Translate

Friday, January 6, 2017

Pedang Raja : (8) Kisah Perjuangan Sang Buaya

... Malu karena berbeda dan disalahpahami adalah beberapa penyebab utama hilangnya pribadi-pribadi unik dan berharga di dunia, yang sebenarnya dapat menciptakan perubahan-perubahan yang baik dan nyata. ...

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (7) Kisah Pemanah yang Setia

… aku adalah seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun …

     Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga yang unik. Kukatakan unik karena memang perpaduan sifatnya yang kurasa tiada duanya. Ibuku itu dapat menjadi orang yang paling lemah lembut di rumah sekaligus paling mengerikan di rumah. Ibuku itu dapat menjadi orang yang paling serbabisa di rumah sekaligus paling kebingungan di rumah. Ibuku itu juga dapat menjadi seorang yang paling penuh pengertian di rumah sekaligus paling tidak berperasaan di rumah. Semua sangat tergantung dari suasana hatinya dan suasana di rumah. Mungkin memang perempuan seperti itu ya… Hidup dan kesehariannya sangat dipengaruhi oleh perasaannya dan keadaan di sekitarnya.

     Ya misalnya saja, pada suatu hari Ibu pernah kulihat menghibur dan memeluk Ayah saat Ayah sedang kebingungan, entah tentang uang atau utang. Namun pada hari yang lain, aku pernah melihat Ibu memarahi Ayah tanpa ampun saat mereka membicarakan tentang hal yang sama. Selain itu, pada suatu hari, aku pernah melihat Ibu mengerjakan banyak hal di rumah dengan cepat dan gesit sekali. Namun pada hari yang lain, aku juga pernah melihat Ibu kebingungan saat melihat keadaan di rumah, lalu memutuskan untuk tidur saja. Contoh lainnya lagi, pada suatu hari, aku pernah menyaksikan sendiri bagaimana Ibu meminta tolong padaku dan Ayah untuk melakukan ini itu, untuk memperbaiki beberapa bagian atap yang terlihat bocor di rumah. Namun pada hari yang lain, aku pernah melihat Ibu bertanya pada Ayah dengan panik tentang apa yang harus dilakukannya saat hari hujan dan melihat air hujan sedang menetes dari atap yang bocor di rumah. Apa yang ada di pikiran dan perasaan Ibu sepertinya akan senantiasa menjadi misteri bagiku, tapi aku percaya sesuatu terlepas dari apa yang setiap hari kulihat dari Ibu. Aku selalu percaya dan dapat merasakan bahwa Ibu sangat mengasihi aku dan Ayah. Jadi tenang saja, Bu, aku pasti akan senantiasa menyayangi Ibu dan juga Ayah.

     Jika bercerita tentang ibuku, salah satu hal yang aku sukai adalah dia gemar bercerita padaku tentang banyak kisah. Kisah-kisah yang diceritakan oleh Ibu, kebanyakan adalah tentang fabel dan dongeng dari negeri antah-berantah, yang merupakan khayalan semata. Biasanya Ibu menceritakan kisah-kisah tersebut saat sedang menasihatiku, saat kami sedang menikmati waktu luang, dan saat sebelum aku tidur pada malam hari.

Kisah-kisah yang diceritakan oleh Ibu, kebanyakan adalah tentang fabel dan dongeng dari negeri antah-berantah, yang merupakan khayalan semata.

     Di antara banyak kisah yang Ibu ceritakan, ada sebuah kisah yang sangat menarik bagiku. Bukan karena kisah tersebut adalah kisah terbaik di dunia atau kisah dengan akhir yang menakjubkan, tapi karena ada sesuatu yang mengusik perasaanku saat aku mendengar kisah tersebut. Aku merasa bahwa aku mengenal kisah tersebut dan aku pernah mendengar kisah itu sebelumnya di masa lalu. Akan tetapi, sekeras apapun aku berusaha mengingat, aku tidak pernah berhasil mengingat kapan aku pernah mendengar kisah tersebut. Kisah itu terasa sangat tidak asing dan akrab di telingaku. Tapi ya mungkin itu hanya perasaanku saja.

     Kisah ini adalah kisah tentang perjuangan seekor buaya, yang berusaha menunjukkan pada teman-temannya di hutan bahwa dirinya tidak berbahaya walaupun seluruh dunia menganggap semua buaya itu berbahaya. Ibu berkata bahwa kisah ini adalah fabel dari masa lalu dan sudah berusia sangat tua. Beginilah kisah itu …

     Para buaya merupakan salah satu kelompok hewan yang paling ditakuti dan disegani oleh para hewan lainnya di hutan. Alasannya tentu saja dapat ditebak karena kekuatan dan kebuasan para buaya di dalam air, serta juga karena cara mereka mengintai dan berburu dari dalam ketenangan air sungai secara tak tertebak. Para buaya ini menempati daerah rawa-rawa besar yang berada di salah satu sisi hutan, dekat dengan sungai tempat para hewan lain mencari air minum. Hal ini menyebabkan hewan-hewan lainnya di hutan menjadi waspada dan berhati-hati saat mereka minum dari tepi sungai tersebut. Selain itu, hal ini juga menyebabkan hewan-hewan lainnya di hutan menghindari masalah berbentuk apapun dengan para buaya. Telah bertahun-tahun lamanya para buaya ini menikmati keadaan mereka yang seakan-akan menjadi raja di sungai tersebut, tanpa ada yang mengganggu dan mengusik keberadaan mereka. 

Para buaya merupakan salah satu kelompok hewan yang paling ditakuti dan disegani oleh para hewan lainnya di hutan.

     Di antara para buaya tersebut, ada seekor buaya muda yang berbeda dari buaya-buaya lainnya. Buaya muda ini tidak suka dan tidak mau menyakiti hewan-hewan hutan lainnya. Sehingga sehari-hari, buaya ini lebih memilih untuk berburu ikan-ikan di dalam sungai daripada berburu hewan-hewan yang sedang minum di tepi sungai.

     Keadaan ini berlangsung lama tanpa diketahui oleh ayah dan ibu si buaya muda. Si buaya muda pun menyadari bahwa kebiasaannya akan menimbulkan perdebatannya di kalangan para buaya, sehingga si buaya muda menyembunyikan kebiasaannya ini. Namun sayangnya, sepandai-pandainya bangkai disembunyikan, pasti lama-kelamaan baunya akan tercium juga, dan hal inilah yang terjadi pada si buaya muda.

     Si buaya muda, suatu hari melihat anak seekor rusa yang sedang minum di tepi sungai tempat dia berada. Tanpa sengaja, anak rusa itu terjatuh ke dalam sungai tanpa disadari oleh rombongan rusa. Si buaya muda merasa kasihan pada si anak rusa dan menolongnya. Si buaya muda berusaha mendorong si anak rusa dengan moncongnya ke tepi sungai. Namun sayang sekali, rombongan rusa yang baru belakangan memperhatikan si anak rusa yang tenggelam menyalahpahami pemandangan yang mereka lihat. Rombongan rusa mengira bahwa si buaya muda akan memakan si anak rusa. Akibatnya, saat si buaya muda tiba di tepi sungai, rombongan rusa berusaha menyelamatkan si anak rusa dan menginjak-injak si buaya muda. Si buaya muda merasa kesakitan dan sedih, namun dia tidak mendapat kesempatan untuk menjelaskan apapun, sehingga dia hanya dapat berenang menjauh.

Tanpa sengaja, anak rusa itu terjatuh ke dalam sungai tanpa disadari oleh rombongan rusa.

     Layaknya nasib seseorang yang sudah jatuh tertimpa tangga, si buaya muda ternyata harus menghadapi kemarahan dari orang tuanya yang tidak sengaja melihat perbuatan si buaya muda. Si buaya muda kemudian berdebat dengan kedua orang tuanya, saling memberikan alasan dan pendapat masing-masing. Ayah dan ibu si buaya muda, yang akhirnya lewat perdebatan ini mengetahui bahwa si buaya muda telah lama bertindak tidak seperti buaya pada umumnya, berkata bahwa sikap si buaya muda dapat mengikis dan menghilangkan rasa hormat yang diberikan oleh para hewan lainnya kepada para buaya. Sementara si buaya muda berkata bahwa dia hanya merasa kasihan pada anak rusa tersebut dan tidak tega memakan hewan-hewan hutan lainnya kecuali ikan-ikan.

     Si buaya muda tetap bertahan pada sikap awalnya, sehingga semakin hari hubungannya semakin renggang dengan kedua orang tuanya dan buaya lainnya. Ya, buaya lainnya akhirnya juga mengetahui bahwa si buaya muda ini berbeda dengan mereka. Namun demikian, orang tua si buaya muda tidak pernah lupa bahwa mereka adalah orang tua dari si buaya muda. Setiap kali buaya lain mengancam atau menyakiti si buaya muda karena perbedaan dirinya, ayah dan ibu si buaya muda selalu berusaha melindungi anak mereka ini. Memang benar jika dikatakan bahwa ayah, ibu, dan anak adalah hubungan yang sangat amat kuat dan tidak akan pernah seutuhnya berakhir. Tapi tetap saja hampir setiap hari, selalu ada perbincangan di antara si buaya muda dan kedua orang tuanya tentang sikap si buaya muda ini. Orang tua si buaya muda masih berharap agar anak mereka dapat bersikap seperti buaya pada umumnya, sementara si buaya muda terus bertahan pada sikap awalnya.

     Hari demi hari berlalu, beberapa kejadian yang serupa dengan peristiwa yang dulu terjadi antara si buaya muda dengan si anak rusa, kembali terjadi. Ya, si buaya muda kadang melihat anak hewan lainnya yang tenggelam di sungai saat mereka sedang minum, lalu si buaya muda menolong mereka, kemudian si buaya muda disalahpahami dan diserang oleh rombongan hewan tempat asal anak hewan yang tenggelam tersebut. Hal ini terjadi berulang kali dengan rombongan banteng, rombongan zebra, rombongan zarafah, dan rombongan kuda.

Hal ini terjadi berulang kali dengan rombongan banteng, rombongan zebra, rombongan zarafah, dan rombongan kuda.

     Sampai pada suatu hari, rombongan gajah yang tiba di tepi sungai dan sedang minum. Dan kembali, kejadian yang sama berulang kembali. Seekor anak gajah tenggelam saat dia sedang asyik minum. Si buaya muda, yang melihat pemandangan itu, merasa harus menolong si anak gajah. Akan tetapi sesuatu menghentikannya. Si buaya muda berpikir bahwa diinjak-injak oleh rusa, kuda, zarafah, zebra, maupun banteng, bukanlah masalah yang menyangkut hidup dan mati. Akan tetapi diinjak-injak oleh gajah adalah sesuatu yang lain. Orang tua si buaya muda pun sering mengingatkan pada si buaya muda untuk menghindari masalah dengan beberapa hewan, yaitu singa, kuda nil, termasuk GAJAH. Detik-detik berlalu, dan si buaya muda memilih untuk mengorbankan hidupnya demi si anak gajah. Si buaya muda menolong si anak gajah, mendorongnya ke tepi sungai.

     Saat tiba di tepi sungai, si buaya muda telah melihat akhir hidupnya. Begitu banyak gajah yang panik saat melihat si anak gajah dan si buaya muda. Si buaya muda tiba di tepi sungai, si anak gajah segera ditolong oleh gajah lainnya, dan beberapa gajah segera mendekati si buaya muda untuk menyerangnya. Si buaya muda hanya dapat menutup matanya, menanti akhir hidupnya.

     Akan tetapi, sebelum ada seekor gajah pun yang menginjak si buaya muda, terdengar suara pekik keras dari seekor gajah lain. Si buaya muda membuka mata dan melihat seekor gajah, yang jauh lebih besar daripada gajah-gajah lainnya, bergerak ke tengah-tengah, antara dirinya dengan gajah-gajah yang ingin menginjak-injaknya. Gajah yang besar itulah yang memekik dan kelihatan sedang menghalangi gajah-gajah lainnya sebelum mereka menyerang si buaya muda. Gajah-gajah lainnya berhenti dan memperhatikan. Gajah yang besar itu kemudian berkata pada si buaya muda, “Terima kasih karena telah menolong anak dari rombongan kami, buaya yang berbeda dari yang lain, buaya yang rela berkorban, buaya yang penuh kasih…”

Gajah-gajah lainnya berhenti dan memperhatikan.

