tidur di hadapanmu di kala berkendara, apakah dirimu memelankan laju? ...

O_O

     Aku berkendara di hari yang sibuk ini dari tempat kediamanku menuju ke kampus. Cuaca dan suasana pagi itu sangat cerah dan menyenangkan. Jalan tidak terlalu ramai walaupun hari itu sebenarnya merupakan hari kerja. Kemungkinan besar ini karena diriku yang berkendara berlawanan dengan arah yang kebanyakan ditempuh oleh orang-orang. Orang-orang bepergian dari daerah pinggiran kota menuju ke pusat kota untuk berangkat dari rumah mereka ke tempat mereka berkesibukan, sementara diriku pergi dari daerah pusat kota ke daerah pinggiran kota.

     Ya, keadaan-keadaan kecil seperti ini disyukuri saja, dan memang seharusnya disyukuri, karena jika kita berpikir kritis, kelebihan-kelebihan kecil seperti inilah yang kadang-kadang terlupakan dan terabaikan. Aku seharusnya bersyukur karena Tuhan telah membuat keajaiban kecil dengan mengizinkanku tinggal di daerah pusat kota dan beraktivitas di daerah pinggiran kota, sehingga dapat menikmati lancarnya lalu lintas jika dibandingkan dengan beberapa orang lainnya. Contoh lainnya lagi, mereka yang bekerja di taman hiburan seharusnya bersyukur karena ada saat-saat di mana mereka dapat menikmati liburan di taman hiburan secara cuma-cuma, di kala orang lain harus membayar begitu mahal untuk dapat masuk ke taman hiburan. Dan contoh terakhir, mereka yang di halamannya tumbuh beberapa batang pohon belimbing, dapat menikmati belimbing secara gratis pada musimnya sementara orang lain harus membeli belimbing untuk dapat memakannya. Ya, intinya, ingatlah selalu kelebihan-kelebihan kecil yang Tuhan titipkan pada diri kita masing-masing.

... dan memang seharusnya disyukuri, ...

     Kembali ke sepeda motor yang sedang kukendarai, awan berwarna putih membuat hati terasa bersemangat dan latar langit berwarna biru membuat pikiran begitu bebas. Sepeda motorku melaju santai dan terkadang didahului maupun mendahului kendaraan bermotor lainnya. Suatu ketika, saat tengah berpacu di atas jok sepeda motorku yang berwarna hitam, aku dikagetkan oleh sebuah angkutan umum yang secara tiba-tiba menyalipku dengan terburu-buru. Lebih parahnya lagi, seolah-olah tidak merasa bersalah, mobil angkutan umum itulah yang membunyikan klakson layaknya sedang menyalahkanku.

     Baiklah, dari mana aku tahu bunyi klakson itu berarti bahwa pengendara yang membunyikannya sedang menyalahkanku? Begini, Kawan… Jika kalian telah lama berkendara di jalan dan berpengalaman berkeliling kota di atas aspal, pasti ada banyak hal yang lama-kelamaan kalian sadari dan mengerti, walaupun tidak ada yang mengajarkan teori tentang hal-hal tersebut pada kalian. Contohnya adalah bagaimana membentuk barisan kendaraan yang efisien. Apa maksudnya? Begini… Misalkan kalian sedang beramai-ramai bersama kendaraan lainnya di jalan dan dari kejauhan muncul bagian depan kendaraan dari sebuah pertigaan yang akan memotong jalur lurus kalian. Tanpa kalian sadari, kalian dan kendaraan yang ada di sekitar kalian akan sedikit demi sedikit berbaris dan mengambil jalur jauh dari bagian depan kendaraan yang muncul tersebut. Begitulah akhirnya kalian dan kendaraan di sekitar kalian dapat mengambil kesempatan kecil untuk tidak terhenti oleh kendaraan yang keluar dari pertigaan itu. Ingat dan sadarkah kalian bahwa kalian pernah berbuat seperti ini? Atau bahkan sering?...

Contohnya adalah bagaimana membentuk barisan kendaraan yang efisien.

