Translate

Friday, September 16, 2016

Jalan Saja Dulu

... Berapa banyak masalah yang kita pikir mungkin akan kita hadapi? Berapa banyak masalah yang sebenarnya memang sungguh-sungguh kita hadapi? ...

O_O

     Pagi itu, sebuah suara membangunkanku dari tidur nyenyakku. Ya, meskipun tidurku terganggu, aku tidak merasa kaget atau bingung atas hal ini. Karena memang begitulah yang hampir selalu terjadi di pagi hari, khususnya pada hari-hari sibuk di mana aku tengah berkuliah. Suara yang membangunkanku itu adalah suara yang sangat tidak asing. Itu adalah suara ibuku yang merupakan sosok paling rajin di rumah tempatku tinggal bersama keluargaku.

     Bagaimana tidak?! Ibu selalu bangun pagi-pagi sekali, sepertinya, seingat dan setahuku, tidak pernah luput sekali pun. Beliau senantiasa mengawali paginya dengan berdoa, kemudian menggosok gigi dan mencuci muka. Berikutnya, Ibu akan mulai membersihkan peralatan makan dan perlengkapan dapur, sambil memasak, untuk menyiapkan bekal untuk diriku dan adikku. Ibu tentu saja harus bergerak gesit dan bekerja cepat agar pagi yang singkat itu dapat tergunakan sebaik-baiknya untuk mempersiapkan keberangkatan diriku dan adikku. Tanpa terlambat sedikit pun.

     Aku pertama-tama harus mengantar adikku ke sekolahnya, kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke kampus. Kedua perjalanan itu sama-sama tidak terlalu dekat, sebab baru-baru ini, kami sekeluarga baru saja pindah rumah. Dan rumah baru kami itu, cukup jauh dari kampusku dan sekolah adikku, jika dibandingkan dengan rumah kami yang lama. Tapi, ya kami syukuri saja, karena aku dan adikku masih sanggup menelusuri jarak tersebut untuk melakukan kewajiban kami masing-masing, sebagai mahasiswa dan pelajar.

Aku pertama-tama harus ...

     Pagi itu, sekitar lima belas menit sebelum aku berangkat dengan mengendarai sepeda motor hitamku, aku duduk di atas sofa ruang tamu karena ada pikiran yang tiba-tiba mengganjalku. Semalam baru saja terjadi hujan deras dan jalan di depan rumahku terdengar lebih ramai daripada biasanya. Aku menduga, hujan deras semalam sepertinya menyebabkan banjir dan genangan di beberapa ruas jalan, sehingga kemacetan terjadi. Ini berarti aku harus mencari rute alternatif yang tidak banjir, tidak macet, dan tidak terlalu jauh. Kombinasi yang cukup sulit, menurutku.

     Aku melayangkan pikirku. Jalan yang biasa kulalui, sampai pada ruas tertentu, sepertinya masih bisa kugunakan untuk mengantar adikku ke sekolahnya. Akan tetapi, untuk keluar dari rumahku menuju ke jalan utama, sebelum menuju ke sekolah, aku harus agak memutar melewati sebuah jalan gang yang lain daripada jalan gang yang biasanya kulewati. Berdasarkan ingatan dan pengalamanku, jalan gang yang biasa kulewati untuk menuju ke jalan utama itu memotong sebuah anak sungai, sehingga kurasa jalan gang itu akan tergenang oleh air. Hal ini pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, dan kurasa akan terulang lagi sekarang. Itulah mengapa aku harus memutar melewati sebuah jalan gang yang lain.

     Sekarang, untuk perjalanan dari rumahku menuju ke sekolah adikku, itu kurasa telah terselesaikan. Rute yang kurencanakan sepertinya cukup baik dan masuk akal. Masalah berikutnya adalah bagaimana aku memilih rute-rute jalan agar dapat sampai di kampusku. Perjalanan dari sekolah adikku ke kampusku itu lumayan jauh, sehingga memberikan aku banyak alternatif dan banyak masalah secara sekaligus. Seingatku, jalan yang biasa kulalui untuk menuju ke kampus dari sekolah adikku itu tidak dapat kugunakan jika terjadi banjir. Ada tiga sampai empat titik genangan air yang kuingat dapat muncul setelah terjadi hujan deras seperti yang telah terjadi semalam. Jadi, aku tidak dapat menggunakan jalan yang biasa kutempuh dari sekolah adikku menuju ke kampusku itu.

Rute yang kurencanakan sepertinya cukup baik dan masuk akal.

     Sebuah jalan lain terpikir olehku. Sebuah jalan yang kadang kulalui juga, jika aku merasakan atau mengetahui kemacetan sedang terjadi. Jalan ini adalah jalan kecil yang melewati perumahan warga. Jalannya masih berupa jalan batu dan tanah, serta tidak terlalu lebar. Tantangan di sini adalah jika ada mobil yang memutuskan untuk menggunakan jalan ini juga. Pokoknya, jika ada yang berhadapan dengan mobil, maka salah satunya harus mengalah untuk menepi dan menunggu, sembari memberi kesempatan pada yang lain untuk berjalan terlebih dahulu. Itulah sebabnya jarang ada mobil yang melewati jalan ini, kecuali jika sangat terpaksa. Itulah sebabnya aku kadang melewati jalan ini karena tahu bahwa jalan ini jarang digunakan oleh orang-orang.

     Namun, jalan alternatif ini memicu keraguanku. Pertama, karena kemungkinan jalan kecil ini akan secara nekat digunakan oleh lebih banyak orang, sebab orang-orang berusaha menghindari banjir. Kedua, karena keadaan jalan kecil ini pasti sangat licin setelah hujan deras yang mengguyur semalam-malaman, sehingga ada bahaya, khususnya untuk para pengguna sepeda motor, tergelincir karena jalan kecil ini becek. Mungkin memang jalan kecil ini tidak tergenang air, akan tetapi kemungkinan ramainya jalan ini dan licinnya jalan ini pasti akan membuat orang-orang yang menggunakan jalan kecil ini berkendara lambat-lambat. Aku sepertinya perlu memikirkan jalan alternatif lain.

     Tidak kusadari, dua puluh menit telah berlalu sambil aku diam duduk di sofa ruang tamu, karena berusaha memikirkan jalan yang harus kulalui agar dapat mengantar adikku dan melanjutkan perjalanan menuju ke kampus. Aku juga tidak menyadari bahwa ternyata ayahku sedang berjalan mendekatiku. Aku agak kaget sedikit ketika Ayah memanggilku, “Loh... Kamu kok belum berangkat?” Tidak lama waktu yang kuperlukan untuk menjawab pertanyaan itu, “Eh, iya Yah... Lagi bingung harus lewat mana? Takut kalau macet dan banjir...”

“Loh... Kamu kok belum berangkat?”

     Ayahku mengangguk dan berpikir sejenak, kemudian memberi saran, “Lewat jalan yang ada rumah makan padang langganan Ayah itu saja... Sepertinya tidak banjir...” Aku berpikir, lalu menjawab, “Tapi jalan itu sepertinya terlalu jauh memutar...” Ayahku kembali berpikir, lalu memberi saran lagi, “Naaah, kalau begitu, coba lewat gang sebelah masjid besar yang ada dekat sekolah adikmu...” Aku menimbang-nimbang, lalu memberi pendapat, “Jalan itu bukannya banjir juga, Yah?” Ayah menggeleng dan menjawab, “Tergenang sedikit saja... Tidak terlalu dalam... Ayah rasa bisa dilewati sepeda motor...” Aku kemudian kembali diam, berpikir lagi dan lagi, terus dan terus.

     Saat itu, ayahku mulai beranjak pergi, namun beliau mengatakan sesuatu yang berkesan untukku, “Jangan kebanyakan berpikir... Lebih baik kamu segera pergi lewat jalan yang kamu pikir paling baik... Kalau kamu berangkat sekarang, kamu nanti pasti sampai di tujuan... Kalau kamu diam di sini, kamu kapan mau sampai?... Saat kamu ada di jalan, kamu pusing di jalan, lalu cari jalan lain, dan kamu lewati jalan lain itu... Saat kamu cuma duduk di sini, kamu pusing di sini, lalu cari jalan lain di sini, tanpa kamu lewati jalan lain itu... Sudah sana berangkat...”

     Betul juga... Daripada berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa di sini, sambil memikirkan perjalanan yang tidak ditempuh, sambil menyelesaikan masalah yang tidak dihadapi... Lebih baik aku berangkat pergi sekarang, menempuh perjalanan yang nyata kulewati, dan menyelesaikan masalah nyata yang kutemui...

Betul juga...

^_^

Friday, September 9, 2016

Bensin

... Manusia dianugerahi kreativitas oleh Tuhan, dan ini membuat manusia hampir dapat melakukan apa saja ...

O_O

     Malam hari itu, aku pulang menelusuri jalan dengan lelah. Sebuah malam di pertengahan minggu yang cemerlang, dengan bulan dan gemintang di atasnya. Sebuah malam yang gelap keunguan, yang terlihat begitu agung berhiaskan awan tipis-tipis. Namun suasana di langit jauh di atas sana, jangan pernah sekali-sekali dibandingkan dengan suasana yang ada di jalan yang tengah kulalui ini. Di daratan ini, yang begitu jauhnya dari langit, suasananya pun bagaikan sejauh bumi dengan langit. Sungguh amat berbeda. Jalan ini begitu ramai dan padat, jalan ini begitu panas dan sumpek. Ditambah lagi, aku saat ini sedang menaiki sebuah sepeda motor yang bahkan dengan ukuran kecilnya, hanya mampu merayap perlahan di sisi kiri jalan raya.