     Si buaya muda merasa kaget dan terharu, dia lalu bertanya, “Jadi, kamu tahu apa yang aku lakukan? Kamu melihat dan mengetahui bahwa aku berusaha menolong anak gajah itu?” Si gajah besar menggeleng dan menjawab, “Tidak, tapi aku tahu tidak ada satu pun buaya yang akan berani menganggu rombongan gajah, sampai akhirnya aku melihat dirimu. Masalahnya adalah, apakah itu karena dirimu gila atau karena dirimu ‘berbeda’? Sesaat tadi cukup bagiku untuk mengetahui bahwa dirimu tidak gila, tapi dirimu ‘berbeda’… Kau tidak panik, kau tidak takut, kau tidak segera melarikan diri, dan kau tidak sedikit pun melukai si anak gajah.” Si buaya muda merasa kagum. Banyak hewan berkata bahwa gajah adalah hewan yang sangat bijaksana, terutama pemimpinnya. Dan saat ini si buaya muda menyaksikan sendiri kebenarannya.

     Si gajah besar kemudian berkata, “Aku melihat kesedihan di raut wajahmu. Aku melihat kesedihan dari seekor hewan yang disalahpahami, tidak dimengerti, dan kebingungan akan apakah yang dilakukannya benar atau salah? Benarkah demikian?” Si buaya muda tersentak. Si buaya muda tidak menyangka bahwa kebijaksanaan si gajah besar sangatlah tajam. Si buaya muda kemudian menceritakan kisah hidupnya dan pilihannya untuk tidak menyakiti hewan hutan lainnya, namun hanya berburu ikan-ikan. Si buaya muda kemudian menceritakan kisah hidupnya dan pilihannya yang menjauhkannya dari para buaya lainnya, termasuk kedua orang tuanya.

     Si gajah besar mengangguk. Dia kemudian menatap ke atas, ke langit, kemudian mengatakan sesuatu yang membuat si buaya muda penasaran, “Jadi kau bilang bahwa kau selalu berburu ikan-ikan dan tidak memburu hewan hutan lainnya… Jadi kau bilang bahwa kau punya masalah dengan para buaya lainnya, termasuk orang tuamu… Menarik… Sungguh menarik…” Si buaya muda mengangguk, lalu si gajah besar melanjutkan, “Untuk masalahmu di darat, serahkan itu padaku. Aku akan mengabarkan pada seluruh hewan di hutan bahwa ada buaya yang tidak perlu mereka hormati karena perasaan takut dan terancam, namun perlu mereka hormati karena buaya itu akan menjadi penjaga dan penyelamat di sungai. Itulah dirimu…” Si gajah menarik napas sebelum melanjutkan, “Tapi… Untuk masalahmu di air, di antara keluargamu dan kaummu, hanya dirimu yang dapat menyelesaikannya… Telah lima tahun berlalu sejak banjir besar terjadi di sungai ini, sungai tempat engkau tinggal. Dan telah lima tahun ini juga kulihat buaya semakin banyak karena kenyamanan yang mereka dapat. Tak kusangka Tuhan mengatur ini semua, salah satunya demi seekor buaya muda seperti dirimu… Lihatlah bagaimana Tuhan menyayangi dirimu… Kulihat cakrawala dan awan-awan telah berbisik bahwa hujan deras akan terjadi seminggu lagi. Saat itu, permukaan air sungai akan naik dan arusnya akan menjadi kejam. Cobalah untuk berjaga-jaga di tepi sungai pada saat-saat mengerikan itu, karena aku merasa yakin kamu akan mendapat kesempatan untuk bersatu dengan keluargamu dan kaummu di tempat tersebut, pada waktu tersebut.”

Tak kusangka Tuhan mengatur ini semua, salah satunya demi seekor buaya muda seperti dirimu… Lihatlah bagaimana Tuhan menyayangi dirimu…

     Si buaya muda masih tidak mengerti arti pesan itu, namun si gajah besar hanya berkata bahwa si buaya muda hanya perlu melakukan pesan si gajah besar dan si buaya muda nantinya akan mengerti maksud si gajah besar. Si buaya muda mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada si gajah besar. Tidak lupa si buaya muda mengucapkan salam perpisahan pada gajah-gajah lainnya. Saat itu, para gajah telah bisa menerima si buaya muda dan mengucapkan salam perpisahan yang akrab pada si buaya muda. Si buaya muda merasakan kebahagiaan yang hangat di dalam hatinya saat itu.

     Seminggu berlalu dan kata-kata si gajah besar menjadi kenyataan…

     Banjir besar terjadi di sungai tempat si buaya muda tinggal bersama buaya-buaya lainnya. Pada saat banjir besar seperti ini, hampir tidak ada satu pun buaya yang berani mengarungi sungai karena derasnya sungai. Para buaya memadati daerah pinggiran sungai dan diam di sana sambil menunggu saat nantinya sungai lebih ramah untuk diarungi.

     Pada saat itu, si buaya muda melakukan perkataan si gajah besar. Si buaya muda berjaga-jaga di tepi sungai. Si buaya muda menanti dengan sabar akan apa yang menjadi maksud si gajah besar, walaupun ternyata si buaya muda harus menanti beberapa hari lamanya. Satu hari, dua hari, lalu tiga hari berlalu. Permukaan sungai menjadi semakin tinggi dan arusnya menjadi semakin liar. Si buaya muda tetap setia berjaga-jaga di tepi sungai dan dia dikagetkan oleh sesuatu.

Si buaya muda berjaga-jaga di tepi sungai.

     Si buaya muda mendengar teriakan buaya betina yang anaknya hanyut ke sungai deras. Ternyata jumlah buaya yang semakin banyak membuat daerah tepi sungai menjadi lebih padat, sehingga beberapa buaya perlu berbagi tempat sempit dengan buaya lainnya. Akibatnya, beberapa buaya yang tidak hati-hati, termasuk anak-anak buaya, akan lebih mudah terseret arus sungai. Derasnya arus sungai membuatnya tidak mungkin diarungi oleh siapapun, termasuk oleh para buaya. Si buaya muda pun akhirnya memutuskan untuk mengarungi sungai dan menyelamatkan anak buaya tersebut. Si buaya muda sebenarnya ditahan oleh kedua orang tuanya agar tidak coba-coba masuk ke dalam sungai yang keadaannya tengah berbahaya, namun si buaya muda mengatakan bahwa kedua orang tuanya tidak perlu khawatir dan tidak perlu takut, karena si buaya muda dapat melakukan hal tersebut. Entah dari mana keyakinan yang dia miliki ini, tapi dia merasa yakin karena perkataan si gajah besar.

     Si buaya muda masuk ke dalam sungai dan mulai berenang. Awalnya dia merasa sangat kesulitan, akan tetapi dia merasakan bahwa dia dapat berenang di sungai yang beraliran deras tersebut. Ternyata, tahun-tahunnya selama berburu ikan-ikan di sungai membuatnya lebih gesit dan lebih cepat daripada buaya-buaya lainnya. Dengan bekal itulah dia mengarungi sungai yang tidak bersahabat ini dan menyelamatkan si anak buaya.

     Hari-hari berlalu, dan si buaya muda terus setia berjaga-jaga di tepi sungai, karena hanya dia yang mampu menyelamatkan anak-anak buaya yang tidak sengaja hanyut di sungai deras tersebut. Begitulah yang terus terjadi sampai akhirnya banjir berakhir dan arus sungai kembali bersahabat. Sekarang sudah tidak ada lagi buaya yang berani menghina dan merendahkan si buaya muda karena kebiasaannya berburu ikan dan tidak berburu hewan-hewan hutan lainnya. Orang tua si buaya muda juga mulai bisa menerima dan merasa bangga pada anak mereka. Para buaya pun memilih untuk berburu hewan-hewan hutan di bagian sungai di mana si buaya muda tidak sedang berada di sana, karena mereka segan pada si buaya muda. Selain itu, sekarang hampir seluruh hewan hutan telah mengetahui dari rombongan gajah, bahwa di sungai ada seekor buaya yang tidak perlu mereka hormati karena perasaan takut dan terancam, namun perlu mereka hormati karena buaya itu akan menjadi penjaga dan penyelamat di sungai.

Begitulah yang terus terjadi sampai akhirnya banjir berakhir dan arus sungai kembali bersahabat.

     … Begitulah kisah tentang perjuangan seekor buaya. Kisah yang menarik, bukan? Sungguh sangat banyak pelajaran yang dapat aku petik dari kisah ini. Dan sekali lagi perlu aku tekankan, tetap saja kisah ini tidak hanya sekadar kisah bagiku, tapi entah mengapa aku merasa aku pernah mendengar kisah ini dari orang lain di masa lalu. Entah siapapun dia…

- bersambung -

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (7) Kisah Pemanah yang Setia

Tuesday, January 3, 2017

Pedang Raja : (7) Kisah Pemanah yang Setia

... Jangan meremehkan orang-orang yang memilih untuk tetap setia. Kita tidak tahu seberapa mahal harga yang ia bayar untuk mempertahankan kesetiaannya itu. ...

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (6) Doa yang Benar
Cerita berikutnya : Pedang Raja : (8) Kisah Perjuangan Sang Buaya

… aku adalah seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun …

     Ayahku adalah seorang tukang besi yang gagah dan kuat. Dia adalah laki-laki yang sangat baik hati dan penyayang. Namun di balik keramahan dan kelembutannya, tersimpan juga ketegasan dan keberanian yang kukagumi dan ingin kuikuti. Ayahku itu selalu memperlihatkan kasih sayang dan perhatiannya padaku. Dia sabar mendidik dan mengajarku, dia juga sering memberiku pelajaran hidup lewat nasihat-nasihatnya. Namun di sisi lain, dia juga tidak akan segan-segan menegur dan memarahiku jika aku melakukan sebuah kesalahan atau kenakalan. Perpaduan yang unik yang menempatkan ayahku sebagai teladan utama dan pertamaku di hidup ini.

     Ayah tidak pernah mengeluhkan hari-harinya, yang kulihat sangatlah berat dan sibuk. Ayah bekerja siang dan malam untuk memenuhi kebutuhan kami sekeluarga sehari-hari tanpa mengenal lelah. Ayah rela berkorban waktu dan tenaga, berjerih lelah seperti itu demi aku dan ibuku. Aku sangat menyayangi dan menghormati Ayah. Dan pasti Yah, aku berjanji akan menjadi seorang anak laki-laki yang teguh, tegar, pantang menyerah, dan tidak mudah berputus asa.

     Jika bercerita tentang ayahku, salah satu hal yang aku sukai adalah dia gemar bercerita padaku tentang banyak kisah. Kisah-kisah yang diceritakan oleh Ayah, kebanyakan adalah tentang kepahlawanan dan perjuangan. Ada beberapa kisah yang nyata, namun ada juga kisah-kisah yang hanya berupa dongeng semata. Biasanya Ayah menceritakan kisah-kisah tersebut saat sedang menasihatiku, saat kami sedang menikmati waktu luang, dan saat sebelum aku tidur pada malam hari.

Kisah-kisah yang diceritakan oleh Ayah, kebanyakan adalah tentang kepahlawanan dan perjuangan.

     Di antara banyak kisah yang Ayah ceritakan, ada sebuah kisah yang sangat menarik bagiku. Bukan karena kisah tersebut adalah kisah terbaik di dunia atau kisah dengan akhir yang menakjubkan, tapi karena ada sesuatu yang mengusik perasaanku saat aku mendengar kisah tersebut. Aku merasa bahwa aku mengenal kisah tersebut dan aku pernah mendengar kisah itu sebelumnya di masa lalu. Akan tetapi, sekeras apapun aku berusaha mengingat, aku tidak pernah berhasil mengingat kapan aku pernah mendengar kisah tersebut. Kisah itu terasa sangat tidak asing dan akrab di telingaku. Tapi ya mungkin itu hanya perasaanku saja.