     Contoh lainnya adalah saat kalian sedang memarkir kendaraan kalian di tempat yang tidak terlalu luas. Awalnya, kalian pasti sangat kesulitan dan khawatir, terutama jika kendaraan yang kalian parkir cukup besar. Akan tetapi, sebanyak apapun orang-orang di luar sana memberi teori pada kalian tentang bagaimana cara memarkir kendaraan, hampir semua teori tersebut tidak akan kalian ingat-ingat dengan susah payah saat kalian telah berpengalaman memarkir kendaraan. Hal ini karena kalian telah terbiasa dan tahu efek dari setiap injakan gas, injakan rem, dan putaran kemudi yang kalian buat, bahkan tanpa mengingat teori yang diajarkan pada kalian. Dan apa buktinya bahwa teori ini tidak berusaha kalian ingat-ingat lagi? Buktinya adalah… Coba saja sekarang kalian mengajar bagaimana caranya memarkir kendaraan pada orang lain… Pasti teori yang keluar dari mulut kalian tidak lagi sama persis dengan apa yang pernah kalian terima, karena teori awal yang kalian terima telah diproses lebih lanjut oleh pengalaman nyata yang kalian alami saat memarkir kendaraan.

     Kembali ke cerita kita… Salah satu teori yang aku, dan tentunya kalian, sadari dan mengerti setelah sedikit banyak menghabiskan waktu hidup kita yang berharga di jalan adalah, setiap klakson tidaklah sama… Setiap klakson menyimpan makna dan kesannya sendiri-sendiri, dan telinga pengendara yang berpengalaman dapat membedakannya. Klakson jenis pertama adalah klakson yang ditekan sekali dua kali pendek-pendek, yang biasanya berguna untuk mengingatkan sesuatu. Misalnya mengingatkan lampu lalu lintas yang telah berwarna kuning setelah lama bertengger memperlihatkan warna merah, atau mengingatkan bahwa ada kendaraan yang sedang berusaha mendahului. Klakson jenis kedua adalah klakson yang ditekan sekali dua kali panjang-panjang, yang biasanya berguna untuk memanggil pihak tertentu di jalan. Misalnya untuk memanggil pedagang asongan, atau tukang parkir, atau bahkan teman kita yang kita jemput. Klakson jenis ketiga adalah klakson yang ditekan panjang pendek bergantian sehingga terkadang menyerupai bunyi lagu, yang berfungsi mirip dengan klakson jenis pertama, namun dapat mengurangi unsur mengagetkan dan ketegangan.

... setiap klakson tidaklah sama…

     Lalu ada jenis klakson terakhir, yaitu klakson yang kudengar pagi itu, yang dibunyikan oleh si pengendara angkutan umum padaku. Sebuah klakson yang ditekan sekali saja, sekuat tenaga, tanpa jeda dan henti… Klakson seperti ini muncul karena pengendara yang membunyikannya menganggap bahwa kemarahannya dan kekuatannya yang dipusatkan untuk menekan tombol klakson dapat menghantam orang lain yang mendengarkannya. Klakson panjang dan keras itu terus dan terus berbunyi dengan bisingnya selagi mobil angkutan umum itu berusaha mendahuluiku dengan sangat kencang. Klakson itu terus dibunyikan sampai si pengendara angkutan umum dapat sepenuhnya mendahuluiku dengan manuvernya yang, menurutku, berbahaya. Ah, ya sudahlah… Sabar saja diriku…

     Setelah melewatiku, aku melihat mobil angkutan umum itu tidak memelankan lajunya. Dia masih tetap berkendara dengan kencang sambil menghindari dan mendahului pengendara lain, sambil masih tetap membunyikan klaksonnya yang sangat tidak sopan, menurutku. Bahkan, mobil angkutan umum itu tidak memberikan kesempatan pada pejalan kaki untuk menyeberang di atas zebra cross. Angkutan umum itu terus berkendara dengan cepat sambil sering-sering membunyikan klaksonnya. Semoga saja mobil angkutan umum itu tidak mengalami kecelakaan dan tidak mencelakakan kendaraan lainnya, Tuhan… Kasihan pengendaranya maupun orang-orang lain…