     Di atas sepeda motorku, rasa panas dan pengap yang kurasakan semakin menjadi karena banyak hal. Pertama, karena memang keadaan udara malam itu cukup lembap dan agak panas, layaknya udara hangat yang terasa beberapa saat lamanya sebelum terjadi hujan. Kedua, karena asap kendaraan bermotor yang begitu menyiksa paru-paruku ini, lebih-lebih asap yang dikeluarkan oleh kendaraan-kendaraan berbadan besar berbahan bakar solar. Ketiga, karena aku mengenakan jaket, seperti yang biasanya digunakan oleh para pengendara sepeda motor pada umumnya. Dan keempat, yang terakhir, adalah karena mesin-mesin kendaraan bermotor dan mesin pendingin mobil-mobil mengeluarkan hawa panas yang melayang, bertahan lama di udara malam itu, sambil berusaha membelai siapapun yang berada di dekatnya.

     Memang serba salah jika aku harus memikirkan dan memutuskan kendaraan apa yang harus kugunakan untuk mengantarkan diriku dari suatu tempat ke tempat lain di kota besar yang sibuk ini. Kendaraan pribadi memang lebih nyaman dan lebih bebas digunakan, akan tetapi saat macet seperti ini, para pengendara kendaraan pribadi harus lebih sabar, lebih berkonsentrasi, dan lebih cekatan dalam berkendara. Sementara itu kendaraan umum memang tidak mengikat penumpangnya dengan biaya perawatan dan biasanya lebih murah karena sifatnya yang massal, akan tetapi para penumpang kendaraan umum harus lebih sabar menunggu dan pintar-pintar mencari kombinasi trayek angkutan umum yang paling cepat, tepat, dan efisien, sesuai dengan keperluannya. Bagaikan koin dua sisi, yang satu harus dipilih dan yang lain harus dilepaskan.

Bagaikan koin dua sisi, yang satu harus dipilih dan yang lain harus dilepaskan.

     Saat aku mengarungi lautan jalan raya penuh sesak itu, tiba-tiba aku tertarik pada suatu pemandangan di sisi jalan. Bagian sisi jalan di sebelah kiriku terlihat penuh dengan beberapa orang yang tampak sedang menyaksikan sesuatu di trotoar. Aku memanfaatkan waktu sempit yang kumiliki di atas sepeda motorku untuk sengaja melirik keramaian tersebut dan melihat apa yang menarik perhatian orang-orang tersebut. Ya, aku berhasil menemukan celah untuk sedikit mencuri pandang, mengamati di sela-sela punggung orang-orang yang ada! Ternyata di trotoar sedang ada mobil yang terparkir dan pintu belakangnya terbuka lebar. Dari pintu belakang yang terbuka itu, semua rasa penasaranku terjawab. Ternyata mobil itu membawa barang elektronik rumah tangga untuk dijual. Sebuah papan bertuliskan, “OBRAL BARANG-BARANG ELEKTRONIK RUMAH TANGGA” menjawab keraguanku.

     Ya, siapa yang menyangka orang-orang punya belasan, bahkan puluhan cara untuk bekerja, termasuk orang yang membuka ‘pasar kaget’ barang elektronik di mobil miliknya tersebut. Kreativitas dan cara-cara manusia memang unik dan ada-ada saja.

     Aku kemudian melanjutkan perjalanan lagi, masih di tengah kemacetan yang entah di mana ujungnya. Aku berkendara dengan santai dan pelan, sambil dengan sigap mencari jalur-jalur yang dapat kulalui dan menghindari halangan-halangan yang ada. Dan setelah beberapa menit berkendara, aku kembali menemukan keramaian di sisi kiri jalan. Persis seperti keramaian pertama yang aku lihat sebelumnya. Aku kembali berusaha mengintip dan mencari tahu apa penyebab keramaian di trotoar tersebut.

Dan setelah beberapa menit berkendara, aku kembali menemukan keramaian di sisi kiri jalan.

     Aku berhasil mengintip, dan aku lebih kaget daripada sebelumnya. Ternyata penyebab keramaian yang satu ini adalah keberadaan beberapa orang yang melakukan atraksi-atraksi di trotoar. Atraksi-atraksi mereka meliputi atraksi sulap, atraksi lucu, dan atraksi berbahaya. Aku berhasil mengetahui begitu banyak informasi ini walaupun aku hanya punya waktu yang sempit untuk mengamati dari atas sepeda motorku, semuanya karena pengeras suara yang digunakan oleh seseorang untuk mendeskripsikan atraksi yang sedang terjadi dan untuk semakin menambah semarak suasana.

     Ya, siapa yang menyangka orang-orang punya belasan, bahkan puluhan cara untuk berkerja, termasuk orang-orang yang membuka ‘sirkus dadakan’ di tepi jalan tersebut. Kreativitas dan cara-cara manusia memang unik dan ada-ada saja.

     Tidak beberapa lama kemudian, aku harus menepi ke sisi kiri jalan karena sepeda motorku mogok. Tidak kusangka! Apa yang terjadi pada sepeda motorku?! Apa yang harus kulakukan?! Setelah aku menepi, aku mencoba menyalakan sepeda motorku beberapa kali, namun tetap tidak bisa. Aku mencoba tenang dan berpikir sejenak, berusaha agar kepanikan tidak membuatku semakin bingung dan tidak dapat melakukan apa-apa. Dan beberapa saat kemudian, ketidakpanikanku memberikan solusi untuk kucoba. Aku membuka jok motorku, lalu membuka penutup tangki bensin motorku. Ternyata tebakan pertamaku ini langsung benar. Aku kehabisan bensin.

Ternyata tebakan pertamaku ini langsung benar.

     Aku melihat ke sekeliling, berusaha menemukan sesuatu. Ternyata tidak jauh di depanku, ada sesuatu yang memang kucari-cari. Tidak ada SPBU di sana, akan tetapi ada sesuatu yang sungguh sangat berbeda dengan SPBU di tepi jalan ini yang berperan mirip-mirip dengan SPBU. Aku mendorong sepeda motorku mendekati tempat itu dan melihat ada seseorang sedang menjaga sebuah rak kayu sederhana, yang berisi botol-botol berukuran sedang, yang berisi cairan kuning yang dapat menolongku. Bensin!

     Ya, siapa yang menyangka orang-orang punya belasan, bahkan puluhan cara untuk berkerja, termasuk orang yang menjajakan bensin di dalam botol-botol di tempat yang jauh dari SPBU tersebut. Kreativitas dan cara-cara manusia memang unik dan ada-ada saja.

     Tapi ternyata, kesulitanku belum berakhir. Setelah berbincang dengan penjaja bensin botolan tersebut, ternyata bensin yang dijual oleh orang itu bukanlah bensin yang cocok dengan sepeda motorku. Aku sepertinya harus mencari SPBU atau mencari penjaja bensin botolan lainnya. Dan begitulah aku kembali mendorong sepeda motorku yang tidak dapat kunyalakan itu.

Tapi ternyata, kesulitanku belum berakhir.

     Aku melanjutkan perjalanan dengan susah payah, seiring peluh bermunculan membanjiri tubuhku. Aku tiba-tiba dikejutkan saat seorang pengendara sepeda motor menepi dan memanggilku. Dia bertanya apa yang sedang terjadi pada sepeda motorku, dan menawarkan bantuan untuk menarik sepeda motorku. Aku kemudian menjelaskan bahwa sepeda motorku sedang kehabisan bensin. Setelah mengetahui masalah yang kualami, dia mengatakan bahwa dia dapat memberikan sedikit bensin di sepeda motornya padaku. Begitulah akhirnya aku mendapatkan sedikit bensin untuk dapat kembali berkendara ke SPBU terdekat, atau ke penjaja bensin botolan terdekat.

     Ya, siapa yang menyangka orang-orang punya belasan, bahkan puluhan cara untuk berbuat baik juga, termasuk orang yang menawarkan bantuannya padaku saat sepeda motorku itu mogok. Kreativitas dan cara-cara manusia memang unik dan ada-ada saja.

^_^

Friday, September 2, 2016

Satu Banding Dua Ribu

... Salah satu aspek dari hidup yang perlu kita mengerti adalah, hidup merupakan rangkaian peluang-peluang ...