     Kisah ini adalah kisah tentang seorang pemanah yang setia, yang tidak mau mengkhianati Rajanya sendiri karena emas dan perak. Ayah berkata bahwa kisah ini adalah kisah nyata dari seorang prajurit di kerajaan ini pada zaman dahulu kala. Dan seperti yang telah kuberitahukan pada kalian sebelumnya, kisah ini bukanlah kisah dengan akhir yang menakjubkan. Akan tetapi justru sebaliknya, kisah ini adalah kisah yang sangat mengharukan dan menyedihkan, kisah dengan sebuah akhir yang menyayat hati. Beginilah kisah itu …

     Pada masa lalu, kerajaan ini belum menjadi sebuah kerajaan yang sangat besar yang tidak perlu mengkhawatirkan keadaan di sekelilingnya. Akan tetapi kerajaan ini adalah sebuah kerajaan yang berdiri di tengah kerajaan-kerajaan lainnya dan juga suku-suku lainnya. Oleh karena keadaan sekitar kerajaan ini yang dipenuhi berbagai-bagai kerajaan dan suku, maka sang raja dari kerajaan ini pada masa itu perlu berwaspada dan menjalin hubungan dengan hati-hati.


Akan tetapi kerajaan ini adalah sebuah kerajaan yang berdiri di tengah kerajaan-kerajaan lainnya dan juga suku-suku lainnya.

     Pada masa itu, kerja sama dapat terjalin antara kerajaan manapun dan suku manapun. Kerja sama terjadi di berbagai bidang dan diupayakan membawa keuntungan bagi semua pihak yang bekerja sama. Kerja sama di bidang pertanian, di mana ada pihak yang menyediakan lahan, pihak yang menyediakan petani, serta pihak yang menyediakan bahan-bahan dan peralatan. Kerja sama di bidang perairan, di mana ada pihak yang membuka danau atau sungai di wilayah mereka untuk umum, pihak yang menyediakan tukang, serta pihak yang menyediakan alat-alat dan bahan. Ada juga kerja sama di bidang ilmu pengetahuan, di mana ada pihak yang menyediakan guru-guru, pihak yang menyediakan tempat-tempat belajar, serta pihak yang menyediakan bahan dan alat yang dibutuhkan.

     Akan tetapi sayangnya, pikiran manusia dapat memikirkan berbagai hal, termasuk hal yang licik dan egois, yang merugikan dan merusak, serta yang berdampak baik baginya walaupun berdampak buruk bagi orang lain. Maka tidak jarang terjadi juga persekongkolan untuk menyerang pihak lain, persekongkolan untuk merebut wilayah-wilayah yang menguntungkan, serta persekongkolan untuk memperbudak daerah yang kecil dan tidak dapat mempertahankan diri. Pada masa itu, bisa dikatakan sebagai masa yang kacau balau dan penuh rasa waswas bagi banyak orang.

     Termasuk bagi kerajaan ini…

     Di kerajaan ini, pada masa itu, hiduplah seorang pemuda yang miskin, yang tinggal hanya bersama dengan ibu dan ayahnya. Dalam kemiskinannya, keluarga ini hidup sebagai pengemis yang mengharapkan belas kasihan dari orang lain, walaupun sebenarnya pada masa tersebut tidak banyak orang yang dapat memberikan belas kasihan itu pada mereka, karena keadaan yang serba menyulitkan. Pemuda ini suka dengan ketenangan dan tidak pernah berpikir untuk menyakiti orang lain. Pemuda ini adalah seseorang yang akan lebih memilih untuk menyakiti dirinya sendiri, berkorban, dan mengalah, daripada harus menyakiti orang lain.

Pemuda ini suka dengan ketenangan dan tidak pernah berpikir untuk menyakiti orang lain

     Pada suatu hari, tersiarlah pengumuman bahwa pihak kerajaan tengah membuka pendaftaran untuk menjadi prajurit kerajaan. Berita ini sampai di telinga ayah dan ibu si pemuda miskin dan mereka menyarankan agar si pemuda ikut serta mendaftar. Terjadi percakapan dan perdebatan karena si pemuda berkeras bahwa dirinya tidak mau dan tidak bisa menjadi prajurit karena hal itu tidak sesuai dengan keyakinan yang dia miliki. Namun orang tua mereka melihat bahwa kesempatan tersebut adalah kesempatan yang baik bagi putra mereka agar dirinya dapat mengabdikan hidupnya untuk sesuatu yang bermanfaat dan berharga. Pada akhirnya, setelah semalam-malaman berpikir dan berdoa, si pemuda memutuskan untuk ikut mendaftar menjadi prajurit kerajaan, dan terpaksa dengan berat menanggalkan keinginan dirinya sendiri.

     Setelah mendaftar, si pemuda miskin ternyata harus tinggal terpisah jauh dengan orang tuanya dalam jangka waktu yang lama. Di sini kesedihannya bertambah-tambah, namun dia tidak mundur karena orang tua si pemuda senantiasa mengirimkan surat-surat yang menyemangati putra mereka, yang berisi kata-kata penghiburan bahwa mereka pasti akan bertemu kembali. Orang tua si pemuda juga tidak lupa berpesan agar si pemuda menjaga diri baik-baik, serta tetap memiliki sikap dan hati yang baik dan benar.

     Kesedihan si pemuda ternyata tidak berakhir sampai di situ. Selama dia tinggal jauh dari orang tuanya, ternyata proses pelatihan dan tanggung jawab yang harus dia emban begitu berat, melelahkan, dan menyakitkan. Si pemuda mengalami pelatihan yang mendorong ketahanan tubuhnya sampai di ambang batas, si pemuda terkadang dipukuli dan dijahili oleh teman-temannya selama proses tersebut, serta si pemuda juga merasakan kesedihan yang berusaha dipendamnya saat dengan terpaksa dia harus menyakiti, bahkan menghilangkan nyawa orang lain, karena perintah dari komandan mereka.


Kesedihan si pemuda ternyata tidak berakhir sampai di situ.

     Bahkan, pada malam-malam tertentu, saat tengah berbaring tidur, si pemuda sering terlihat melamun sendiri dengan mata terbuka lebar sembari air mata mengalir begitu saja dari kedua sudut matanya. Semuanya karena dia hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Semuanya karena, walaupun tubuhnya sekarang semakin kuat, namun hati dan pikirannya telah luluh lantak, sepenuhnya dijungkirbalikkan. Akan tetapi, si pemuda tidak pernah melupakan nasihat orang tuanya bahwa dia harus menjadi seseorang dengan sikap dan hati yang baik dan benar.

     Seiring waktu berjalan, minggu berlalu, bulan berlalu, dan tahun berlalu. Si pemuda telah dipercaya menjadi pemimpin pasukan pemanah kerajaan, yang bertanggung jawab kepada jenderal besar kerajaan di bawah pimpinan langsung sang raja. Pada masa ini, si pemuda dan kedua orang tuanya telah memiliki kehidupan yang lebih baik daripada masa lalu mereka. Akan tetapi hal ini hanya bagaikan hujan setitik di tengah kemarau panjang. Terik kemarau itu terasa begitu menyiksa, namun hujan membuat keadaan menjadi lebih baik selama beberapa saat, akan tetapi terik yang muncul setelah hujan itu pasti akan terasa lebih menyiksa daripada sebelumnya. Dan itu adalah gambaran yang tepat untuk menggambarkan kelanjutan kisah ini.

     Si pemuda, sebagai pemimpin pasukan pemanah kerajaan, mengetahui banyak rahasia strategi perang kerajaan dan titik kelemahan wilayah kerajaan. Hal ini membuat suatu suku besar melihat adanya peluang untuk mengambil alih kerajaan ini secara licik. Suku besar ini memerintahkan beberapa orang untuk menculik kedua orang tua si pemuda, dan kemudian mengatur waktu pertemuan rahasia antara si pemimpin suku dan si pemuda.


Hal ini membuat suatu suku besar melihat adanya peluang untuk mengambil alih kerajaan ini secara licik.

     Pada waktu pertemuan rahasia ini, si pemimpin suku memberikan penawaran yang dirasanya akan membuat si pemuda membongkar strategi perang kerajaan dan titik kelemahan wilayah kerajaan. Si pemimpin suku menawarkan pada si pemuda untuk memberitahukan semua yang dia tahu tentang strategi perang kerajaan dan titik kelemahan wilayah kerajaan DENGAN imbalan emas dan perak berjumlah luar biasa. Si pemuda dengan yakin dan tegas menolak penawaran ini. Si pemimpin suku kemudian memberikan penawaran lainnya. Si pemimpin suku menawarkan pada si pemuda untuk memberitahukan semua yang dia tahu tentang strategi perang kerajaan dan titik kelemahan wilayah kerajaan ATAU si pemuda akan mati di tempat itu, pada saat itu juga. Si pemuda dengan yakin dan tegas kembali menolak penawaran ini. Si pemimpin suku kemudian tersenyum dan memberikan penawaran lain lagi, penawaran terakhirnya. Si pemimpin suku menawarkan pada si pemuda untuk memberitahukan semua yang dia tahu tentang strategi perang kerajaan dan titik kelemahan wilayah kerajaan ATAU si pemuda akan melihat mayat kedua orang tuanya.

     Si pemuda merasa sangat marah, sedih, dan takut, namun dia tidak dapat melakukan apa-apa. Si pemimpin suku kemudian meninggalkannya dan memberinya waktu satu hari untuk berpikir. Si pemuda berpikir dengan keras di kamar pribadinya di istana kerajaan, dan tangisan tertahan tak henti-hentinya keluar dari mulutnya. Dia begitu menyayangi kedua orang tuanya, namun dia juga mengingat bahwa orang tuanya selalu menasihatinya agar memiliki sikap dan hati yang baik dan benar.

     Akhirnya si pemuda memilih untuk melaporkan hal ini pada sang raja dan karena laporan ini, sang raja mengirimkan mata-mata untuk memperhatikan keadaan suku besar dan melaporkannya kembali pada sang raja. Secara pribadi, si pemuda juga berharap agar sang raja dapat mencari tahu keadaan kedua orang tuanya dan berusaha menyelamatkan mereka berdua. Namun demikian, sang raja hanya mampu mengatakan bahwa dirinya akan berusaha sekuat tenaga tanpa dapat menjanjikan keselamatan kedua orang tua si pemuda. Si pemuda menerima kenyataan pahit ini.


Si pemuda menerima kenyataan pahit ini.

     Laporan mata-mata kerajaan menunjukkan bahwa suku besar ini tengah mempersiapkan pasukan perang secara diam-diam untuk menyerang kerajaan secara tiba-tiba. Suku besar ini sebenarnya telah melanggar aturan perang terhormat dengan mempersiapkan serangan secara tiba-tiba. Akan tetapi, karena sang raja tidak ingin berperang secara tidak terhormat, maka sang raja berpikir untuk mengirimkan surat peringatan pada suku besar tersebut agar tidak melakukan penyerangan secara tiba-tiba. Namun demikian, di sisi lain, sang raja menyadari bahwa jika surat itu sampai di tangan si pemimpin suku, maka kemungkinan besar kedua orang tua si pemuda tidak akan selamat, karena si pemimpin suku pasti menyadari kemungkinan bahwa si pemuda telah membocorkan penawaran antara dirinya dan si pemuda kepada sang raja.

     Sang raja kemudian memutuskan untuk mempersiapkan pasukan perang secara sembunyi-sembunyi dengan tujuan untuk menahan serangan suku besar tersebut, tanpa tujuan untuk melakukan penyerangan balik, demi menjaga kehormatan kerajaan. Kemudian, pada hari suku besar tersebut melakukan penyerangan, akan ada kelompok pasukan khusus yang segera dikirimkan dengan cepat untuk menyelamatkan kedua orang tua si pemuda. Semuanya dengan harapan agar pasukan khusus ini dapat menyelamatkan kedua orang tua si pemuda SETELAH suku besar ini memutuskan untuk menyerang tanpa tahu apa yang telah terjadi dan dipersiapkan oleh kerajaan, namun SEBELUM suku besar tersebut menyadari bahwa si pemuda telah membocorkan percakapan rahasia antara si pemuda dan si pemimpin suku.