     Tidak berapa lama kemudian, sekian jauhnya di depanku, ada sebuah polisi tidur. Polisi tidur itu telah lama berada di sana dan berfungsi untuk mencegah kendaraan melaju terlalu cepat. Aku melihat dari kejauhan, dari belakang mobil angkutan umum yang mendahuluiku dengan berbahaya tadi, ternyata mobil angkutan umum itu sedang mendekati polisi tidur itu dengan sangat kencang. Aku menebak bahwa pengendara angkutan umum itu akan menerobos polisi tidur tersebut dengan cepat. Akan tetapi aku salah…

Akan tetapi aku salah…

     Sebelum si pengendara angkutan umum melewati polisi tidur itu, terlihat si pengendara memelankan laju kendaraannya sepelan mungkin. Sehingga terlihat mobil angkutan umum itu dapat melewati polisi tidur dengan sangat mulus, tanpa klakson yang membabi buta. Saat mobil angkutan umum itu melewati polisi tidur tersebut, terlihat sesuatu yang sangat berbeda dengan apa yang dilakukan mobil angkutan umum itu padaku beberapa saat sebelumnya. Mobil angkutan umum itu ternyata dapat berkendara dengan pelan dan sopan, mobil angkutan umum itu ternyata dapat menghentikan bunyi klaksonnya yang mengganggu, mobil angkutan umum itu ternyata dapat berkendara dengan baik.

     Sembari aku berkendara dan melupakan mobil angkutan umum yang kutemui sebelumnya, aku secara tidak sengaja menyaksikan beberapa hal lain yang serupa di tengah perjalananku menuju kampus. Aku beberapa kali didahului oleh kendaraan-kendaraan secara terburu-buru dan, menurutku, tidak sopan. Akan tetapi, aku melihat mereka dapat berkendara dengan baik saat berhadapan dengan polisi tidur. Aku juga sempat melihat beberapa orang saling mendahului dengan berbahaya, namun mereka dapat berkendara dengan baik saat berhadapan dengan polisi tidur. Ya, tentu saja salah satu alasan mereka berkendara dengan pelan saat melewati polisi tidur adalah karena, jika para pengendara itu melewati polisi tidur dengan kencang, mereka yang akan rugi sendiri, karena mungkin beberapa bagian kendaraan mereka akan rusak dan diri mereka dapat saja terluka. Karena alasan-alasan ini aku menjadi sedih… Mungkinkah orang-orang pada masa kini tidak lagi memikirkan kepentingan dan keselamatan orang lain? Mungkinkah orang-orang pada masa kini lebih suka berbuat seenaknya sendiri? Mungkinkah orang-orang pada masa kini menganggap berharga diri mereka dan kepunyaan mereka, namun menganggap orang lain tidak berharga dan tanpa nilai? Mungkinkah itu sebabnya polisi tidur lebih dihormati daripada orang-orang hidup yang melintasinya?

Karena alasan-alasan ini aku menjadi sedih…

^_^

Monday, July 18, 2016

Sibuk

... Bagaimana perasaanmu terhadap temanmu yang terlalu sibuk, sampai-sampai tidak punya waktu untuk bercengkerama denganmu? ...

O_O

     Hari ini aku bangun cukup pagi, meskipun hari itu adalah hari Sabtu. Hari di mana banyak orang memilih untuk beristirahat dan bersantai daripada beraktivitas dan harus bangun pagi. Sebenarnya aku pun memiliki kebiasaan seperti itu, di mana aku biasanya bersantai di rumah dan bangun tidak terlalu pagi di hari Sabtu, akan tetapi hari Sabtu ini adalah sebuah hari yang berbeda. Aku memiliki janji dengan kekasihku dan janji hari ini bukanlah janji yang biasa. Hari ini aku dan kekasihku akan bepergian ke banyak tempat untuk melihat-lihat dan melakukan beberapa hal.