O_O

            Siang itu adalah hari Senin, tanggal 10 September 2012. Untuk pertama kalinya secara resmi, aku berada jauh dari orang tuaku dan saudara-saudaraku. Untuk pertama kalinya secara resmi, aku berada di negara lain selain negara asal tempat aku dilahirkan. Dan tentunya, untuk pertama kalinya aku mendapatkan pedang bermata dua berupa kebebasan dan tanggung jawab, yang keduanya harus kujaga agar dapat berjalan dengan selaras dan seimbang. Ya, tentu saja perihal kebebasan dan tanggung jawab ini masih merupakan sesuatu yang kadang membingungkan, karena beberapa orang terbukti menikmati kebebasannya tanpa rasa tanggung jawab sementara beberapa orang lain terbukti menjalani tanggung jawab tertentu sampai-sampai melupakan kebebasan yang dimilikinya. Ya, bebas tapi harus bertanggung jawab dan memegang tanggung jawab tapi jangan lupa kebebasan. Jadilah manusia menjadi makhluk hidup yang berakrobat di atas tali kehidupan sambil menjaga keseimbangan antara tanggung jawab dan kebebasan, agar dia tidak terjatuh ke dalam jurang penyesalan. Baiklah, jadi sudah ada di mana aku sekarang ini?
            Aku melihat keluar jendela bus. Aku sedang berada di Taipei, ibu kota Taiwan. Sebuah kota yang lebih teratur dan nyaman jika dibandingkan dengan Jakarta, ibu kota Indonesia, negara tempat aku dilahirkan. Setidaknya, itulah penilaianku berdasarkan pengalamanku tinggal selama dua tahun di Taipei. Sebuah kota besar yang sibuk dan padat, namun tetap teratur dan nyaman karena para penduduknya yang mayoritas taat pada peraturan walaupun tanpa tatapan mata yang secara langsung mengawasi mereka. Ya, mungkin saja mereka taat karena CCTV yang menggantikan tatapan mata langsung para pihak yang berwajib, akan tetapi kurasa tidak juga. Aku sempat menyaksikan sendiri bahwa di tempat-tempat tanpa CCTV pun mereka tetap teratur, terutama saat mengantre, hampir di manapun.

Antrean untuk membeli minuman

            Akhirnya, aku tiba juga ke tempat tujuanku. Tempat di mana aku akan menggunakan dua tahun dari usiaku untuk menuntut ilmu dan menimba pengalaman. Aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku yang lama di Jakarta, kota supersibuk tempat aku berasal, lalu melanjutkan kuliah strata dua alias S2 di bidang teknik elektro, di kota ini, Taipei. Aku sampai di kampus National Taiwan University of Science and Technology, kemudian turun dari bus yang aku naiki. Kira-kira apa yang dipikirkan seseorang secara langsung saat akan tinggal lama di negara lain? Tentu salah satunya adalah bahasa yang digunakan dan mempelajari bahasa tersebut. Dan memang, itu adalah salah satu hal yang kupikirkan saat aku, untuk pertama kalinya, menginjakkan kaki di lapangan depan kampus, ‘Aku mau berkuliah sambil mencoba belajar bahasa Mandarin.’ Dan hampir bertepatan dengan saat aku memikirkan hal tersebut, aku mendengar suara sayup-sayup dari kejauhan, ‘Kon wes mari mangan pingin turu ato mlaku-mlaku?[1]’ Sesaat aku berpikir, ‘Yang baru saja kudengar itu logat bahasa Mandarin dari provinsi mana ya? Kenapa terdengar begitu akrab di telinga?’

            Sebelum melanjutkan cerita ini lebih jauh, aku ingin mencoba meluruskan sesuatu. Mungkin ada beberapa pembaca yang bertanya-tanya, ‘Lalu apa hubungan semua kisah ini dengan satu banding dua ribu? Apa maksud dari judul cerita ini?’ Baiklah, aku akan mencoba menjelaskannya sebelum melanjutkan cerita ini. Mari para pembaca sekalian mencoba menjawab pertanyaan dari masa sekolah berikut. Jika di dalam sebuah kotak, terdapat satu bola merah dan satu bola putih, kemudian aku mengambil sebuah bola secara acak, berapakah peluang terambilnya bola putih? Jawabannya mudah dan pasti. Dari teori peluang, jawabannya adalah satu banding dua, alias setengah.
            Berikutnya, bagaimana dengan satu bola putih dan seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan bola merah? Berapa peluang terambilnya bola putih secara acak? Jawabannya tentu satu banding dua ribu. Dan bagaimana dengan satu bola putih dan empat juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan bola merah? Jawabannya sudah tentu satu banding lima juta. Hei, hei, lalu apa maksud ini semua?! Sabar, sabar. Apakah para pembaca sekalian tahu mengapa contoh-contoh soal ini menggunakan angka dua ribu dan lima juta? Jawabannya adalah, karena dua ribu merupakan kisaran jumlah mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Taiwan[2]. Sementara, lima juta merupakan kisaran jumlah mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Indonesia[3]. Lalu apa? Lalu, mari melanjutkan kisahku yang tadi sempat terpotong.

            Satu banding dua ribu adalah posisi dan penanda setiap mahasiswa Indonesia di Taiwan. Aku adalah satu mahasiswa Indonesia di antara kedua ribu mahasiswa Indonesia di Taiwan secara keseluruhan. Dan apakah arti ini semua bagiku maupun bagi para mahasiswa lainnya. Secara singkat, padat, dan jelas, lebih banyak kesempatan! Coba dibayangkan, berapa besar peluang seseorang dapat terpilih sebagai pembawa acara sebuah pentas di tingkat kenegaraan, dan seluruh mahasiswa Indonesia di Indonesia adalah calon-calonnya? Peluangnya kecil, bahkan sangat amat terlalu kecil sekali, hanya sekitar satu banding lima juta dengan menganalisis secara kasar.  Bandingkan hal ini dengan kasus serupa yang terjadi di lokasi lain, di Taiwan. Bayangkan, berapa besar peluang seseorang dapat terpilih sebagai pembawa acara sebuah pentas di tingkat kenegaraan, dan seluruh mahasiswa Indonesia di Taiwan adalah calon-calonnya? Peluangnya hampir dua ribu kali lipat lebih besar. Hitungan kasar menghasilkan angka satu banding dua ribu. Itulah kesempatan yang aku maksudkan, itulah kesempatan yang aku bicarakan!
            Kemudian secara lebih mendetil, di Taiwan jika dibandingkan dengan di Indonesia, lebih banyak kesempatan untuk mencoba berbagai-bagai hal dan terjun ke dalam bermacam acara yang mungkin tidak pernah terbayangkan. Kesempatan untuk menjadi pembawa acara, kesempatan untuk menjadi pemeran di dalam pentas drama, kesempatan untuk menjadi model sampul majalah, kesempatan untuk tampil di layar kaca bak selebriti, kesempatan untuk menjadi pembawa berita, kesempatan untuk menjadi penyiar radio, kesempatan untuk memimpin ibadah agama masing-masing, kesempatan untuk mengepalai beraneka rupa aktivitas yang bertajuk Indonesia, serta kesempatan untuk mewakili dan memperkenalkan Indonesia di perayaan-perayaan yang memerlukan perwakilan dari kampung halaman tercinta.

            Kesempatan pertama yang ingin kuceritakan adalah sebuah kesempatan untuk mengasah sebuah bahasa asing yang cukup umum digunakan pada masa kini, yaitu bahasa Mandarin. Tinggal di Taiwan membuat peluang seseorang terpapar dengan mahasiswa Indonesia lain menjadi turun hampir dua ribu kali lipat (ingat, satu banding lima juta dan satu banding dua ribu), bahkan mungkin lebih jika orang Indonesia selain mahasiswa di kedua negara ikut diperhitungkan. Kesempatan ini membuat seseorang dari Indonesia lebih banyak dituntut untuk berinteraksi dengan orang-orang Taiwan yang menggunakan bahasa Mandarin. Kesempatan ini juga membuat seseorang dari Indonesia lebih banyak dituntut untuk akrab dengan teks-teks berbahasa Mandarin.
            Salah satu pengalaman yang kualami terkait bahasa Mandarin ini adalah saat aku dan beberapa orang temanku mengunjungi sebuah festival kostum tokoh-tokoh komik dan animasi Jepang, atau lebih terkenal dengan istilah manga dan anime, di Taiwan. Ya, di Taiwan ternyata juga ada festival semacam ini, dan menurutku, kostum-kostum serta riasan wajah mereka tidak kalah jika dibandingkan dengan festival serupa yang diadakan di Jepang, tempat asal manga dan anime.

Berfoto bersama salah satu pengisi acara festival kostum tokoh manga dan anime

            Di sana, untuk berkomunikasi dengan mereka, tentu aku dapat menggunakan bahasa Inggris yang sedikit bercampur aduk dengan bahasa tubuh. Akan tetapi masalahnya, tidak semuanya dapat mengerti bahasa Inggris dengan sempurna. Di sinilah aku dipaksa untuk mencoba mengeluarkan perbendaharaan kata Mandarin yang kumiliki. Memang mungkin aku pernah belajar bahasa Mandarin, namun percayalah, belajar teori bahasa dan mengaplikasikan bahasa itu adalah hal yang berbeda. Seseorang sangat mungkin sempurna dalam teori berbahasa Mandarin. Namun, bila dia tidak pernah menggunakannya, dia tidak akan pernah menjadi ahli bahasa Mandarin. Di sinilah keadaanku sebagai satu di antara dua ribu memaksaku untuk berbahasa Mandarin.
            Jangan pernah lupa bahwa saat aku berada di Taiwan, aktivitasku sehari-hari hampir selalu berurusan dengan orang Taiwan. Mulai dari hal-hal yang umum, seperti berbelanja dan menawar harga barang-barang, sampai hal-hal yang sangat khusus, seperti menanyakan cara pemakaian alat-alat laboratorium dan di mana penyimpanannya. Mulai dari hal-hal penting, seperti menanyakan arah di jalan agar aku tidak tersasar, sampai dengan hal-hal tidak (terlalu) penting, seperti menanyakan letak toilet yang bisa kugunakan.
            Di sini, keahlian mengenali dan mengerti tulisan Mandarinku pun ikut terasah. Sebab, hampir semua papan reklame, penunjuk arah, dan tentunya menu makanan, ditulis menggunakan aksara Mandarin. Lalu, dengan kemampuan berbahasa Mandarinku yang tidak terlalu lihai, bagaimana aku dapat bertahan hidup di sana? Pertanyaan bagus. Jawabannya adalah, karena di Taiwan, terutama di Taipei, banyak papan informasi untuk umum ditulis dengan bahasa Mandarin dan Inggris secara sekaligus. Hal ini tentunya menjadi keuntungan bagiku dan orang lain yang belum lancar membaca aksara Mandarin. Jadi, tidak perlu takut untuk menjejakkan kaki di negara dan kota ini sebagai orang asing, karena ada kata-kata bijak yang berbunyi, ‘Kalau seseorang tidak dipaksa, dia tidak akan pernah memulai, bukan?’ Hehehe…

Contoh papan peringatan di Taiwan yang artinya, ‘Awas copet!’