     Penyerangan dan peperangan pun terjadi, dan segala rencana yang telah disusun dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Hasilnya, kerajaan dapat menahan serangan suku besar dengan kemenangan yang gemilang. Akan tetapi ada berita buruk yang mengiringi kemenangan ini. Kedua orang tua si pemuda ternyata tidak dapat diselamatkan dari tangan suku besar yang menahan mereka. Ya, si pemuda harus menerima kenyataan bahwa kesetiaannya pada kerajaan harus dibayarkan dengan nyawa kedua orang tuanya. Suasana kerajaan memang penuh dengan sorak sorai, namun bagi pemuda ini hanya ada dukacita yang mendalam.


Akan tetapi ada berita buruk yang mengiringi kemenangan ini.

     Pada akhirnya, setelah beberapa hari, tibalah hari di mana sebuah upacara dilaksanakan untuk memberikan penghormatan kepada semua orang yang terlibat dalam peperangan. Pada saat ini, sang raja akan memberikan kata-kata penyemangat dan penghiburan, serta juga menganugerahkan berbagai penghargaan pada orang-orang yang dirasa sangat berjasa pada kerajaan. Upacara tersebut berlangsung dan tibalah saatnya sang raja memberikan penghargaan pada si pemuda, yang adalah pemimpin pasukan pemanah kerajaan, yang baru saja kehilangan kedua orang tuanya karena kesetiaannya.

     Sang raja berkata, “Dan penghargaan tertinggi dari kerajaan ini akan aku anugerahkan pada seorang pemimpin pasukan kerajaan yang telah menunjukkan kesetiaannya dalam keadaan berat sekalipun. Yang walaupun harus membayar kesetiaannya dengan harga yang sangat mahal… terlalu mahal… Namun tetap memilih untuk setia…” Sang raja kemudian memanggil si pemuda untuk memberikan penghargaan bagi dirinya. Setiap orang yang hadir telah tahu apa yang terjadi, dan mereka menyadari betapa besar pengorbanan yang telah diberikan oleh si pemuda, demi kemenangan kerajaan, demi keselamatan semua orang. Setiap orang merasa segan dan memberikan penghormatan terdalam saat si pemuda berjalan dengan tegar ke hadapan sang raja.

     Si pemuda kemudian meminta dua permintaan pada sang raja. Sang raja menyanggupinya. Permintaan pertama si pemuda adalah bahwa permintaannya yang kedua HARUS dikabulkan. Sang raja menyanggupinya. Dan permintaan kedua si pemuda adalah dia ingin dihukum mati agar dapat berkumpul bersama dengan kedua orang tuanya. Sang raja dan setiap orang kaget. Akan tetapi ada keharuan yang mengikuti rasa kaget mereka. Mereka memahami alasan si pemuda meminta hal tersebut. Sang raja pun akhirnya menyanggupi permintaan si pemuda itu…

Dan permintaan kedua si pemuda adalah dia ingin ...

     … Begitulah kisah tentang seorang pemanah yang setia, yang dalam keadaan seberat apapun tetap memilih untuk setia. Kisah yang menyedihkan, bukan? Tapi banyak pelajaran yang dapat aku petik dari kisah ini. Dan tetap saja, kisah ini tidak hanya sekadar kisah bagiku, tapi entah mengapa aku merasa aku pernah mendengar kisah ini dari orang lain di masa lalu. Entah siapapun dia…

- bersambung -

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (6) Doa yang Benar
Cerita berikutnya : Pedang Raja : (8) Kisah Perjuangan Sang Buaya

Tuesday, December 27, 2016

Pedang Raja : (6) Doa yang Benar

... Bukankah kata-kata kita pada-Nya harus menyenangkan hati-Nya? Apakah Dia akan senang mendengarkan harapan-harapan buruk ini dari lidahku saat berdoa pada-Nya. ...

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (5) Jawaban Doa di Tepi Sungai

… aku adalah istri seorang tukang besi …

     Empat tahun telah berlalu sejak hari itu. Hari yang mengubah semuanya bagi kami, ya diriku, ya suamiku, dan kurasa hampir semua rakyat di kerajaan ini. Hari itu semuanya terasa dijungkirbalikkan tanpa ampun. Hari itu, empat tahun lalu, entah seberapa banyaknya pasukan berkuda kerajaan terlihat berlalu-lalang tanpa arah. Mereka terlihat seperti dikejar oleh sesuatu. Dan kami memang melihat apa yang mengejar mereka. Para pengejar mereka adalah suku liar yang tinggal jauh di daerah timur. Dan memang sebenarnya Raja telah mengeluarkan pengumuman tentang perang, namun seingatku, menurut pengumuman Raja, perang tersebut seharusnya berlangsung jauh dari tempat ini. Apakah pemandangan ini berarti pasukan Raja telah kalah? Apakah pemandangan ini berarti Raja sudah tiada? Apakah pemandangan ini berarti kami akan dikuasai oleh suku liar dari timur ini?

     Sayangnya, begitulah kenyataan yang terjadi. Suku itu telah menggempur habis istana tanpa belas kasihan. Hampir tidak ada siapapun di istana yang dibiarkan bebas atau hidup. Suku liar itu memang kejam dan tidak berbelas kasihan. Namun demikian, aku, suamiku, bayi laki-laki yang kuangkat menjadi anakku itu, serta tetangga-tetangga kami yang tinggal bersama kami di tepi sungai, untungnya lepas dari kekejaman mereka. Suku liar itu kelihatannya menilai kami sebagai rakyat yang miskin dan tidak dapat melakukan apa-apa. Mereka menganggap kami tidak berbahaya dan tidak dapat mengancam mereka. Oleh karena itu, suku liar tersebut membiarkan kami begitu saja dan bergegas pergi, melanjutkan tugas yang diperintahkan kepada mereka, membunuh tanpa sisa sebanyak-banyaknya orang yang berhubungan dengan kerajaan, mungkin.

Hampir tidak ada siapapun di istana yang dibiarkan bebas atau hidup.

     Dan sekarang, empat tahun setelah penyerangan besar itu, kehidupan banyak orang di kerajaan ini telah berubah. Namun aku dan suamiku tidak mengalami perubahan yang terlalu banyak. Kami dahulu miskin, dan sekarang tetaplah miskin. Dulu kami berkekurangan, dan sekarang tetaplah berkekurangan. Dulu kami bukan orang berada, dan sekarang kami tetaplah bukan orang berada. Akan tetapi, tetap saja aku merasa bersyukur pada Tuhan karena Tuhan masih memberikan kami kesempatan untuk hidup. Lebih-lebih, Tuhan menghadirkan seorang anak untuk kami berdua, yang menjadi penghiburan bagi kami di kala menjalani hidup ini.

     Anak laki-laki ini, walau bukan darah dagingku sendiri, sangatlah kusayangi. Aku menganggapnya sebagai anakku sendiri yang dianugerahkan padaku dan suamiku oleh Tuhan yang Mahakuasa. Setiap malam aku memandang anak laki-laki ini dengan penuh kebahagiaan. Setiap malam aku berdoa untuk suamiku dan anak laki-laki ini, agar keluarga kecilku ini senantiasa kuat, tegar, dan berpengharapan dalam menjalani hidup yang, kenyataannya, terasa berat ini dalam keadaan kami yang serba sulit.

     Anak laki-lakiku yang telah berumur sekitar enam tahun itu tumbuh menjadi seorang anak yang sehat, gendut, lucu, bersemangat, dan menggemaskan. Setiap kali suamiku yang terkasih itu kembali dari tempat kerjanya di ruangan lain di sisi rumah kami, anakku itu berjalan ke arahnya dan menyambutnya dengan pelukan. Melihat pemandangan itu, aku hampir selalu melihat raut kelelahan pada wajah suamiku itu segera menghilang. Suamiku kemudian memeluk anakku dan menggendongnya, mengayun-ayunkannya penuh kasih dan keceriaan. Aku, sebagai seorang istri, sangat bahagia melihat pemandangan ini. Memang aku tidak salah memilihnya sebagai suamiku. Aku sangat mencintainya. Ya, walau terkadang dia bisa sangat menyebalkan, aku tidak mau dan tidak mampu meninggalkannya. Cinta memang aneh ya… Hahaha…

Aku, sebagai seorang istri, sangat bahagia melihat pemandangan ini.

     Pada malam-malam tertentu, aku beberapa kali juga pernah memikirkan hal lain tentang anak laki-laki ini. Dari mana anak laki-laki ini berasal dan siapakah orang tua kandungnya? Menurut cerita suamiku, dia menemukan anak laki-laki ini terhanyut di sungai, di dalam lekukan sebuah batang pohon besar, dengan hanya dilindungi oleh pakaiannya dan selembar robekan kain yang menutupi lekukan batang pohon tersebut. Aku jadi berpikir, orang tua seperti apa yang tega menghanyutkan anaknya di sungai tanpa tahu apa yang akan terjadi pada anaknya itu? Bagaimana jika si anak tenggelam? Bagaimana jika si anak kedinginan atau kepanasan? Bagaimana jika si anak bertemu dengan binatang buas? Tapi bagaimana jika menghanyutkan anak ini di sungai adalah pilihan yang jauh lebih baik daripada mempertahankan anak itu di tempatnya berada? Mungkinkah ada hal yang lebih mengerikan yang akan terjadi pada anak ini daripada ketidakpastian di sungai? Jika memang benar demikian, pasti hal itu sangat mengerikan sekali, sampai-sampai merelakan kepergian anak ini di sungai menjadi pilihan yang lebih baik… Apa yang sebenarnya yang terjadi pada anak ini? Apa yang sebenarnya terjadi pada orang tuanya?

     Jika aku melihat dan memperhatikan pakaian yang dikenakan bayi itu dan robekan kain yang menutupi lekukan batang pohon tempat anak itu berada dulu, aku hanya dapat menyimpulkan bahwa anak ini pasti merupakan anak seseorang yang sangat kaya. Pakaian bayi itu dan robekan kain tersebut sama-sama terbuat dari bahan yang sangat mahal dan langka. Tapi hanya itu yang bisa aku simpulkan. Tidak ada corak khusus maupun penanda khusus pada pakaian bayi itu dan robekan kain tersebut. Selain itu, tidak ada benda titipan unik yang diletakkan bersama-sama anak laki-laki ini saat ditemukan suamiku, dan tidak ada pula tanda lahir yang menarik perhatian pada anak laki-laki ini. Sesuatu yang membuatku putus asa sekaligus lega. Putus asa karena aku tidak dapat mengetahui masa lalu anak laki-laki ini lebih lanjut, sekaligus lega karena hal ini berarti tidak ada orang yang dapat mengaku sebagai orang tuanya atau kerabatnya yang dapat mengambil anak laki-laki ini dariku di masa mendatang.

Sesuatu yang membuatku putus asa sekaligus lega.

     Apakah aku egois jika memiliki pikiran seperti ini? Apakah aku salah jika memiliki pikiran seperti ini? Sebagai seseorang yang percaya kepada Tuhan, aku merasa bersalah karena keegoisanku. Akan tetapi, sebagai seorang istri yang menantikan seorang anak dan sebagai seorang ibu yang telah menumpahkan kasihnya pada seorang anak yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri, aku merasa bahwa aku tidak bersalah. Pada malam-malam tertentu, aku berdoa dengan penuh air mata karena hal ini. Pernahkah dirimu berdoa seperti ini, berdoa sampai kau harus menangis karena hatimu menahan egomu yang ingin meledak, karena egomu tidak mau menerima doa yang kauucapkan? Pernahkah dirimu berdoa seperti ini, berdoa sampai kau harus menangis karena jiwamu sakit saat mengatakan hal yang benar, walaupun egomu menginginkan hal yang sebaliknya?