     Pertama-tama, pada pagi hari kami perlu mengunjungi tempat ibadah kami untuk menghadiri sebuah acara ibadah yang memang dijadwalkan pada Sabtu pagi itu. Berikutnya, aku dan kekasihku akan pergi ke sebuah tempat perbelanjaan untuk membeli beberapa barang, baik untukku maupun untuk dirinya. Lalu, kami berencana untuk pergi ke sebuah bioskop untuk menonton sebuah film, yang memang sudah lama kami rencanakan berdua untuk ditonton bersama-sama. Kemudian, pada sore harinya, kami berencana untuk mengunjungi rekan kami yang sedang dirawat di rumah sakit. Sampai akhirnya, pada malam hari, aku akan mengantar kekasihku itu pulang dan aku juga pulang. Sepertinya hari Sabtu ini, waktuku terpakai lebih banyak daripada hari kerja ya… Hahaha… Tapi sudahlah, dinikmati saja…

     Tapi, selain daripada segala sesuatu yang telah kami rencanakan, pertemuanku dengan kekasihku hari ini terasa begitu membuatku bersemangat. Selain tentu saja karena rasa kasihku padanya dan rinduku di dalam hati, aku merasa bersemangat juga karena banyak hal yang ingin aku ceritakan padanya saat kami berdua bertemu nanti. Banyak hal yang terjadi padaku selama seminggu ini.

Banyak hal yang terjadi padaku selama seminggu ini.

     Pertama-tama, aku ingin menceritakan sebuah kejadian lucu di tempatku bekerja yang terjadi beberapa hari yang lalu. Temanku secara tidak terduga membawa hewan peliharaannya untuk diletakkan di kantor. Untung saja hewan peliharaannya itu hanya berupa seekor ikan mas mungil yang hidup di sebuah akuarium bulat kecil, sehingga keberadaannya tidak terlalu mencolok dan perawatannya tidak terlalu merepotkan. Yang lucu adalah, temanku terlihat begitu akrab dan dekat dengan ikan mas miliknya itu. Dia sering mengajak bicara ikan masnya itu, dia sering terlihat tengah menunjukkan sesuatu pada ikan masnya itu, dan bahkan, dia terlihat sering mencurahkan isi hati pada ikan masnya itu. Tapi, menurut kami, sifatnya ini masih bisa dimengerti dan masih dalam batas kewajaran, maka kami tidak mempermasalahkannya.

     Kedua, aku ingin juga menceritakan kejadian lucu yang terjadi di rumah beberapa hari yang lalu. Ibuku suatu ketika meminta tolong pada adikku untuk membeli gula di sebuah warung dekat rumah. Ibuku sengaja meminta tolong pada adikku karena dua alasan. Pertama, karena di rumah sedang tidak ada yang dapat dimintai tolong, dan kedua, karena ibuku ingin memberikan pelajaran dan pengalaman baru pada adikku tentang bagaimana caranya berbelanja. Ibuku kemudian memberi instruksi yang sangat jelas, yaitu menyapa pedagangnya, kemudian menanyakan keberadaan barang yang ingin dibeli, lalu menanyakan harga barang yang ingin dibeli, sampai akhirnya membayar, menunggu uang kembali, dan membawa pulang barang. Semuanya jelas, bukan?

Semuanya jelas, bukan?

     Tapi tentu saja kadang-kadang saat melakukan sesuatu untuk pertama kalinya, ada hal yang membingungkan. Adikku pergi ke warung dan melakukan semua sesuai dengan petunjuk dari ibuku. Sayangnya, ibuku tidak memberitahukan sesuatu yang sangat mendasar pada adikku, yaitu ‘nanti pedagangnya akan memasukkan barang dagangan ke dalam kantong plastik, nah setelah itu baru kamu bawa barangnya pulang’. Ya, sebenarnya tidak ada yang bisa disalahkan sih… Kadang-kadang beberapa hal memang sudah dianggap wajar sehingga tidak perlu diberitahukan berulang-ulang lagi, tapi kadang-kadang beberapa hal yang sudah dianggap wajar masih perlu diberitahukan sedetil mungkin, terutama untuk seseorang yang baru saja belajar, contohnya adikku. Saat adikku pulang, ibuku tersenyum geli melihat adikku. Adikku ternyata menenteng sebungkus besar gula pasir dengan kedua tangannya tanpa kantong plastik. Adikku terlihat berjalan dengan susah payah sambil membawa sebungkus gula tersebut. Memang ada-ada saja kelakuan seorang anak ya… Hahaha…