            Oleh karena aku sedang berkuliah di Taiwan, tentunya aku juga akan menceritakan kualitas pendidikannya. Sebagai seorang mahasiswa yang mengambil jurusan teknik elektro di sana, aku berkesempatan untuk melihat sendiri bahwa riset-riset di kampus-kampus Taiwan sangat erat berkaitan dengan aplikasi di dunia industri. Selain itu, profesor-profesor pengajarnya juga merupakan profesor yang cukup ternama secara internasional. Profesor pembimbing tesisku saja misalnya, beliau dikenal di dalam komunitas IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers), yang adalah organisasi profesi internasional yang mewadahi insinyur-insinyur, terutama insinyur dalam bidang ilmu kelistrikan. Dan di sini, keadaan satu banding dua ribu yang kumiliki kembali memberikan pengalaman menarik untukku.
            Jadi, pada suatu ketika, profesor pembimbing tesisku itu menjadi salah satu penanggung jawab acara konferensi riset tingkat internasional yang akan diselenggarakan di Taiwan. Dan karena profesorku itu menilai bahwa kemampuan berbahasa Inggrisku cukup baik, maka beliau mendelegasikan aku untuk menjadi salah seorang peserta konferensi. Sebagai peserta konferensi, aku akan mempresentasikan riset yang sedang kukerjakan di hadapan umum dalam konferensi tersebut. Di sini, ada beberapa fakta menarik yang perlu rekan-rekan pembaca ketahui. Pertama, orang-orang Indonesia yang berkuliah di Taiwan, biasanya datang dengan persiapan berupa bahasa Inggris dan Mandarin yang baik. Kedua, para profesor di Taiwan biasanya memilih mahasiswa internasional untuk mengikuti konferensi internasional, yang artinya, mahasiswa Indonesia sepertiku berpeluang lebih besar daripada mahasiswa Taiwan untuk didelegasikan. Dan ketiga, kesimpulannya, jika dibandingkan dengan kesempatan yang ada di Indonesia, kesempatan seorang mahasiswa Indonesia menjadi peserta konferensi tingkat internasional semacam ini di Taiwan tentunya lebih besar. Lihatlah itu, deretan kesempatan yang membuka sebuah pintu baru untuk dilalui.

Konferensi internasional di mana aku mempresentasikan riset yang sedang kukerjakan

            Ada hal menarik lainnya yang terjadi padaku akibat komposisi satu banding dua ribu ini. Dan hal ini terjadi pada suatu hari yang cukup bersejarah bagi Indonesia, yaitu tanggal 21 April. Ya betul, hari Kartini. Pada hari itu, aku dimintai bantuan oleh sebuah badan yang bergerak di bidang sosial, yaitu salah satu badan yang bertujuan untuk memperhatikan dan membina tenaga kerja Indonesia di Taiwan. Aku dimintai tolong agar aku dapat menjadi pembawa acara pada saat perayaan hari Kartini tersebut. Saat pertama kali mendengarnya, aku cukup kaget, karena hampir tidak pernah ada seorang pun yang menawariku kesempatan seperti itu. Kemudian, di waktu aku berbincang, aku mendengar sebuah kalimat menarik, “Tidak apa-apa, kamu saja yang menjadi pembawa acara. Kamu kan bisa berbicara di hadapan umum dan cepat beradaptasi dengan suasana.”
            Saat itu aku berpikir demikian, ‘Di waktu aku berada di Indonesia, mungkin banyak orang yang lebih berbakat dan lebih berpengalaman dariku. Sehingga, tentu para penanggung jawab acara memiliki banyak pilihan dalam memilih pembawa acara selain aku. Akan tetapi, saat aku berada di Taiwan, keadaan berubah. Aku memang bukan yang terbaik, tapi aku adalah yang memperlihatkan potensi dan mau belajar. Maka, syukurlah, aku yang akhirnya terpilih.’ Di sini aku melihat bahwa keadaan satu banding dua ribu yang kumiliki ternyata membuatku dapat mengasah potensiku yang tak pernah sempat terasah di Indonesia, karena potensiku itu tertutup oleh potensi orang lain. Jadi, daripada seseorang hidup tanpa arti dan tantangan karena menjadi cahaya kecil di tempat terang-benderang, mungkin akan lebih baik jika dia hidup penuh makna dan pembelajaran karena menjadi cahaya kecil di tempat gelap gulita.

Saat menjadi pembawa acara di hari Kartini

            Lalu, pengalaman terakhir yang mungkin dapat menginspirasi adalah saat aku terpilih menjadi seorang pemeran drama dalam pentas kebudayaan Indonesia di kampusku. Dan tentunya para pembaca sekalian sudah mengetahui mengapa aku bisa terpilih. Karena keadaan satu banding dua ribu yang kumiliki. Saat itu memang aku terpilih menjadi pemeran drama, akan tetapi aku belum tahu peran apa yang akan kumainkan. Kemudian dilaksanakanlah sebuah rapat yang bertujuan untuk membagi-bagikan peran, yang sayangnya tidak dapat kuhadiri. Di sini aku mempelajari suatu hal. Jangan pernah melewatkan rapat perdana yang bertujuan untuk merencanakan sebuah acara! Jangan pernah! Mengapa? Karena ketidakhadiranku di rapat itu memberikan sebuah peran unik untukku, yaitu sebagai seorang pangeran dari tanah Papua. Yang benar saja! Diriku yang putih, berbadan kecil, dan bermata sipit ini diberikan peran sebagai pangeran dari tanah Papua. Ya, tapi apa boleh buat. Keputusan sudah dibuat. Aku harus menerima dan menjalaninya.
            Aku memilih untuk tidak menyesali peran yang kudapatkan. Dan di sini aku memperoleh pelajaran. Pertama, segala sesuatu yang kita laksanakan sepenuh hati dan tanpa keterpaksaan akan berbuah hasil yang maksimal. Buktinya, saat aku memerankan tokoh pangeran dari tanah Papua ini, walau aku harus bertelanjang dada, walau tubuhku harus dicat, dan walau aku harus memerankan adegan perkelahian yang agak menyakitkan (tapi dijamin aman seratus persen), pada akhirnya, kesungguhanku saat berlatih dan memerankannya membuatku menjadi salah satu tokoh yang menarik perhatian para penonton pada hari dilaksanakannya pentas. Serta kedua, aku tidak menyangka bahwa di luar negeri, justru aku bertegur sapa begitu dekat dengan budaya Indonesia. Saat aku berlatih memerankan tokoh pangeran dari tanah Papua tersebut, aku belajar kata-kata sapaan dan logat khas Papua, aku belajar gerakan tari-tarian Papua, serta aku mengakrabkan diri dengan iringan musik bernada tradisional Papua. Sungguh, mungkin di Indonesia, aku tidak akan pernah sedekat ini dengan budaya Indonesia. Ironi yang terjadi padaku dan mungkin juga terjadi pada orang Indonesia lainnya. Mungkin.

Saat memerankan tokoh pangeran dari tanah Papua

            Demikianlah cerita dan pengalaman yang dapat kubagikan pada rekan-rekan pembaca sekalian. Sekali lagi, jangan pernah lupa bahwa kehidupan kita adalah susunan dari peluang-peluang. Sesekali kita melewatkan sebuah peluang, namun di lain kesempatan, kita mengambil peluang yang ada di hadapan kita. Jika ada kesempatan untuk dapat menjadi lebih baik lagi, mengapa tidak kita ambil? Jika ada kesempatan untuk dapat belajar lebih banyak lagi, mengapa tidak kita ambil? Jika ada kesempatan untuk pergi dari tempat terang-benderang dan menjadi cahaya kecil di tempat-tempat gelap, mengapa tidak kita ambil? Namun di atas itu semua, tetaplah berdoa agar Tuhan sendiri yang menuntun langkah kita senantiasa.

^_^




[1] Bahasa Jawa sehari-hari, kurang lebih berarti, ‘Kamu setelah makan, ingin tidur atau berjalan-jalan?’
[2] Berdasarkan data dari indonesiamengglobal.com dan roc-taiwan.org (angka kisaran pada tahun 2010).
[3] Berdasarkan data dari edukasi.kompas.com, kompasiana.com, dan jpnn.com (angka kisaran pada tahun 2011).