     Sejujurnya, aku sangat sakit, namun aku tetap berdoa pada suatu malam, sambil berlutut di sisi tempat tidurku dan suamiku, “Tuhan… Terima kasih atas penyertaan, perlindungan, dan pemeliharaanmu sampai hari ini atas keluarga kecilku. Aku bersyukur atas setiap waktu yang Kau anugerahkan pada kami bertiga. Namun aku juga sadar bahwa aku tidak luput dari kesalahan, sehingga bukalah pintu maaf-Mu selebar-lebarnya untuk diriku ini…” Aku menarik napas sebelum melanjutkan, “Tuhan… Aku sungguh sangat bersyukur karena Kau mempercayakan seorang anak laki-laki untukku dan suamiku. Aku sangat berbahagia walaupun dia bukanlah darah daging kami sendiri. Kami akan merawatnya seperti anak kami sendiri. Kami berjanji padamu, Tuhan…”

... Kami berjanji padamu, Tuhan…”

     Lalu masuklah aku ke saat-saat yang berat dalam doaku. Aku ingin berdoa agar anak itu tidak pernah diambil dariku. Aku ingin berdoa agar orang tua anak itu tidak pernah akan menemukan anak itu. Aku ingin berdoa agar kerabat anak itu sudah tidak lagi mengingat-ingat anak yang hilang dari mereka ini. Tapi doa macam apa ini? Bukankah kata-kata kita pada-Nya harus menyenangkan hati-Nya? Apakah Dia akan senang mendengarkan harapan-harapan buruk ini dari lidahku saat berdoa pada-Nya? Saat itulah aku menangis. Aku tersedu-sedu karena sadar bahwa untuk mendoakan hal yang benar, aku harus menyakiti egoku sendiri. Aku kemudian melanjutkan doaku, “Tuhan…” Aku terisak, merasa begitu berat melanjutkan, tapi aku menarik napas dan merasa mendapat keberanian untuk melanjutkan, “Tuhan… Aku berjanji dan percaya bahwa aku dan suamiku akan merawat anak itu seperti merawat anak kami sendiri. Kami akan mendidiknya, mengajarnya, memeliharanya, dan menjaganya. Dan…” Aku terisak lagi sebelum melanjutkan, “Dan… biarlah orang tua anak itu dan kerabatnya…” Aku berhenti, bersiap sebelum mengatakan hal yang begitu berat bagiku, “Dan… biarlah orang tua anak itu dan kerabatnya… Senantiasa berbahagia, tidak berada dalam kesulitan, selamat sentosa, dan…”

     Aku tersedu-sedu… Aku tidak sanggup melanjutkan doa ini, karena aku sadar jika aku melanjutkan doaku dan Tuhan mengabulkannya, anak laki-laki yang kami sayangi ini akan berpisah dari kami selamanya… Tiba-tiba sebuah tangan memelukku dari belakang. Tangan itu adalah tangan hangat suamiku. Dia berkata padaku, “Lanjutkan doamu… Berdoalah agar semua yang terbaiklah yang terjadi untuk semua orang…” Aku merasa kaget sekaligus lega. Suamiku itu memelukku dan aku merasa begitu nyaman dan kuat di dalam pelukannya. Aku kemudian melanjutkan doaku, “Dan… Biarlah orang tua dan kerabat anak ini dapat berkumpul lagi bersama anak mereka, agar mereka dapat berbahagia kembali saat keluarga mereka yang terpisah pada akhirnya dapat bertemu kembali…” Aku kemudian mengakhiri doaku dengan tangisan yang tersedu-sedu di dalam pelukan suamiku.

“Lanjutkan doamu… Berdoalah agar semua yang terbaiklah yang terjadi untuk semua orang…”

- bersambung -

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (5) Jawaban Doa di Tepi Sungai

Thursday, December 22, 2016

Pedang Raja : (5) Jawaban Doa di Tepi Sungai

... Seseorang yang dengan setia menemani dan mendukung langkah kita dalam senang maupun susah adalah anugerah yang sangat berharga ...

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (4) Dari Titik Nol
Cerita berikutnya : Pedang Raja : (6) Doa yang Benar

... aku adalah seorang tukang besi …

     Aku adalah seorang tukang besi yang tinggal berdua dengan istriku yang sangat kucintai. Bagaimana tidak, dia adalah seseorang yang begitu cantik, manis, kuat, mandiri, lembut, penyayang, pengertian, lucu, bersemangat, lugu, ya pokoknya semua yang terbaik kurasa ada pada dirinya. Dialah kasihku yang menjadi duniaku, dialah cintaku yang menjadi tambatan hatiku. Aku tidak pernah sedetik pun menyesali kebersamaanku dengannya. Hmmm… terdengar berlebihan ya…  Tapi… Emmm… Pernah sih kami bertengkar, pernah sih kami salah paham, pernah sih kami sedih, dan pernah juga sih kami saling berdiam diri… Cuma saja, jika aku mengenang waktu-waktu indah saat diriku bersamanya, aku tidak mau menyerah pada semua kesulitan itu dan meninggalkan dirinya. Mungkin hal ini boleh aku nasihatkan pada kalian jika kalian sedang mengalami masa-masa sulit dengan pasangan kalian. Ingatlah saat-saat bahagia kalian, ingatlah saat-saat bersama kalian, ingatlah saat penuh canda tawa milik kalian berdua. Lalu pikirkanlah, apakah semua hal baik tersebut siap kalian korbankan karena semua hal buruk yang terjadi?

     Istriku itu adalah seorang yang sangat setia dan penuh pikiran baik. Jika aku menceritakan sebuah masalah padanya, istriku itu selalu saja dapat memberitahu apa yang harus kulakukan dan kuupayakan. Ya misalnya saja, dulu sebelum menjadi tukang besi, aku adalah seorang petani. Akan tetapi karena satu dan lain hal, sawah milikku yang sangat luas itu harus kurelakan tidak menjadi milikku lagi. Saat itu aku kemudian memasuki masa-masa tidak memiliki usaha untuk kukerjakan. Istriku kemudian berulang kali menasihatiku dan memintaku untuk mencoba melakukan pekerjaan apa saja. Dia ternyata memilih untuk setia menemaniku dan berjuang bersamaku, meski di masa-masa sulit seperti itu. Lalu, karena berulang kali dinasihati seperti itu, aku kemudian mencoba berbagai usaha. Pernah aku belajar menjadi nelayan, menjadi kuli, menjadi penambang, menjadi penebang pohon, sampai akhirnya aku menjadi tukang besi seperti sekarang ini.

Istriku kemudian berulang kali menasihatiku dan memintaku untuk mencoba melakukan pekerjaan apa saja.

     Kami berdua tinggal dekat dengan sebuah sungai yang cukup lebar. Kami tinggal di rumah kecil yang berderetan dengan beberapa rumah lainnya tempat keluarga-keluarga miskin seperti kami tinggal. Sungai yang lebar itu adalah sebuah sungai yang sangat indah dan sangat berarti bagi kami, yang tinggal di dekat sungai itu. Keindahannya sudah tidak perlu diragukan lagi. Sungai itu bersisian dengan dataran subur berumput yang biasanya berbunga kecil-kecil indah pada musimnya. Sungai itu sangat indah di kala bunga-bunga kecil itu bermekaran. Kelopak dan mahkota bunga yang tertiup angin terkadang gugur ke dalam sungai itu dan ikut mengarungi sungai, menghiasnya dengan warna-warni kecil-kecil di atas permukaan air bergelombang. Selain itu, keindahan sungai itu juga tidak boleh disepelekan saat fajar dan senja hari, saat riak warna keemasan berpadu dengan bayang-bayang hitam menghiasi sungai itu.

     Lalu mengapa sungai itu begitu berarti bagi kami? Jawabannya adalah karena sungai itu menjadi salah satu penunjang hidup kami semua, yang tinggal dalam keadaan serba kekurangan di tepi sungai tersebut. Sungai itu menjadi tempat kami mandi, mencuci, serta minum. Sungai itu menjadi tempat kami berbincang-bincang dan berbagi cerita sebagai tetangga. Sungai itu menjadi saksi bisu dari kehidupan kami di tepi dirinya. Kami bersyukur sungai itu bersih dan mengalir terus-menerus tanpa akhir, baik di musim-musim basah maupun di musim-musim kering. Sungai itu bagaikan jawaban dan penyertaan dari Tuhan terhadap hidup kami yang berada dalam keterbatasan ini. Sungai itu bagaikan kata-kata Tuhan yang berbunyi, “Aku ada dan menjaga agar kalian tetap dapat bertahan hidup dalam keadaan kalian yang sulit ini…” Dan juga, “Aku akan terus setia berada bersama kalian walau apapun yang terjadi…” Mungkin itulah sebabnya kasih sejati sering di dalam lagu-lagu lama dihubungkan dengan sungai. Mereka memang agak mirip, bukan? Setia mengalir terus, sampai kapanpun, selamanya.

Mungkin itulah sebabnya kasih sejati sering di dalam lagu-lagu lama dihubungkan dengan sungai.

     Akan tetapi, saat ini ada satu keinginanku dan istriku yang belum dikabulkan oleh Tuhan hingga saat ini. Kami berdoa setiap malam, bersabar setiap hari, dan berharap setiap tahun, namun jawaban dari doa kami masih sama. Di antara ‘belum’ atau, semoga saja bukan sebuah ‘tidak’. Kami memohon seorang anak pada Tuhan, seorang anak yang akan melengkapi kami sebagai keluarga kecil bahagia, seorang anak yang akan memberikan suasana dan kehangatan baru di tengah-tengah kami. Namun aku dan istriku sampai saat ini masih harus menunggu saat nantinya Tuhan mengizinkan buah hati hadir di antara kami. Ya, beberapa hal memang tidak dapat dengan mudah dijawab dan dimengerti, termasuk alasan Tuhan belum memberikan seorang anak untuk kami. Namun kami tetap percaya bahwa Tuhan mengetahui jalan-Nya dan rencana-Nya, yang pasti indah dan terbaik untuk kami.

     Hari itu baru saja akan berawal. Warna jingga tipis baru saja terlihat di sisi timur langit, menandakan bahwa sang mentari yang gagah akan segera muncul dari sudut langit itu. Aku sendirian berjalan mendekati sungai, berusaha menikmati kesendirianku dalam ketenangan yang begitu menakjubkan ini. Sebuah ketenangan alam dengan hanya diiringi suara gemericik air sungai, suara embusan angin subuh, suara jangkrik di antara rerumputan, serta suara katak di sekitar sungai. Aku terbangun begitu pagi karena malam tadi terdengar dan terlihat hal yang ganjil dari arah istana kerajaan. Entah apa yang terjadi di sana, yang jelas sepertinya hal itu tidak biasanya terjadi. Akan tetapi, jarak yang sangat jauh antara tempat tinggal kami dan istana kerajaan membuat, kurasa, hanya diriku seorang yang menyadari ada sesuatu yang terjadi di tempat itu. Ditambah lagi, hujan yang turun membuat orang-orang tidak mungkin punya alasan untuk mengamat-amati keadaan di luar rumah dan tidak mungkin mereka terganggu oleh suara-suara di kejauhan. Anggaplah kepekaan inderaku dan ketidaksengajaanlah yang membuatku terbangun malam tadi.

Warna jingga tipis baru saja terlihat di sisi timur langit, menandakan bahwa sang mentari yang gagah akan segera muncul dari sudut langit itu.

     Dan karena tidurku sudah terganggu malam itu, akibatnya aku tidak bisa melanjutkan tidur pulasku lagi. Demikianlah aku berakhir di tepi sungai itu pada saat hari subuh. Aku berdiri di sana, berdiam diri saja, sampai akhirnya aku menyadari sesuatu. Aku belum pernah mencoba berdoa di tempat sesunyi ini. Sepertinya tempat ini mengundang keinginan hatiku untuk berdoa pada Tuhan. Cobalah kalian sesekali berada sendirian di tempat dengan suasana yang sama denganku. Mungkin saja kalian akan memiliki perasaan dan keinginan yang sama denganku.

     Begitulah aku memutuskan untuk berlutut dan berdoa. Aku merasakan ketenangan dan keheningan yang begitu mendamaikan hati. Aku lalu mulai berdoa, “Tuhan, terima kasih untuk kesempatan yang telah Kau berikan padaku hari ini untuk berdoa di sini, di waktu dan di tempat yang sama sekali berbeda daripada biasanya. Aku memohon ampun pada-Mu, Tuhan yang pemurah dan penyayang, jika sebelum aku berdoa pada kali ini, ada kesalahanku yang tidak berkenan di hadapan-Mu. Namun aku sebagai seorang manusia sedang berusaha dan belajar untuk memiliki hidup yang menyenangkan hati-Mu…”

Begitulah aku memutuskan untuk berlutut dan berdoa.