     Tapi tentu saja, selain kejadian-kejadian lucu itu, ada banyak hal lain yang ingin kubicarakan juga dengan kekasihku. Ya, tentang kabar keluarga kami, tentang rencana-rencana kami di masa depan, tentang nasihat-nasihat yang kudapat dari temanku yang kurasa bermanfaat juga untuk kekasihku itu. Ya, pokoknya hari ini kurasa akan menjadi hari yang padat deh…

Ya, pokoknya hari ini kurasa akan menjadi hari yang padat deh…

     Sebelum aku pergi, aku baru menyadari bahwa waktu telah menunjukkan pukul delapan. Duh, padahal aku belum berdoa pagi. Tapi saat itu aku sedang terburu-buru sekali karena banyaknya hal yang rencananya akan kulakukan. Maafkan aku ya, Tuhan… Maaf sekali untuk hari ini… Aku sedang sibuk dan terburu-buru… Toh kesibukanku juga untuk membahagiakan orang lain, sesuai dengan kehendak-Mu, kan?... Nanti pasti aku berdoa… Pasti, Tuhan…

-------ooo-------

     Aku tiba di tempat kediaman kekasihku dan menyapanya dari luar. Dia membuka pintu dengan ceria dan gesit. Aku kemudian dipersilakan masuk dan duduk dalam ruang tamu. Sejenak ibunya muncul, menyapa diriku, dan berbincang sejenak sebelum beliau akhirnya pergi dari ruang tamu. Kekasihku itu masih belum muncul juga. Begitulah aku menunggu…

     Kekasihku itu kemudian muncul sejenak dan membawakan segelas air. Sejenak aku mengira dia sudah tidak sibuk dan akan segera duduk di sisiku untuk berbicara denganku. Akan tetapi, ternyata aku salah. Belum sempat aku berkata apa-apa, dia berkata padaku, “Tunggu sebentar ya… Aku mau menyiapkan beberapa potong kue untukmu… Sabar ya…” Aku mengangguk dan kembali menunggu…

Kekasihku itu kemudian muncul sejenak dan membawakan segelas air.

     Beberapa saat berlalu dan kekasihku membawa sepiring kue untuk kucoba. Dia meletakkannya di atas meja. Aku sebenarnya berharap dia sudah selesai dan segera duduk di sisiku, karena banyak sekali yang ingin kuceritakan dan kubicarakan dengannya. Tapi, sekali lagi, dia ternyata belum selesai dengan kesibukannya. Dia mengatakan bahwa dia ingin membawakan sarapan untukku. Tapi sebelum dia pergi, aku menggenggam pergelangan tangannya dengan lembut dan berkata, “Sudah, jangan repot-repot… Terima kasih untuk ini semua, tapi aku tidak terlalu perlu ini semua… Yang aku perlu adalah kamu duduk di sisiku dan kita bicara… Banyak yang ingin kubicarakan denganmu… Banyak kejadian yang ingin kuceritakan, banyak kabar yang ingin kuberitahukan, banyak nasihat yang ingin kubagikan… Ya?”

     Kekasihku itu mengangguk dan tersenyum mengerti. Dia duduk di sisiku dan kami mulai berbincang… Saat itu aku merasa tidak adil pada Tuhan… Mungkinkah Tuhan juga mengatakan hal yang sama padaku juga saat aku beralasan bahwa aku terlalu sibuk untuk bertemu dalam doa dengan-Nya? Apakah Dia berkata dan bertanya padaku, “Sudah, jangan repot-repot… Terima kasih untuk ini semua, tapi Aku tidak terlalu perlu ini semua… Yang Aku perlu adalah kamu duduk di sisi-Ku dan kita bicara… Banyak yang ingin Kubicarakan denganmu… Banyak kejadian yang ingin Kuceritakan, banyak kabar yang ingin Kuberitahukan, banyak nasihat yang ingin Kubagikan… Ya?”

Saat itu aku merasa tidak adil pada Tuhan…

^_^