Friday, August 26, 2016

Mental Bungkusan

... Apakah daya upaya kita dikobarkan pada saat-saat tertentu hanya untuk dibungkus lagi pada saat-saat lainnya? Apakah kebaikan kita diungkapkan pada saat-saat tertentu hanya untuk dibungkus lagi pada saat-saat lainnya?...

O_O

     Sebuah batang besi tertancap tegak di atas tanah. Batang besi itu sangat tinggi dan dicat berwarna putih. Namun putihnya sudah terlihat kusam, berkarat di beberapa bagian. Bagaimana tidak? Batang besi itu telah lama berada di sana, setua bangunan yang mengelilingi lapangan tempat batang besi tersebut berada. Jelas usianya lebih tua daripada semua orang yang mengelilingi batang besi tersebut. Ya, orang-orang mengelilingi batang besi tersebut pada suatu jarak tertentu, dan sedang menghadap batang besi tersebut. Orang-orang itu berpakaian putih dan berbaris rapi. 

     Mereka semua tampak serius, khususnya orang-orang yang berbaris di bagian depan. Sementara itu, orang-orang di barisan belakang terlihat lebih santai. Ada yang mengantuk, ada yang menolah-noleh, ada yang sedang menggaruk-garuk, dan ada juga yang sedang meregangkan badan karena pegal berdiri. Mereka yang di belakang dapat melakukan hal-hal itu karena mereka sedikit tersembunyi oleh rekan-rekan mereka yang berdiri di depan. Ya, mungkin sudah ada beberapa di antara kalian yang tahu apakah kejadian yang sedang terlihat ini, serta batang besi apa yang tadi kusinggung-singgung di awal cerita. Ini adalah pemandangan kegiatan upacara bendera yang dilaksanakan di lapangan sebuah sekolah, dan para peserta upacara bendera ini sedang menghadap sebuah tiang bendera di mana sebentuk bendera berkibar gagah di atasnya.

Sementara itu, orang-orang di barisan belakang terlihat lebih santai.

     Setelah upacara usai, bendera di atas tiang itu menjadi saksi dari berbagai aktivitas seru di bawahnya. Pada hari itu, seusai upacara bendera, para siswa dan guru tidak melakukan kegiatan belajar-mengajar seperti biasa. Akan tetapi, mereka mengadakan banyak perlombaan di lapangan sekolah. Ada pertandingan sepak bola, ada pertandingan balap karung, ada pertandingan makan kerupuk, ada pertandingan panjat pinang, serta masih banyak pertandingan lainnya.

     Hampir semua pertandingan tersebut berlangsung dengan sangat seru dan menegangkan. Banyak siswa yang menonton terlihat sangat bersemangat dan berteriak-teriak memberi dukungan pada teman-teman mereka yang sedang bertanding. Sementara itu, siswa yang bertanding terlihat bertanding dengan mengerahkan segala kemampuan dan kekuatan mereka untuk mengalahkan lawannya. Suasana yang terlihat di sini terasa menggembirakan dan menghangatkan hati. Bayangkan saja keadaan yang sedang terjadi. Para siswa terlihat bersemangat semuanya, para siswa terlihat ceria semuanya, para siswa terlihat berusaha sekuat tenaga mereka semuanya, dan para siswa terlihat sportif semuanya.

Suasana yang terlihat di sini terasa menggembirakan dan menghangatkan hati.

     Akan tetapi, layaknya bendera di atas tiang yang sekarang sedang berkibar gagah namun nanti akan dilipat dan disimpan dalam lemari yang gelap, keadaan di sekolah itu terlihat serupa. Setelah pertandingan usai, keesokan harinya, kegiatan belajar-mengajar berlangsung bagaikan telah melupakan semangat yang terlihat di hari sebelumnya. Para siswa datang terlambat, para siswa bermalas-malasan di kelas, para siswa menyontek, dan para siswa saling menghina satu sama lain tanpa mengenal batas sopan santun. Ya, semangat mereka sudah selesai dikibarkan. Dan sekarang, semangat mereka sudah kembali dilipat dan disimpan rapi. Dasar, para pemilik mental bungkusan.

-------ooo-------

     Malam itu adalah hari yang meriah dan cerah. Bintang dan bulan bersinar indah menghiasi langit. Orang-orang terlihat sibuk dengan senyum mereka yang mewarnai wajah. Hari itu bertepatan dengan salah satu hari raya keagamaan, dan itulah sebabnya semua orang merayakannya dengan gembira. Dan sebagai tanda berlangsungnya hari raya keagamaan tersebut, sebuah pohon dengan bentuk dan hiasan yang khas dipajang oleh hampir setiap orang yang merayakan hari raya itu. Sebuah pohon yang indah dan berwarna-warni, sebuah pohon yang terang-benderang oleh lampu-lampu kecil mungil, yang mengingatkan bahwa hari raya tersebut bertujuan untuk memperingati Dia yang bagaikan cahaya penerang di dalam kegelapan.

Bintang dan bulan bersinar indah menghiasi langit.

     Orang-orang terlihat berkendara santai menuju ke beberapa tempat. Orang-orang terlihat berkendara menuju ke tempat ibadah untuk kemudian memperingati hari raya tersebut dengan khidmat, untuk mengenang makna aslinya di tengah hiruk pikuk perayaannya. Setelah itu, orang-orang terlihat berkendara menuju tempat kediaman saudara mereka untuk bertegur sapa dan bercengkerama satu sama lain. Terlihat nuansa persaudaraan yang begitu hangat. Suara tawa terdengar sayup-sayup dari rumah-rumah, semakin menambah nuansa akrab yang terapung di tengah udara malam.

     Di tempat lain, kesibukan lain terjadi. Beberapa keluarga terlihat merayakan hari raya ini dengan memberi hadiah-hadiah pada orang-orang yang memerlukan, pada mereka yang kurang beruntung di dunia ini. Beberapa keluarga membagi-bagikan nasi-nasi kotak pada para pengemis. Beberapa keluarga menyumbangkan sejumlah uang pada panti asuhan, panti jompo, maupun panti wreda. Sementara itu, beberapa keluarga terlihat memberikan bingkisan-bingkisan pada mereka yang tinggal tersisih di pinggiran kota besar, mereka yang bahkan tetap hidup susah walaupun telah bekerja membanting tulang di bawah terik matahari tanpa mengenal waktu.

Di tempat lain, kesibukan lain terjadi.

     Akan tetapi, layaknya pohon khas yang dipajang oleh orang-orang yang merayakan hari raya tersebut, yang nantinya akan disimpan dan dibungkus kembali setelah hari raya itu usai, keadaan orang-orang yang merayakannya terlihat serupa. Setelah hari raya usai, hari-hari berikutnya berlangsung hampir tanpa jejak akan pernah berlangsungnya hari raya tersebut. Orang-orang terlihat lebih sering muram dan murung daripada menebar senyum. Orang-orang bertengkar dengan anggota keluarga mereka, bahkan karena hal kecil sekali pun. Orang-orang tidak lagi mau memberi, namun dengan rakusnya menerima, meminta, bahkan mencuri. Ya, kasih mereka sudah selesai diungkapkan. Dan sekarang kasih mereka sudah disimpan dan dibungkus dengan rapi. Dasar para pemilik mental bungkusan.

^_^

Monday, August 22, 2016

Harapan dari Pembukaan Pekan Raya Jakarta 2016

... pasti ada harapan untuk Jakarta, pasti ada harapan untuk Indonesia ...

O_O



Titik Awal
     Jumat sore, 10 Juni 2016, direktur regional perusahaan tempat saya bekerja memberikan kami undangan ke acara pembukaan Pekan Raya Jakarta 2016. Undangan menunjukkan angka ‘49’. Artinya, empat puluh sembilan kali acara tahunan itu telah diadakan, mulai dari tahun 1970-an. Waktu itu adalah masa-masa yang disebut sejarah sebagai Orde Lama, saat krisis finansial Asia mengguncang Indonesia. Saat itu, mungkin banyak orang yang bertanya, “Apakah ada harapan untuk Indonesia?” Dan saya yakin, walaupun sekian lamanya telah berlalu, walaupun kondisi Indonesia telah berubah, masih ada yang menanyakan hal serupa.

Di Perjalanan
     Saya dan rekan-rekan sekerja memutuskan untuk pergi. Saya dan beberapa orang mengendarai sepeda motor untuk menempuh perjalanan dari kantor kami di daerah Pondok Indah, menuju ke JIExpo Kemayoran. Jaraknya sekitar dua puluh kilometer menurut apa yang ditampilkan oleh aplikasi peta online yang saya akses dengan mudah melalui komputer di kantor. Sementara itu, yang lainnya memutuskan untuk memesan mobil dari aplikasi transportasi berbasis online. Praktis sekali.
     Saya melewati jalan Sultan Iskandar Muda dan jalan Teuku Nyak Arief. Sepanjang perjalanan, macet dan lancar bergantian menyambut. Saya kemudian memperhatikan jalur khusus di sebelah kanan saya. Jalur yang diperuntukkan bagi bus transjakarta koridor 8, yang menghubungkan Lebak Bulus dengan Harmoni. Saat saya memperhatikan jalur tersebut, ada yang terasa berbeda. Sekitar awal sampai pertengahan 2015, jalur koridor 8 ini masih sering diserobot oleh mobil dan sepeda motor. Namun sekarang, jalur itu telah terlihat hanya dilewati bus transjakarta, terlepas dari bagian underpass yang memang diperuntukkan bagi bus transjakarta dan kendaraan lainnya.
     Setelah itu, perjalanan saya berlanjut melewati jalan Lingkaran Putri Hijau dan jalan Tentara Pelajar. Saya pun melihat Stasiun Palmerah yang tampak modern dan rapi, sangat berbeda dengan keadaannya dahulu. Lalu saya mengingat stasiun kereta yang akrab dengan saya, yaitu Stasiun Pasar Minggu dan Tanjung Barat. Kondisi mereka sekarang pun, saya akui, jauh lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Sebentuk keyakinan terlintas dalam diri saya, setelah melihat aspek teknologi informasi yang kian memudahkan, kesadaran masyarakat akan peraturan, serta fasilitas transportasi yang terus diperbaiki. Ada harapan untuk Jakarta. Dan jika ini semua terjadi secara nasional, maka pasti, ada harapan untuk Indonesia.