     Aku menarik napas panjang lewat hidungku. Udara yang sangat segar terasa masuk ke dalam paru-paruku. Rasanya begitu melegakan. Aku kemudian melanjutkan doaku, “Tuhan, pada hari ini aku ingin menyampaikan kerinduan hatiku pada-Mu. Biarlah istriku senantiasa sehat, berbahagia, dan bersemangat dalam menjalani hari-harinya bersamaku. Biarlah aku dapat menjadi suami yang mencukupi semua kebutuhan kami, sehingga kami tidak perlu sampai meminta-minta pada orang lain. Dan jika Kau berkenan, Tuhan…” Aku berhenti sejenak dan tiba-tiba merasa sangat sedih. Aku melanjutkan sambil menitikkan air mata, “Tuhan… Anugerahilah aku dan istriku seorang anak yang nantinya akan berbakti dan menjadi orang yang berguna bagi keluarga dan kerajaan ini… Semoga Kau berkenan mendengar dan mengabulkan doaku ini, Tuhan yang Mahakuasa… Terima kasih Tu…”

     Belum selesai aku mengucapkan doaku pada waktu subuh itu, sebuah suara mengagetkanku, sehingga aku terpaksa menghentikan doaku. Suara itu terdengar sayup-sayup, namun sangat menarik perhatianku. Aku menajamkan telingaku dan merasa yakin bahwa itu adalah suara tangis seorang bayi. Aku kemudian berusaha mencari asal suara tangisan tersebut dan menemukan sumbernya. Aku sungguh tidak mempercayai apa yang kutemukan. Seorang bayi laki-laki di dalam lekukan batang pohon dan yang melindunginya hanyalah pakaian yang dililitkan padanya dan selembar kain yang menutupi lekukan batang pohon tersebut.

Aku menajamkan telingaku dan merasa yakin bahwa itu adalah suara tangis seorang bayi.

     Rasa kasihanku pada bayi ini mendorongku untuk mengambil kain yang menutupi lekukan batang pohon tersebut, menyimpannya di balik pakaianku, lalu menggendong bayi tersebut. Aku menimang-nimangnya dan berusaha menenangkannya. Tak lama kemudian, bayi itu tenang dan aku memutuskan untuk membawa bayi itu ke rumahku. Mungkinkah bayi ini adalah jawaban Tuhan atas doaku dan istriku? Jika ya, sungguh aku bersyukur padamu Tuhan…

- bersambung -

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (4) Dari Titik Nol
Cerita berikutnya : Pedang Raja : (6) Doa yang Benar

Wednesday, December 14, 2016

Pedang Raja : (4) Dari Titik Nol

... Akhir dan awal akan muncul berdampingan, terus dan terus, merangkai cerita demi cerita, baik bersambung maupun tidak, menjadi sejarah yang mewarnai dunia ...

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (3) Perang Tak Terhormat
Cerita berikutnya : Pedang Raja : (5) Jawaban Doa di Tepi Sungai

     Saat para pengawal berusaha berlari menuju ke pos penjagaan mereka yang terlihat dari sisi luar istana, terlihat satu per satu panah meluncur dari dalam hutan, tepatnya, dari dalam dedaunan pepohonan. Panah-panah itu meluncur secara misterius dan mengenai siapapun yang tengah berlari maupun bersiap di menara penjagaan mereka. Jadi ini adalah salah satu dari taktik perang suku buas ini.

     Tanpa disangka, suku yang liar ini ternyata telah memenuhi hutan. Namun mereka tidak terpantau oleh para pengawal yang berkeliling untuk berjaga-jaga karena mereka bergerak dan bersembunyi, terutama lewat atas hutan, yaitu lewat dedaunannya yang sangat rimbun. Entah bagaimana caranya mereka bertahan hidup di atas sana, berkomunikasi, dan menyusun pasukan, akan tetapi itulah yang terjadi dan itulah yang harus dihadapi oleh sang Raja dan para pengawalnya dari dalam istana.

     Kepanikan melanda istana, sebab pos jaga tidak berhasil ditempati oleh siapapun. Siapapun yang berusaha memasuki pos jaga akan segera ditembak oleh panah yang sangat akurat dan, sadisnya, beracun. Panah-panah yang digunakan oleh suku liar ini telah diolesi dengan racun yang berbahaya, bahkan jika hanya tersentuh dan tidak melukai sekalipun. Sang Raja, yang mendapat kesempatan untuk mengintai dari balik tembok secara sembunyi-sembunyi pun tidak menemukan celah apapun, sebab para pemanah ini tidak terlihat sama sekali dari balik rimbunnya pepohonan.

Kepanikan melanda istana, sebab pos jaga tidak berhasil ditempati oleh siapapun.

     Sementara itu, sang Ratu dan si Pangeran kecil ternyata telah menelusuri lorong rahasia dan muncul di mulut gua. Suasana yang begitu riuh dari arah istana menjadi pemandangan yang begitu mengerikan di mata sang Ratu dan para pengawal yang bersamanya. Sementara itu, suara-suara yang terdengar di atas mereka, yang terdengar seperti suara teriakan manusia yang liar, membuat suasana menjadi semakin mencekam. Seorang pengawal memimpin barisan dan meminta sang Ratu dan semua pengawal untuk tidak berisik saat mengendap-endap di bawah kebisingan yang ditimbulkan oleh suku-suku liar yang bersembunyi di tengah kepadatan daun-daun pepohonan.

     Beberapa langkah jauhnya mereka berjalan. Sebenarnya jarak itu tidak terlalu jauh, namun di tengah keadaan yang menakutkan ini, jarak itu terasa telah sangat jauh. Mereka berjalan sambil sesekali menoleh ke atas. Sesekali mereka melihat beberapa sosok manusia yang sangat gesit di antara pepohonan saat petir menyambar dan mengagetkan dengan cahaya dan suaranya. Namun mereka merasa sedikit lega karena hampir tidak seorang pun dari sosok manusia di atas pepohonan itu yang menatap ke bawah, karena mereka sedang memusatkan perhatian pada istana yang sedang mereka gempur habis-habisan.

     Sang Ratu dan para pengawal terus berjalan dengan berhati-hati. Akan tetapi, tiba-tiba sebuah panah melesat di sisi sang Ratu. Beberapa panah lagi melesat dan mengenai beberapa pengawal. Sekarang sudah tidak ada lagi gunanya berlambat-lambat sambil terus bersembunyi. Sang Ratu dan para pengawal sama-sama mengerti bahwa harapan mereka adalah melarikan diri secepat mungkin sambil berharap tidak ada panah yang mengenai mereka dan tidak ada yang menangkap mereka.

Sekarang sudah tidak ada lagi gunanya berlambat-lambat sambil terus bersembunyi.

     Sekumpulan orang ini berlari dan terlihat sekelebat bayangan di atas dan sisi mereka yang mengejar dengan liar. Bayangan itu berayun di antara sulur-sulur pepohonan dan dengan tangkas menerkam beberapa orang pengawal dan langsung menusukkan pisau mereka yang tajam ke bagian tubuh para pengawal yang tidak dilindungi baju zirah. Akan tetapi beberapa pengawal yang lain cukup beruntung karena berhasil menebak arah ayunan sosok bayangan tersebut dan menebaskan pedang mereka ke arah tubuh penerkam mereka. Tujuan para pengawal ini, dari sang Raja, telah sangat jelas. Mereka harus mengawal sang Ratu dan si Pangeran sampai di tempat yang aman. Begitulah rombongan yang putus asa ini terus berlari dan berlari.

     Saat sang Ratu telah hampir mencapai sungai, hanya ada satu pengawal yang tersisa bersamanya. Namun pengawal itu tak luput dari terkaman salah seorang suku liar yang ternyata berhasil terus membuntuti mereka. Si pengawal menyuruh sang Ratu untuk segera pergi sementara dirinya menahan penyerangnya itu.

     Sang Ratu tiba di sisi sungai yang tengah mengalir deras. Akan tetapi keadaan di sekeliling sang Ratu membuat firasatnya memburuk. Ditambah lagi dengan suara lolongan dari arah hutan, yang sepertinya terus terdengar mendekat dan mendekat. Sang Ratu harus berpikir cepat dan memutuskan sesuatu yang tepat. Sang Ratu melihat aliran air sungai yang begitu deras membawa banyak batang kayu. Sepertinya hujan deras telah menyebabkan longsor di beberapa daerah pinggiran sungai, sehingga banyak pohon yang terhanyut ke sungai.

Sang Ratu harus berpikir cepat dan memutuskan sesuatu yang tepat.

     Sang Ratu kemudian melihat sebuah batang kayu yang tersangkut di sisi sungai dan mendekatinya. Memang berbahaya jika harus menggunakan batang kayu itu untuk mengarungi sungai deras ini, namun tidak ada pilihan lain untuk sang Ratu kecuali nekat dan mencoba peluang kecil untuk bertahan hidup ini. Daripada dia berlari menelusuri sungai sambil menunggu pengejarnya untuk menangkapnya, lebih baik sang Ratu mencoba mengarungi sungai dengan batang kayu besar tersebut. Sang Ratu melihat batang kayu itu cukup kuat dan memiliki sebuah lekukan di dalam batangnya. Sang Ratu menempatkan putranya di dalam lekukan itu dengan hati-hati, lalu menutup lekukan tersebut dengan robekan jubahnya sendiri, berusaha melindunginya dari angin dan hujan. Sang Ratu kemudian mulai mendorong batang kayu itu ke tengah sungai, lalu segera melompat naik ke atas batang kayu itu, dan duduk di atasnya sambil berusaha dengan penuh susah payah untuk menjaga keseimbangan.

     Sekelebat bayangan secara tiba-tiba berayun melesat dengan cepat dari dalam hutan dan melompat dengan tepat ke atas batang kayu yang dinaiki sang Ratu. Sang Ratu sangat ketakutan. Tidak ada yang melindunginya dan putranya lagi sekarang, namun dia harus menghadapi salah seorang suku liar ini sendirian. Di hadapan sang Ratu saat ini ada seorang dari suku liar yang menyerang istana. Sementara di belakang sang Ratu saat ini ada seorang bayi laki-laki kecil berusia dua tahun yang adalah pewaris takhta istana, putranya sendiri, putra sang Raja sendiri.

     Naluri seorang ibu pun mengambil alih kesadaran sang Ratu. Di tengah ketakutannya, sang Ratu berdiri di atas batang kayu itu, sehingga terlihat bahwa tubuh sang Ratu sangat kecil sekali jika dibandingkan dengan laki-laki di hadapannya. Sang Ratu menoleh ke belakang, tempat lekukan di mana si Pangeran kecil berada, yang telah terlindungi oleh kain robekan jubahnya sendiri. Sang Ratu berkata pelan, “Anakku, maaf kita harus berpisah, tapi ketahuilah… Sampai kapanpun, Ibu dan Ayah selalu mencintaimu…”

Naluri seorang ibu pun mengambil alih kesadaran sang Ratu.

     Sang Ratu menoleh ke arah laki-laki besar di hadapannya dan berlari sambil berteriak. Si laki-laki besar itu kaget, namun tidak sempat melakukan apapun sebelum sang Ratu menabrakkan tubuhnya sendiri ke tubuh laki-laki besar itu, bermaksud untuk menghilangkan keseimbangannya dan menjatuhkannya ke dalam sungai. Akan tetapi, sang Ratu menyadari bahwa dia tidak dapat melakukan hal ini tanpa ikut terjun ke dalam sungai, sehingga itulah yang diputuskan untuk dilakukannya.

     Begitulah kisah ini berakhir menuju ke sebuah awal yang baru. Seorang bayi laki-laki yang adalah pangeran pewaris kerajaan yang begitu megah, kehilangan ayah dan ibunya, termasuk kerajaan yang menjadi haknya. Dia pergi tanpa menyadari bahwa dia adalah seorang pangeran dan melanjutkan hidupnya tanpa siapapun yang mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

- bersambung -

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (3) Perang Tak Terhormat
Cerita berikutnya : Pedang Raja : (5) Jawaban Doa di Tepi Sungai

Monday, December 12, 2016

Pedang Raja : (3) Perang Tak Terhormat

... Bukanlah kekalahan yang lebih menyesakkan, melainkan pengkhianatan yang mewarnainya. Bukanlah perpisahan yang lebih menyesakkan, melainkan ketidakpastian akan adanya pertemuan kembali atau tidak ...

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (2) Dongeng Malam Hari
Cerita berikutnya : Pedang Raja : (4) Dari Titik Nol

     Sang Raja beranjak keluar dari kamar sang Ratu, tempat untuk sesaat tadi keluarga kecil bahagia ini berada. Sang Raja baru saja menutup pintu dan berjalan beberapa langkah jauhnya sebelum beberapa orang pengawal terlihat berlari menelusuri lorong, terlihat dari raut wajah mereka bahwa mereka merasa lega sekaligus panik saat mereka berhasil menemukan sang Raja. Sang Raja berdiri menunggu sampai pengawal-pengawal tersebut tiba di dekatnya. Seorang pengawal kemudian mulai berkata saat napasnya telah lumayan teratur, “Raja, kami ingin… em… harus melaporkan beberapa hal. Maaf mengganggu waktu malam Raja, tapi hal ini sangat penting dan mendesak…”

     Sang Raja mengangguk. Sang Raja kemudian mulai melangkah, memimpin beberapa orang pengawal yang sebelumnya mencarinya itu. Mereka melangkah cepat, menelusuri lorong-lorong. Tepat di sebuah lorong yang memiliki jendela di sisinya, sang Raja menyadari sebuah pemandangan di sudut matanya yang hampir dipastikan tidak diperhatikan oleh siapapun. Sang Raja berhenti, para pengawal yang mengikutinya pun turut berhenti. Sang Raja menoleh ke arah jendela dan memperhatikan pemandangan di luar sana dengan lebih saksama. Para pengawal pun turut mencoba melihat dan menerka apa yang menarik perhatian sang Raja. Namun demikian, para pengawal tidak melihat apapun yang menarik perhatian.

     Sang Raja berkata. Nada suaranya tenang, namun ada sedikit ketidaktenangan yang tersembunyi hampir dengan sempurna di antara suaranya, “Apa kalian memperhatikan sesuatu?” Para pengawal memperhatikan pemandangan di luar jendela dan saling menoleh satu sama lain. Seorang pengawal kemudian berkata, “Maaf, tapi tidak, Raja.” Sang Raja melanjutkan, “Memang, tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa sama sekali. Bahkan suara alam pun tidak. Justru itulah yang berbahaya, mengancam, dan mengerikan. Bagaikan ada yang telah membunuh kehidupan liar di luar sana untuk mempersiapkan jalan dari jauh ke kerajaan ini. Jalan yang membunuh segalanya, yang siap juga membunuh tempat tujuannya. Ada sesuatu yang akan terjadi malam ini, dan kita perlu bersiap. Musuh kita tampaknya telah memulai sebuah perang yang tidak terhormat. Itukah yang ingin kausampaikan padaku, Pengawal?”

“Apa kalian memperhatikan sesuatu?”

     Para pengawal terlihat kagum sekaligus ngeri. Kagum karena daya dan arah pikir sang Raja yang sangat menakjubkan, kagum karena tahun-tahun pengalaman memimpin kerajaan dan perang ternyata dapat membuahkan otak yang sedemikian cemerlang dan firasat yang begitu tajam. Namun ada juga rasa ngeri yang timbul karena hal ini berarti bahwa apa yang akan dilaporkan pada sang Raja ternyata benar. Ya, para pengawal tadinya ingin melaporkan berbagai bukti bahwa para musuh kelihatannya tengah mempersiapkan, bukan sebuah penyerangan biasa, namun sebuah penyergapan yang licik dan penuh tipu daya, yang bermaksud untuk membinasakan segala yang ada, bukan untuk sekadar mengalahkan. Akan tetapi sekarang mereka sudah tidak perlu repot-repot menjelaskan bukti-bukti yang telah mereka kumpulkan agar mereka dapat meyakinkan sang Raja untuk menyimpulkan sampai di titik ini.

     Akan tetapi, sang Raja menyadari bahwa kesimpulan tidaklah cukup untuk menyusun rencana perlawanan, atau pertahanan, atau bahkan mungkin rencana penyelamatan. Oleh karena itu, sang Raja segera beralih dari pandangannya ke arah luar jendela. Sang Raja bergegas memimpin para pengawal yang berjalan bersamanya menuju ke sebuah aula besar dengan sebuah meja besar di tengahnya. Ruang itu megah dan penuh dengan ukiran di tembok dan tiangnya. Namun berbeda dengan ukiran yang ada di kamar sang Ratu, ukiran di tempat ini menunjukkan nuansa kekuatan dan duel. Antara yang baik dan jahat, antara yang benar dan salah, antara yang menggempur dan yang mempertahankan diri. Sebuah ruang yang cocok, dan memang digunakan, untuk membicarakan strategi peperangan.

     Sang raja mempersilakan para pengawal untuk membicarakan hasil pengamatan mereka sejelas mungkin. Kapan mereka menemukannya dan di mana mereka menemukannya. Karena semua hal tersebut akan bermanfaat untuk memperkirakan sudah sejauh mana perkembangan rencana musuh, dan lebih jauh lagi, bermanfaat untuk menyusun strategi yang tepat untuk menaklukkannya. Sang pengawal lalu mulai dengan hati-hati dan saksama menjelaskan apa saja yang sudah mereka temukan hingga saat itu.

... mulai dengan hati-hati dan saksama menjelaskan apa saja yang ...

     Musuh yang berniat untuk menyerang mereka saat ini adalah sebuah suku yang penuh dengan kekejaman dan kekerasan, baik terhadap diri mereka sendiri maupun orang lain. Mereka adalah suku yang tidak tertebak dan terkenal dapat melakukan cara senekat apapun untuk dapat bertahan hidup dan meraih kemenangan. Ini juga yang menjadi alasan sang Raja ingin mendengarkan segala sesuatunya dengan jelas, sebab segala sesuatu mungkin saja terjadi dan mungkin saja dilakukan oleh suku ini.

     Hujan turun tiba-tiba. Tiba-tiba, langsung menderas tanpa gerimis yang biasanya mengantarkan hujan lebat. Dan suara yang terdengar berikutnya menarik perhatian semua orang di dalam istana. Ada sebuah suara lonceng dari tempat tinggi yang berdentang. Mungkin bagi mereka yang tidak tahu, suara itu hanya bagai sebuah suara lonceng yang berbunyi di tengah hujan deras. Akan tetapi, bagi sang Raja dan para prajurit, suara lonceng itu menandakan sesuatu yang sangat penting dan mendesak, bahkan mungkin berbahaya. Ya, lonceng itu adalah lonceng yang biasanya dibunyikan oleh para pengawal yang ditempatkan di menara tertinggi istana untuk mengintai jarak yang jauh, apabila pengawal tersebut menemukan pemandangan apapun yang mencurigakan.

     Sebuah suara ketukan terdengar di pintu aula, tempat sang Raja dan para pengawal berkumpul sebelumnya. Sang Raja mempersilakan masuk orang yang mengetuk, dan terlihat beberapa orang pengawal. Para pengawal itu kemudian memberi salam penghormatan pada sang Raja sebelum melanjutkan, “Raja, menara pengintai melaporkan pergerakan dari sisi timur istana. Sebuah pasukan yang sangat banyak sepertinya sedang bergerak mendekat.” Sang Raja menundukkan kepala dan berpikir, “Jadi benar. Mereka berniat melakukan perang yang tidak terhormat sama sekali. Suku itu memang tidak dapat dipercaya. Surat ancaman perang yang mereka berikan sungguh bohong belaka. Mereka mengatakan bahwa mereka memberikan waktu sampai esok petang hari, namun sekarang mereka mulai bergerak. Pengawal! Tutup semua gerbang utama! Siapkan semua pasukan pertahanan di semua pos! Mereka tidak akan dapat menggempur istana ini dengan serbuan semacam itu. Mereka pasti akan kelelahan setelah perjalanan itu. Dan saat itu, jika memang mereka berniat untuk lanjut menyerang, kita akan menghujani mereka dengan panah dan bebatuan. Aku akan bersiap dan menuju pos penjagaan untuk memimpin! Siapkan semuanya!”

Suku itu memang tidak dapat dipercaya.

     Para pengawal mendapatkan kepercayaan diri mereka. Semua pengawal pergi dan sang Raja tidak langsung bersiap. Sang Raja justru kembali ke ruang sang Ratu, di mana sang Ratu telah terbangun sementara si Pangeran mungil masih tertidur. Raut wajah sang Ratu memperlihatkan kekhawatiran yang mendalam. Sang Ratu kemudian berkata, “Apa yang sedang terjadi? Apa yang akan menimpa kita?” Sang Raja berusaha menenangkan sebisanya, “Suku itu sepertinya berbohong pada kita. Mereka menyerang kita duluan sebelum waktu yang telah mereka sepakati di dalam surat mereka.” Sang Ratu semakin takut dan bertanya, “Lalu bagaimana? Kita bisa bertahan, bukan?” Sang Raja menjawab, “Aku telah memikirkan segalanya. Jika melihat cara mereka bergerak saat ini, tidak mungkin mereka dapat menang terhadap serangan balasan kita dari dalam istana… Tapi…” Sang Ratu menanti dengan penuh ketegangan, “… Tapi… Memang semua telah kupikirkan dan kusiapkan dengan baik. Akan tetapi aku merasa bahwa malam ini akan ada sesuatu yang terjadi… Sesuatu yang tidak terduga oleh siapapun…”

     Sang Ratu melanjutkan kata-kata sang Raja, “Maksudmu, sesuatu yang buruk?…” Sang Raja mungkin dapat dan harus tampil sebagai sosok yang kuat dan penuh keyakinan di hadapan para pengawal dan rakyat yang dia pimpin. Akan tetapi, di sisi sang Ratu, istrinya, satu-satunya pendamping yang dicintainya, sang Raja tidak dapat berbohong dan berkata, “…Ya … Sesuatu yang sangat amat buruk… Dan oleh karena itu, aku ingin kamu pergi lewat lorong rahasia yang akan mengantarkanmu menuju ke tengah hutan di sisi barat istana. Setelah keluar dari mulut gua, lanjutkan saja arah larimu, dan kamu akan menemukan sebuah sungai. Ikutilah jalan sungai itu dan kamu akan melihat salah satu desa yang berada di bawah pemerintahan kita. Bersembunyilah di sana. Aku akan memerintahkan cukup pengawal untuk menemanimu. Bawa anak kita bersamamu…”

     Sang Ratu mulai menitikkan air mata, “Tidak… Kau tahu aku rela mati di sisimu… Aku tidak akan meninggalkanmu sampai kapanpun… Aku akan berada di sisimu dengan setia di masa kejayaanmu, dan di masa kejatuhanmu…” Sang Raja memeluk sang Ratu untuk menenangkannya, namun bukanlah itu alasan utama sang Raja memeluk sang Ratu. Sang Raja tidak ingin air matanya yang mengalir terlihat oleh sang Ratu. Sang Raja lalu berkata, “Ya, aku percaya kamu pasti akan melakukan semua itu. Jika tidak, aku tidak akan jatuh cinta padamu, Ratuku. Akan tetapi, pikirkanlah anak kita… Perjalanannya di dunia masih panjang… Sangat panjang… Dia tidak pantas menjadi korban janji setia kita, bukan?”

Akan tetapi, pikirkanlah anak kita… Perjalanannya di dunia masih panjang… Sangat panjang…

     Sang Ratu terdiam… Beberapa menit keheningan di antara mereka terasa begitu menyiksa. Karena mereka sama-sama tahu bahwa keheningan itu mempermainkan mereka dalam pertanyaan, ‘apakah mungkin kita akan berjumpa kembali?...’ Sang Ratu kemudian bersiap pergi dan membawa si Pangeran bersamanya. Sang Raja memerintahkan cukup banyak pengawal untuk mengawal sang Ratu, sebelum akhirnya sang Raja bersiap dengan zirah perangnya.

     Dan sebuah kejadian tidak terduga terjadi. Suku ini memang sangat berbahaya dan tidak tertebak. Suku buas ini ternyata telah mempersiapkan banyak orang dan menempatkannya di sekeliling istana, jauh sebelum menara pengintai membunyikan lonceng peringatan, jauh sebelum pasukan dari kejauhan terlihat bergerak, jauh sebelum disadari oleh siapapun. Dan ternyata istana ini bukanlah berada dalam keadaan yang sangat aman dari penyerangan, namun justru sangat terancam oleh bahaya. Pasukan suku yang baru saja dikirim dan terlihat oleh menara pengintai istana ternyata tidak sebanding dengan jumlah pasukan suku yang telah berada di sekitar istana.