Sampai Tujuan
     Saya dan rekan-rekan tiba di area panggung utama JIExpo Kemayoran pada malam hari. Rangkaian acara pembukaan ternyata menjadwalkan sesi untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Semua tamu undangan, dan tentunya saya, berdiri tegap dan menyanyikan lagu kebangsaan ciptaan Wage Rudolf Soepratman tersebut. Sesekali tatapan saya menangkap raut-raut di sekitar saat mereka menyanyi. Mereka yang tadinya sedang asyik mengobrol, sibuk memotret, dan membaca selebaran, semuanya terlihat serius dan khidmat saat menyanyi.
     Kemudian ada sesi di mana sambutan diberikan. Oleh Prajna Murdaya, selaku Direktur PT JIExpo; oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, selaku Gubernur DKI Jakarta; dan oleh Tjahjo Kumolo, selaku Menteri Dalam Negeri RI. Saya akan berfokus pada isi sambutan Basuki Tjahaja Purnama.
     Beliau dengan semangat menggambarkan cita-citanya akan keadaan Jakarta di masa depan. Berbagai macam fasilitas umum disebut oleh beliau: Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), Light Rail Transit (LRT) yang salah satunya rutenya langsung menuju ke area Pekan Raya Jakarta, toilet-toilet umum di sekitar Monas dengan sistem sewa eletronik, pelayanan kebersihan gratis, rusun dan apartemen, serta rumah sakit. Semuanya itu demi terpeliharanya kelangsungan hidup warga Jakarta.
     Semua ucapan beliau, yang saya harap dapat direalisasikan sesegera mungkin, menyemangati saya sebagai salah satu dari sepuluh juta warga Jakarta (angka tahun 2014 dari Bappeda Jakarta). Selain itu, semangat saya bertambah juga pada sesi doa bersama yang menampilkan lima pemuka, mewakili lima agama di Indonesia. Sebentuk keyakinan kembali melintas di kesadaran saya saat melihat aspek nasionalisme, jaminan akan kesejahteraan umum, serta toleransi antarumat beragama, yang semuanya dengan berani ditunjukkan dan dicita-citakan. Ada harapan untuk Jakarta. Dan jika ini semua terjadi secara nasional, maka pasti, ada harapan untuk Indonesia.

Sebagai Penutup
     Agama yang saya imani mengajarkan bahwa setiap bentuk pemerintahan berlangsung atas izin dari Tuhan yang Maha Esa. Maka saya diwajibkan untuk membantu dan selalu mendoakan yang terbaik untuk mereka. Membantu bukan hanya dalam hal bekerja sama, tapi juga ikut mengawasi kinerja secara sehat, dan berani menegur apa yang tidak benar secara tepat. Semuanya demi bersama-sama membangun Jakarta, membangun Indonesia. Saya percaya, pasti ada harapan untuk Jakarta, pasti ada harapan untuk Indonesia.

^_^

Thursday, August 18, 2016

Tidak Semua

... Selalu saja ada yang berbeda ...

O_O

     Hari itu, siang hari terasa sangat terik. Matahari kira-kira tepat berada di atas kepala. Bayangan tepat menggumpal di bawah setiap orang yang sedang beraktivitas, bagaikan tidak berani menghadapi cahaya yang menghujani setiap hal di kolong langit. Aku sedang berada di dalam sebuah mobil angkutan umum berwarna biru muda, di bangku penumpang yang berada di bagian belakang. Mobil itu terlihat renta. Lantainya, kursinya, jendelanya, dan atapnya, semua menyerukan hal yang sama, “Aku sudah tua…

     Namun di dalam tempat sempit nan tua tersebut, banyak hal yang terjadi dan tertangkap oleh kedua mataku. Aku dapat menyaksikan banyak hal karena aku kebetulan sedang duduk di kursi penumpang yang terjauh dari pintu penumpang bagian belakang. Mobil angkutan umum, pada umumnya, memiliki pintu penumpang belakang yang berada di sisi kiri, hampir bersisian dengan pintu penumpang depan yang berada di sisi yang sama. Masuk dari pintu penumpang belakang, biasanya kita harus menunduk karena atap mobil memang biasanya tidak terlalu tinggi. Lalu, biasanya kita akan disambut oleh sebuah bangku pendek yang diletakkan berdekatan dengan pintu penumpang belakang. Bangku itu sengaja diletakkan di sana untuk diduduki dua orang, walaupun tempat itu agak berbahaya karena bersisian dengan pintu penumpang belakang yang hampir selalu dibuka.

     Setelah berada di dalam bagian belakang mobil dan menghadap ke belakang, sepanjang kiri dan kanan akan terlihat kursi penumpang yang memanjang ke belakang. Di sisi kiri, kursinya lebih panjang daripada di sisi kanan, karena keberadaan pintu penumpang belakang di sisi kanan. Kursi di sisi kiri ditujukan untuk diduduki oleh enam orang sementara di sisi kanan ditujukan untuk diduduki oleh empat orang. Jadi, dengan ditambah dua penumpang di kursi penumpang depan, total penumpang yang dapat dibawa oleh mobil angkutan umum ini adalah empat belas orang! Hebat, bukan!

Hebat, bukan!

     Dan siang itu, angkutan umum ini sudah menampung jumlah penumpang maksimal, sehingga suasana bertambah sumpek dan gerah. Lalu, kembali ke gambaran yang aku ceritakan sebelumnya, aku duduk di kursi penunmpang belakang di sisi kiri yang terjauh dari pintu penumpang belakang, sehingga aku dapat mengamati banyak aktivitas di dalam mobil tersebut. Ada yang sedang bermain-main dengan telepon genggamnya, ada yang sedang melamun, ada yang sedang bersenandung, dan ada juga yang sedang mengupil dengan begitu asyiknya… Hahaha…

     Kemudian, pada suatu ketika, seorang pengamen bergerak mendekati pintu penumpang belakang dan berdiri di sana sambil menunduk ke bagian dalam mobil. Pengamen biasanya duduk di bangku pendek dekat pintu penumpang belakang. Akan tetapi, karena saat itu mobil sedang penuh, dia berdiri di ambang pintu penumpang belakang sambil memberikan salam khas pengamen, “Selamat siang, Bapak dan Ibu sekalian… Maaf mengganggu perjalanan Anda semuanya, tapi kami hanyalah berusaha bertahan hidup semata di ibu kota yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri ini… Semoga Anda berkenan memberi karena sedikit dari Anda tidak akan membuat Anda jatuh miskin, juga tidak membuat kami kaya raya… Lagu untuk Anda semua…” Dan begitulah pengamen itu mulai menyanyi sambil berdiri, bersandar pada sisi ambang pintu penumpang belakang sambil memainkan gitar kecilnya. Berbahaya memang bersandar di sana sambil mengamen sementara mobil angkutan umum ini melaju, tapi sepertinya pengamen itu telah terbiasa melakukannya.

     Dua tembang dinyanyikan oleh pengamen itu. Dia menyanyi di tengah hiruk pikuk siang hari, nada kelelahan bercampur dengan nada lagu yang dia dendangkan. Lalu tibalah saatnya si pengamen menarik bayaran dari para penumpang yang rela memberi. Terlihat beberapa orang merogoh saku mereka atau mengeluarkan dompet mereka untuk mengambil sejumlah uang. Aku tidak melakukan itu semua karena uangku tersimpan jauh di dalam tas, sementara uang di sakuku hanya cukup untuk membayar biaya perjalananku dengan angkutan umum ini.

Dua tembang dinyanyikan oleh pengamen itu.

     Dan sebuah hal menarik terjadi dengan cepat, namun meninggalkan bekas di dalam hatiku. Seorang penumpang kulihat tengah kebingungan dan dengan cepat merogoh sakunya untuk memberi pada si pengamen. Si penumpang terlihat sibuk dan hanya menemukan beberapa keping uang logam di sakunya. Dia lalu memberi sambil tersenyum dan mengangguk memberi hormat pada si pengamen. Tapi tanggapan si pengamen sungguh tidak kuduga. Si pengamen, dengan ekspresi wajah merendahkan, tiba-tiba membuang uang logam tersebut dan segera pergi sambil terdengar mengeluh pada si penumpang. Tidak semua orang miskin itu rendah hati ya, ada saja orang miskin yang sombong…

-------ooo-------

     Malam hari itu, aku sedang berangkat menuju ke suatu tempat karena ada janji dengan rekan-rekan masa laluku. Rekan-rekan ini adalah teman-teman yang kukenal saat dahulu bersekolah. Sudah lama sekali masa-masa sekolah itu berlalu dan sekarang kami semua telah bekerja. Kami semua telah memiliki kesibukan masing-masing dan tanggung jawab masing-masing di tempat masing-masing. Lebih sulit rasanya untuk berkumpul pada masa-masa ini daripada pada masa bersekolah dulu. Tidak heran jika banyak orang tua menasihati agar kita melakukan banyak hal, sebanyak-banyaknya, saat kita muda. Contohya, mengikuti banyak kegiatan organisasi, ikut serta dalam aktivitas keagamaan, bewisata ke banyak tempat, menjadi panitia untuk mengadakan acara-acara tertentu, dan masih banyak lagi. Sebab saat kita muda, pada umumnya kita jarang memiliki kesibukan dan tanggung jawab akan keluarga dan kelangsungan hidup kita. Dan pada saat kita dewasa, saat kita telah memiliki kesibukan dan tanggung jawab akan keluarga, saat itulah hampir semua waktu dan tenaga kita harus digunakan untuk melindungi dan melayani keluarga.