- bersambung -

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (2) Dongeng Malam Hari
Cerita berikutnya : Pedang Raja : (4) Dari Titik Nol

Friday, December 9, 2016

Pedang Raja : (2) Dongeng Malam Hari

... Pemberian yang paling berharga untuk orang-orang yang kita kasihi adalah waktu kita bersama mereka, telinga kita yang mau mendengarkan mereka, mata kita yang mau memandang mereka, kata-kata kita yang mau menghibur mereka, dan sentuhan kita yang mau menenangkan mereka ...

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (1) Pangeran Kecil
Cerita berikutnya : Pedang Raja : (3) Perang Tak Terhormat

     Sosok laki-laki bertubuh besar dan berjubah hitam legam tersebut mengeluarkan pedangnya sepelan mungkin. Sebuah pedang yang terlihat renta, dengan berbagai bekas pertempuran di sana-sini. Pedang yang sepertinya telah menemaninya begitu lama di ajang pertempuran. Bahkan mungkin, hanya pedang itulah yang berada di sisinya dan mengetahui apa yang menyebabkan bekas luka memanjang di bagian leher kirinya, yang sepertinya dahulu hampir menyebabkan maut bagi sosok tersebut. Namun demikian, pedang yang terlihat tua tersebut sama sekali jauh dari keadaan mengenaskan. Pedang itu justru terlihat agung dan berwibawa. Pedang itu masih terlihat terawat dan mengilap. Pedang itu tampak telah menjadi saksi bisu dari banyak pertempuran, kemenangan, dan kekalahan. Pedang itu tampak telah menyimpan banyak pengalaman dan cerita. Kumpulan keadaan yang dengan unik menyebabkan tangan-tangan awam pasti menjadi tidak enak menyentuhnya secara asal-asalan.

     Sosok itu kemudian berjalan perlahan menuju ke jendela yang ada di ruang tersebut, ruang tempat sang Ratu dan si Pangeran kecil tertidur. Sosok itu dengan lembut membuka tirai kekuningan, menggesernya ke kiri dan ke kanan jendela, menyingkap jernihnya kaca jendela yang masih tertutup itu. Sosok itu kemudian membuka jendela besar yang sekarang terlihat bagaikan pintu gerbang kaca raksasa yang memisahkan ruang sang Ratu dengan keindahan alam malam di luarnya. Angin berembus pelan, senyum merebak di wajah sosok laki-laki itu, terlihat bahwa dia puas karena angin tidak bertiup terlalu kencang, yang bisa merusak rencananya malam itu. Sosok itu menoleh ke arah ranjang kecil, tempat sang Pangeran masih terlelap. Senyum masih tergambar di sosok berjubah hitam itu.

Senyum masih tergambar di sosok berjubah hitam itu.

     Sosok itu menjauh dari jendela yang baru saja dibukanya dan mendekati ranjang kecil sang Pangeran dengan perlahan. Sosok itu kemudian mengangkat pedangnya tinggi. Mata sosok itu tertuju pada wajah damai bayi berusia dua tahun di dalam ranjang kecil di hadapannya. Dan sosok itu melakukan sesuatu yang tidak terduga oleh siapapun…

     Sosok itu menggeser-geser posisi pedangnya yang sedang terangkat. Sepertinya sosok itu sedang berusaha mengarahkan sesuatu. Dan benar, sosok itu ternyata sedang berusaha mengarahkan pedangnya agar memantulkan cahaya terang rembulan menuju ke arah mata sang Pangeran mungil yang sedang tertidur. Beberapa saat lamanya hal ini terjadi dan cahaya pantulan rembulan yang tampak memanjang terlihat menari-nari di ranjang dan wajah si Pangeran kecil. Dan pada suatu ketika, sang Pangeran kecil membuka matanya. Ini ternyata adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh si sosok misterius itu.

 Ini ternyata adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh si sosok misterius itu.

     Si sosok laki-laki besar kemudian membungkuk dan berbisik pelan pada si Pangeran kecil, “Hai, calon Raja yang masih kecil… Sekarang, Raja asli yang sudah besar kembali mengunjungimu untuk bercerita… Kamu mau mendengar cerita kan? Kita biarkan Ibumu tidur terlelap ya… Jangan bilang-bilang Ibu kalau Ayah datang ke sini, nanti Ayah ditegur oleh Ibumu…” Si Pangeran kecil, layaknya mengerti apa yang sedang terjadi, terlihat begitu ceria. Si Pangeran kecil menggerak-gerakkan tangan dan kakinya, lalu sebuah senyum tergambar di wajah bayi mungil itu.

     Sosok laki-laki, yang ternyata adalah sang Raja sendiri, kemudian menggendong si Pangeran dengan tangannya kirinya yang tidak memegang pedang. Sang Raja memastikan lekukan tangan dan tubuhnya menjadi tempat yang nyaman bagi si bayi untuk bersandar, kemudian sang Raja melanjutkan kata-katanya, “Ibumu sering mengatakan bahwa kebiasaan ini tidak sehat untukmu, Nak. Ibu bilang bahwa angin malam itu membawa banyak penyakit di balik kelembutan embusannya. Tapi Ayah yakin kamu itu kuat. Angin malam butuh lebih dari sekadar tiupan untuk mengalahkanmu. Betul kan? Lagipula angin malam ini tidak terlalu kencang, basah, atau dingin kok.” Si pangeran kecil terisak pelan, terlihat ingin tertawa. Akan tetapi sang Raja tidak senang dan justru memberi isyarat pada si Pangeran kecil agar dia tidak berisik, “Ssst… Jangan berisik… Nanti kalau Ibumu terbangun, habislah Ayah…”

Si pangeran kecil terisak pelan, terlihat ingin tertawa.

     Sang Raja kemudian memulai ceritanya. Ya, sang Raja mendongeng untuk anaknya, si Pangeran mungil. Sang Raja sering melakukan hal ini untuk sang Pangeran, terutama pada malam hari di mana rembulan bersinar terang dan angin tampak bersahabat. Walaupun beberapa kali menyebabkan kekhawatiran pada sang Ratu, sebab takut anak mereka akan sakit, sampai saat ini sang Pangeran belum pernah mengalami masalah kesehatan karena hal ini. Mungkin itulah sebabnya sang Ratu belum memberikan larangan keras untuk suaminya tentang hal dongeng-mendongeng ini. Mungkin juga karena sang Ratu senang melihat kenyataan bahwa suaminya terlihat menyayangi putra mereka, dengan mau memberikan waktu di tengah kesibukannya sebagai raja untuk menceritakan kisah-kisah bernilai kehidupan tinggi pada si Pangeran.

     “Hmmm, malam ini apa yang Ayah mau ceritakan padamu ya? Apa kamu mau mendengar tentang kisah pemanah yang setia, yang tidak mau mengkhianati Rajanya sendiri karena emas dan perak?” Sang Raja bertanya pada Si Pangeran dan memandangnya. Si Pangeran memperlihatkan raut wajah biasa-biasa saja pada sang Raja. Sang Raja kemudian melanjutkan kata-katanya, “Tidak mau ya? Bagaimana kalau kisah tentang buaya yang berusaha menunjukkan pada teman-temannya di hutan bahwa dirinya tidak berbahaya walaupun seluruh dunia menganggap semua buaya itu berbahaya?” Si bayi kembali memperlihatkan raut wajah biasa-biasa saja, sehingga sang Raja kembali melanjutkan, “Tidak mau juga ya? Bagaimana dengan kisah seorang anak yang berusaha menjadi raja, pertama dengan cara yang salah, namun akhirnya dia menyadari kesalahannya, kemudian berusaha dengan cara yang benar?” Si Pangeran menggerak-gerakkan tangan dan kakinya dan tertawa kecil. Sang Raja kemudian berkata, “Baiklah kalau begitu… Cerita yang ketiga ya… Jadi, pada suatu hari…”

“Baiklah kalau begitu… Cerita yang ketiga ya… Jadi, pada suatu hari…”

     Begitulah sang Raja mendongeng dengan penuh semangat, sambil berusaha mengendalikan suaranya agar tidak mengganggu sang Ratu. Sang Raja bercerita sambil melompat ke sana-kemari, berjalan ke sana-kemari, dan mengayunkan pedangnya ke sana-kemari. Di kala itu, sang Pangeran terlihat ikut bersemangat, tersenyum dan tertawa, serta menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Sang Raja tidak menyadari bahwa sang Ratu ternyata telah terbangun juga dari tidurnya. Sang Ratu tengah mendengarkan dan memperhatikan tingkah polah sang Raja dari balik tirai di ranjangnya sambil tersenyum kecil, sambil juga berusaha menahan tawa. Sang Ratu tidak ingin sang Raja tahu bahwa sang Ratu telah terjaga dari tidurnya dan mengikuti cerita sang Raja. Begitulah malam itu berlalu, menit demi menit.

     Pada akhir cerita sang Raja, sang Raja menutup kisahnya dengan sebuah pesan, sebuah nasihat, “Kuharap dirimu juga begitu, Nak. Biarlah setiap orang mengakui bahwa dirimu berhak menjadi seorang raja, bukan karena dirimu dapat memberikan ketakutan dan teror pada mereka. Namun lebih daripada itu, biarlah setiap orang mengakui bahwa dirimu berhak menjadi seorang raja karena dirimu memang pantas menjadi raja. Karena kamu memang mampu, karena dirimu memang mau. Dan khususnya untukmu, Anakku, karena dirimu memang adalah seorang Pangeran, yang kelak akan menggantikan Raja…”

“Kuharap dirimu juga begitu, Nak. ...

     Mata sang Pangeran kecil, yang sedari tadi telah terlihat mengantuk, akhirnya mengalah dan sang Pangeran mungil kembali dibawa oleh para malaikat mimpi ke alam bunga tidur. Sang Raja meletakkan si Pangeran dengan lembut kembali ke ranjangnya, lalu bergegas menyimpan pedangnya, serta tidak lupa menutup jendela kaca dan tirai jendela tersebut. Sang Raja kemudian berdiri di sisi ranjang sang Ratu, menyempatkan waktu melihat wajah sang Ratu yang begitu dicintainya, sebuah senyum kemudian muncul di wajah sang Raja. Sang Raja kemudian berbalik menuju ke pintu ruang itu, bermaksud untuk keluar. Namun sang Ratu berkata, “Jadi hanya begitu saja? Hanya putra kita saja yang kaupeluk dan kautimang? Sementara aku hanya kaulihat dari balik tirai ini, kausenyumi, lalu kautinggalkan begitu saja?”

     Sang Raja terpaku. Sang Raja menoleh dan bertanya, “Jadi… Dari tadi kamu…” Sang Ratu terbangun, duduk di atas ranjangnya, lalu berkata, “Ya… Aku mendengarkan setiap kata yang kau ucapkan saat bercerita dan melihat setiap gerakan yang kau buat sambil menggendong putra kita… Kamu memang tidak ada duanya… Pasti tidak ada raja lain yang seperti dirimu… Aku semakin mencintaimu… Hahaha…” Sang Raja kemudian berjalan mendekat ke ranjang sang Ratu dan membuka tirainya. Sang Raja kemudian memberikan kecupan selamat malam pada sang Ratu di dahinya. Mereka berdua berbincang sejenak di atas ranjang itu, memperbincangkan banyak hal, namun terutama memperbincangkan tentang perang yang akan terjadi dalam hitungan jam.

... namun terutama memperbincangkan tentang perang yang akan terjadi dalam hitungan jam.

     Sebuah perang yang akan mengubah segalanya, sebuah perang yang akan menjungkirbalikkan hidup si Pangeran kecil. Si Pangeran kecil tidak menyadari bahwa dongeng yang didengarnya dari ayahnya, sang Raja sendiri, adalah dongeng terakhir yang akan dia dengar langsung dari mulut ayahnya. Si Pangeran kecil pun tidak menyadari bahwa dongeng yang didengarnya dari ayahnya akan serupa dengan masa depan yang akan dia jalani.

- bersambung -

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (1) Pangeran Kecil
Cerita berikutnya : Pedang Raja : (3) Perang Tak Terhormat