Lebih sulit rasanya untuk berkumpul pada masa-masa ini daripada pada masa bersekolah dulu.

     Pikiran dan perasaanku begitu bersemangat saat itu, karena orang-orang yang akan kutemui adalah teman-teman dekatku, dan juga karena kami telah lama tidak bersua dan bercengkerama. Aku mengingat banyak waktuku bersama mereka pada masa-masa sekolah. Kami berjalan-jalan ke berbagai tempat, kami membicarakan berbagai hal, kami menertawakan berbagai lelucon, kami saling mendengarkan curahan hati, serta kami saling menasihati. Tapi tidak hanya hal-hal baik dan indah yang melulu mewarnai persahabatan kami. Kami pernah juga marah besar, kami pernah juga bertengkar hebat, serta kami pernah juga menangis karena kesedihan yang tiada taranya. Namun, dengan semua kenangan akan hal baik dan tidak mengenakkan tersebut, kami teruji sebagai sahabat sejati, kami teruji sebagai sahabat setia, kami teruji sebagai sahabat baik.

     Tidak kusadari perjalananku malam itu telah hampir menemui garis akhir. Aku mengendarai sepeda motor kesayanganku yang berwarna hitam sambil mencari jalan di tengah belasan, bahkan mungkin puluhan, kendaraan bermotor lainnya yang memenuhi jalan. Aku dan teman-temanku setuju untuk bertemu muka di sebuah mal yang cukup besar di tengah ibu kota. Sebuah mal megah yang pasti diakui kemewahannya oleh hampir semua orang di ibu kota. Sebuah mal yang dipenuhi orang-orang dengan gaya prestisius. Sebuah mal yang dipenuhi nuansa luks.

     Ada sesuatu yang cukup unik menyangkut hal ini. Pernahkah kalian menuju ke suatu tempat dan merasakan nuansa sederhana? Pernahkah kalian menuju ke suatu tempat dan merasakan nuansa mewah? Pernahkah kalian menuju ke suatu tempat dan merasakan nuansa ngeri? Ya! Ternyata pancaindra dapat mempengaruhi emosi dan penilaian manusia. Ternyata perancang tempat-tempat tersebut telah memanfaatkan berbagai hal untuk mempengaruhi penilaian manusia akan tempat-tempat yang mereka desain. Dan pastinya, perancang tempat-tempat tersebut akan berusaha agar para manusia betah berada di sana, dengan memanfaatkan berbagai cara. Mulai dari pengaturan pencahayaan dan pemandangan, permainan musik dan suara, pelayanan orang-orang dan penempatan ruang-ruang, penjagaan suhu dan sirkulasi udara, sampai dengan pemberian aroma-aroma yang harum dan menyenangkan. Pikirkanlah tempat-tempat yang membekas di kenangan kalian karena kalian sekadar suka pada tempat tersebut, lalu pikirkanlah apa saja yang ada di sana. Pasti ada sesuatu yang menarik dirimu di sana! Pasti ada sesuatu yang menyenangkan pancaindramu di sana! Apapun itu…

Ya! Ternyata pancaindra dapat mempengaruhi emosi dan penilaian manusia.

     Lalu… Tibalah aku di sebuah tikungan yang akan membawaku menuju ke tempat parkir mal tersebut. Tikungan itu ternyata dipenuhi begitu banyak mobil yang kurasa ingin memasuki mal. Aku pun merayap pelan-pelan dengan hati-hati di sela mobil-mobil itu, memanfaatkan tipisnya sepeda motor yang kukendarai. Aku secara sopan menyalakan lampu sein dan mengangguk pada orang-orang di dalam mobil yang sedang bermacet-macet di tikungan tersebut. Ya… Lampu sein sebenarnya masih masuk akal sih, walaupun sebenarnya tidak perlu, karena tikungan yang kulakukan bukanlah tikungan yang menghalangi laju kendaraan di belakang maupun di depanku. Akan tetapi buat apa sih aku memberi anggukan? Betul… Betul… Sebenarnya tidak perlu… Tapi aku menyadari, saat aku berkendara juga, bahwa tidak ada orang yang senang didahului atau disalip, baik saat sedang melaju maupun menunggu. Buktinya, berapa kali dirimu justru menambah kecepatan saat melihat kendaraan lain menyalakan sein untuk berpindah ke depanmu? Berapa kali dirimu merapatkan bagian depan kendaraanmu dengan bagian belakang kendaraan lain agar tidak ada yang dapat berpindah ke depanmu? Berapa kali dirimu membunyikan klakson untuk menghentikan kendaraan yang kaulihat ingin keluar dari persimpangan jalan ke depanmu? Mungkin saja ini adalah efek samping ego manusia yang mendapat celah untuk dipuaskan ketika berkendara. Tapi… Ya, pikirkanlah sendiri apakah egomu yang seharusnya mengendalikan dirimu saat berkendara atau dirimu yang seharusnya mengendalikan egomu itu…

     Daaan… Sesuai dengan apa yang telah kuceritakan dan kujelaskan tadi. Aku saat itu terpaksa harus menjadi saksi dan korban dari banyak mobil mewah yang sepertinya telah habis kesabarannya oleh kemacetan yang mereka hadapi, entah sejak kapan mereka bermacet-macetan. Benar-benar tidak enak loh, menjadi sasaran mobil-mobil mewah yang lebih dikendalikan oleh ego daripada oleh sopan santun. Aku terpaksa bersabar saat sebuah mobil mewah membunyikan klakson dengan keras dan panjang, yang memekakkan telingaku, saat aku pelan-pelan melintas di depannya yang sedang berhenti. Aku terpaksa ikut berhenti dan menunggu lama saat sebuah mobil mewah menutupi lajur kecil yang dapat kulewati dengan mudah jika seandainya dia tidak menutupinya dengan mobilnya yang lebar. Aku terpaksa mengerem mendadak beberapa kali saat beberapa mobil mewah secara tiba-tiba mengegas kencang lalu mengerem keras, bahkan beberapa di antaranya memotong lajuku saat mengegas. Hmmm… Harus sabar… Harus sabar… Tidak semua orang kaya itu sopan dan berbudaya ya, ada saja orang kaya yang kelihatan tidak berpendidikan…

Hmmm… Harus sabar… Harus sabar…

-------ooo-------

     Lalu yang manakah diri kita?

^_^

Wednesday, August 3, 2016

Sisa Kebaikan

... apakah sudah tidak tersisa sedikit pun kebaikan, di sekitarku maupun di luar sana? ...

O_O

     Sore hari itu aku merasa sangat tidak bersemangat. Sangat tidak bersemangat. Sore hari yang begitu padat dan bising di tengah perjalananku menuju rumah, terabaikan begitu saja. Pikiran dan perasaanku merasa sepi di keramaian yang hiruk pikuk itu. Aku merasa sendirian di kemacetan yang parah itu. Suara klakson dan deru mesin sambung-menyambung melayang di udara panas yang teramat sumpek. Kemudian, perasaan dan pikiranku mulai membawa pengaruh bagi tindakan fisikku, tubuhku. Gerak-gerik tubuhku mulai terbawa oleh arus emosi yang telah menumpuk tertahan, dan hampir meluap. Aku mulai membunyikan klakson panjang-panjang dan sering. Aku mulai mengebut melewati celah-celah sempit di antara kendaraan tanpa berpikir panjang. Aku mulai berteriak-teriak dan memaki pada pengendara yang ceroboh dan salah.

     Lihat… Itulah mengapa kita harus berwaspada pada apa yang sedang kita pikirkan dan rasakan. Itulah mengapa pengendalian diri itu penting. Perasaan dan pikiran kita, disadari atau tidak, akan mendapatkan kesempatan untuk muncul ke dunia nyata lewat perkataan dan perbuatan kita. Dan sebisa mungkin, sebelum mereka semua keluar tanpa batas dan tanpa terkontrol, harus ada penyaring yang namanya pengendalian diri. Sebaik apa pengendalian diri kita dapat dilihat dari apa yang keluar sebagai perkataan dan tindakan kita pada saat pikiran dan perasaan negatif sedang memenuhi relung jiwa, sedang mendesak keluar dari dalam raga. Sekuat apa pengendalian diri kita dapat dilihat dari apa yang orang lain amati dan perhatikan pada saat kesedihan, kemarahan, dan kekecewaan, sedang mengancam kita, sedang menantang kita.

Itulah mengapa kita harus berwaspada pada apa yang sedang kita pikirkan dan rasakan. Itulah mengapa pengendalian diri itu penting.

     Dan aku akui… Aku sedang kalah saat itu… Pengendalian diriku kalah setelah emosiku diserang bertubi-tubi oleh banyak orang dan masalah. Sehingga akibatnya, seperti yang kuceritakan di awal, aku terasa dan terlihat bukanlah sebagai diriku yang biasanya. Aku terasa dan terlihat bukanlah sebagai orang yang kukenal dan kuketahui. Atau apakah justru inilah diriku yang biasanya, diriku yang seharusnya kukenal dan kuketahui? Orang-orang di luar sana mengatakan bahwa saat kita sedang berada dalam tekanan, sifat asli kitalah yang akan muncul, wajah asli kitalah yang akan terungkap di bawah apapun topeng peran dan ekspresi yang sedang kita kenakan dan perankan. Jadi mungkinkah ini sifatku yang asli? Wajahku yang asli? Kurasa tidak juga... Saat kita berada di bawah tekanan yang amat sangat, saat kita tertekan dan menunjukkan amarah, itu pun adalah topeng yang saat itu kita putuskan untuk kenakan, sebentuk topeng kemarahan…

     Lalu, jika semua itu adalah topeng, yang manakah yang namanya sifat asli kita? Menurutku, secara pribadi, sifat asli kita adalah kumpulan topeng yang kita sering dan suka kenakan pada saat-saatnya masing-masing. Itulah warna diri kita, semua topeng tersebut. Karena tanpa topeng-topeng itu, berarti tidak ada emosi, dan tidak ada manusia normal tanpa emosi. Dan salah satu inti penting yang harus kita ketahui adalah, kita semua unik dalam memilih topeng seperti apa yang ingin kita kenakan dan kapan mengenakan topeng tersebut… Secara khusus, jika kita membicarakan tentang topeng kemarahan, setiap kita pasti berbeda-beda dalam memilih topeng kemarahan apa yang ingin kita kenakan dan kapan kita mengenakannya. Dengan kata lain, bentuk kemarahan dan batas kesabaran kita pasti berbeda-beda. Itulah yang aku mengerti tentang masalah sifat asli manusia. Sederhana saja, bukan? Jadi sampai di mana kisahku tadi?

Lalu, jika semua itu adalah topeng, yang manakah yang namanya sifat asli kita?

     Oiya, di jalan yang bising, sumpek, panas, macet, padat, pada suatu sore hari yang pemandangan langit di atasnya tidak kuacuhkan, karena tekanan demi tekanan yang mengeroyok diriku. Aku rasanya ingin berteriak sekeras-kerasnya saat itu. Tapi kutahan karena aku tidak ingin menarik perhatian orang banyak yang mungkin akan memasukkan diriku ke rumah sakit jiwa. Lalu, tibalah aku di sebuah jalan sempit di mana begitu banyak mobil mengantre dan banyak sepeda motor berusaha menyelip di pinggir jalan. Aku yang juga sedang mengemudikan sepeda motor ikut mengantre dan merayap di pinggir jalan sempit tersebut. Kemudian, secara tiba-tiba, sebuah sepeda motor melakukan aksi yang sangat menyebalkan.

     Sebuah sepeda motor, saat itu secara tiba-tiba mengebut dan mengambil jalur trotoar di sisi kiriku. Dia kemudian terlihat maju ke depanku karena dia ingin menyalip diriku dan kembali dari jalur trotoar ke jalan. Dia, tanpa melihat dekatnya jarak diriku dengan sepeda motor di depanku, secara langsung berpindah dari jalur trotoar ke jalan, tepat di depanku. Akibatnya, bagian belakang sepeda motornya mengenai bagian depan sepeda motorku. Dia kemudian berkendara begitu saja dengan santai, layaknya tidak terjadi apa-apa. Bahkan, klakson yang aku bunyikan terlihat tidak dipedulikannya. Di sini, aku bertambah marah…

     Mengapa kukatakan ‘bertambah marah’? Karena, aku telah mengalami banyak hal buruk sebelum ini. Pertama, di rumah, aku sedang ada masalah dengan orang tuaku dan keluarga orang tuaku. Ini karena aku memutuskan untuk memesan sebuah restoran untuk perayaan hari ulang tahun ayahku. Dalam memutuskan, aku berusaha tidak memberatkan orang tuaku dan telah mempertimbangkan banyak hal. Namun ternyata, kerabat dari ayahku, tanpa tahu apa-apa, langsung mencela dan menyindir pilihanku dengan pedas. Aku telah berusaha menjelaskan pada mereka dengan sopan, tapi kerabat dari ayahku itu tidak mau mendengarkan dan terus saja berkomentar semaunya sendiri. Aku tidak dapat melawan, aku tidak dapat membalas, aku hanya dapat menerima, aku hanya dapat mengikhlaskan. Ya, kuharap kita sama-sama tidak menjadi seseorang yang suka seenaknya sendiri dan tidak mau mengerti orang lain. Sungguh sangat menyedihkan, mengecewakan, dan menyakitkan loh, berhadapan dengan orang seperti itu. Percayalah…

Percayalah…

     Lalu, kedua. Aku sedang bertengkar dengan teman-teman dekatku. Ya, memang sih, setiap hubungan persahabatan pasti memiliki masalah masing-masing dan pasti bertengkar. Akan tetapi, pertengkaran ini menjadi sesuatu yang berbeda karena, pertengkaran ini terjadi di masa-masa beratku dan karena pertengkaran ini disebabkan oleh sesuatu yang sama dengan kisahku sebelumnya bersama kerabat ayahku. Ada satu kesalahpahaman antara diriku dan para temanku itu, tapi setiap penjelasan dan masukanku untuk mereka tidak didengarkan. Mereka justru terus berpegang pada keyakinan mereka sendiri dan membalas setiap kata-kataku dengan tajam. Tidak kusangka, aku harus mengalami hal ini, dua kali, dengan orang-orang yang terdekat denganku. Aku sedih, aku kecewa, dan aku marah karena ini semua. Sangat marah… Amat sangat marah sekali…

     Aku bingung karena keadaan ini semua. Aku disakiti oleh orang-orang terdekatku. Aku juga diperlakukan seenaknya saja oleh orang-orang yang tidak kukenal. Tapi aku tidak boleh membalas mereka, aku tidak boleh menjahati mereka, aku tidak boleh mendendam pada mereka. Itulah yang kuingat dari pesan Tuhan yang sering diajarkan berulang-ulang padaku. Tapi jika demikian, apa yang bisa aku lakukan? Apa aku harus menahan rasa sakit terus-menerus? Apa aku harus layaknya orang bodoh yang hanya bisa menerima keadaannya begitu saja? Semua kejadian ini membuatku berpikir, apakah sudah tidak tersisa sedikit pun kebaikan, di sekitarku maupun di luar sana?

     Aku tiba di akhir ruas jalan sempit itu setelah beberapa saat lamanya merayap dengan sepeda motorku di sana. Aku kemudian memasuki ruas jalan yang lebih besar, sebelum akhirnya kembali memasuki ruas jalan yang sempit. Di ruas jalan ini, aku melihat sesuatu memberikan warna lain dalam hatiku. Aku melihat pemilik sebuah warung sedang memberikan dua bungkus makanan pada seorang pengemis dan anak yang dibawanya serta. Tidak seberapa jauh, aku melihat seorang tukang parkir menyeberangkan seorang buta. Dan di akhir jalan itu, aku melihat banyak orang sedang bahu-membahu membantu seseorang yang tengah terjatuh dari sepeda motornya di jalan. Semua pemandangan ini memberi warna lain pada hatiku. Warna harapan…

Warna harapan…

     Mungkinkah setiap emosi yang kita miliki dianugerahkan Tuhan karena Dia ingin kita tahu apa yang Dia mau dari setiap kita? Mungkinkah Tuhan memberikan pada kita rasa marah saat kita melihat sesuatu yang buruk karena Tuhan ingin kita tahu bahwa Ia pun marah saat melihat kita melakukan sesuatu yang buruk? Mungkinkah Tuhan memberikan pada kita rasa sedih saat kita melihat sesuatu yang buruk karena Tuhan ingin kita tahu bahwa Ia pun sedih saat melihat kita melakukan sesuatu yang buruk? Mungkinkah Tuhan memberikan pada kita rasa kecewa saat kita melihat sesuatu yang buruk karena Tuhan ingin kita tahu bahwa Ia pun kecewa saat melihat kita melakukan sesuatu yang buruk?

     Mungkinkah Tuhan memberikan pada kita rasa bahagia saat kita melihat sesuatu yang baik karena Tuhan ingin kita tahu bahwa Ia pun bahagia saat kita melakukan sesuatu yang baik? Mungkinkah Tuhan memberikan pada kita rasa bangga saat kita melihat sesuatu yang baik karena Tuhan ingin kita tahu bahwa Ia pun bangga saat kita melakukan sesuatu yang baik? Mungkin saja… Baiklah, walaupun berat, walaupun sulit, walaupun penuh tantangan, aku akan terus berharap dan percaya pada Tuhan dan kasih-Nya… Berharap bahwa masih banyak sisa kebaikan dianugerahkan-Nya di dunia ini, berharap bahwa masih banyak sisa kebaikan bertebaran di seluruh penjuru dunia…

^_^