Translate

Friday, January 6, 2017

Pedang Raja : (8) Kisah Perjuangan Sang Buaya

... Malu karena berbeda dan disalahpahami adalah beberapa penyebab utama hilangnya pribadi-pribadi unik dan berharga di dunia, yang sebenarnya dapat menciptakan perubahan-perubahan yang baik dan nyata. ...

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (7) Kisah Pemanah yang Setia

… aku adalah seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun …

     Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga yang unik. Kukatakan unik karena memang perpaduan sifatnya yang kurasa tiada duanya. Ibuku itu dapat menjadi orang yang paling lemah lembut di rumah sekaligus paling mengerikan di rumah. Ibuku itu dapat menjadi orang yang paling serbabisa di rumah sekaligus paling kebingungan di rumah. Ibuku itu juga dapat menjadi seorang yang paling penuh pengertian di rumah sekaligus paling tidak berperasaan di rumah. Semua sangat tergantung dari suasana hatinya dan suasana di rumah. Mungkin memang perempuan seperti itu ya… Hidup dan kesehariannya sangat dipengaruhi oleh perasaannya dan keadaan di sekitarnya.

     Ya misalnya saja, pada suatu hari Ibu pernah kulihat menghibur dan memeluk Ayah saat Ayah sedang kebingungan, entah tentang uang atau utang. Namun pada hari yang lain, aku pernah melihat Ibu memarahi Ayah tanpa ampun saat mereka membicarakan tentang hal yang sama. Selain itu, pada suatu hari, aku pernah melihat Ibu mengerjakan banyak hal di rumah dengan cepat dan gesit sekali. Namun pada hari yang lain, aku juga pernah melihat Ibu kebingungan saat melihat keadaan di rumah, lalu memutuskan untuk tidur saja. Contoh lainnya lagi, pada suatu hari, aku pernah menyaksikan sendiri bagaimana Ibu meminta tolong padaku dan Ayah untuk melakukan ini itu, untuk memperbaiki beberapa bagian atap yang terlihat bocor di rumah. Namun pada hari yang lain, aku pernah melihat Ibu bertanya pada Ayah dengan panik tentang apa yang harus dilakukannya saat hari hujan dan melihat air hujan sedang menetes dari atap yang bocor di rumah. Apa yang ada di pikiran dan perasaan Ibu sepertinya akan senantiasa menjadi misteri bagiku, tapi aku percaya sesuatu terlepas dari apa yang setiap hari kulihat dari Ibu. Aku selalu percaya dan dapat merasakan bahwa Ibu sangat mengasihi aku dan Ayah. Jadi tenang saja, Bu, aku pasti akan senantiasa menyayangi Ibu dan juga Ayah.

     Jika bercerita tentang ibuku, salah satu hal yang aku sukai adalah dia gemar bercerita padaku tentang banyak kisah. Kisah-kisah yang diceritakan oleh Ibu, kebanyakan adalah tentang fabel dan dongeng dari negeri antah-berantah, yang merupakan khayalan semata. Biasanya Ibu menceritakan kisah-kisah tersebut saat sedang menasihatiku, saat kami sedang menikmati waktu luang, dan saat sebelum aku tidur pada malam hari.

Kisah-kisah yang diceritakan oleh Ibu, kebanyakan adalah tentang fabel dan dongeng dari negeri antah-berantah, yang merupakan khayalan semata.

     Di antara banyak kisah yang Ibu ceritakan, ada sebuah kisah yang sangat menarik bagiku. Bukan karena kisah tersebut adalah kisah terbaik di dunia atau kisah dengan akhir yang menakjubkan, tapi karena ada sesuatu yang mengusik perasaanku saat aku mendengar kisah tersebut. Aku merasa bahwa aku mengenal kisah tersebut dan aku pernah mendengar kisah itu sebelumnya di masa lalu. Akan tetapi, sekeras apapun aku berusaha mengingat, aku tidak pernah berhasil mengingat kapan aku pernah mendengar kisah tersebut. Kisah itu terasa sangat tidak asing dan akrab di telingaku. Tapi ya mungkin itu hanya perasaanku saja.

     Kisah ini adalah kisah tentang perjuangan seekor buaya, yang berusaha menunjukkan pada teman-temannya di hutan bahwa dirinya tidak berbahaya walaupun seluruh dunia menganggap semua buaya itu berbahaya. Ibu berkata bahwa kisah ini adalah fabel dari masa lalu dan sudah berusia sangat tua. Beginilah kisah itu …

     Para buaya merupakan salah satu kelompok hewan yang paling ditakuti dan disegani oleh para hewan lainnya di hutan. Alasannya tentu saja dapat ditebak karena kekuatan dan kebuasan para buaya di dalam air, serta juga karena cara mereka mengintai dan berburu dari dalam ketenangan air sungai secara tak tertebak. Para buaya ini menempati daerah rawa-rawa besar yang berada di salah satu sisi hutan, dekat dengan sungai tempat para hewan lain mencari air minum. Hal ini menyebabkan hewan-hewan lainnya di hutan menjadi waspada dan berhati-hati saat mereka minum dari tepi sungai tersebut. Selain itu, hal ini juga menyebabkan hewan-hewan lainnya di hutan menghindari masalah berbentuk apapun dengan para buaya. Telah bertahun-tahun lamanya para buaya ini menikmati keadaan mereka yang seakan-akan menjadi raja di sungai tersebut, tanpa ada yang mengganggu dan mengusik keberadaan mereka. 

Para buaya merupakan salah satu kelompok hewan yang paling ditakuti dan disegani oleh para hewan lainnya di hutan.

     Di antara para buaya tersebut, ada seekor buaya muda yang berbeda dari buaya-buaya lainnya. Buaya muda ini tidak suka dan tidak mau menyakiti hewan-hewan hutan lainnya. Sehingga sehari-hari, buaya ini lebih memilih untuk berburu ikan-ikan di dalam sungai daripada berburu hewan-hewan yang sedang minum di tepi sungai.

     Keadaan ini berlangsung lama tanpa diketahui oleh ayah dan ibu si buaya muda. Si buaya muda pun menyadari bahwa kebiasaannya akan menimbulkan perdebatannya di kalangan para buaya, sehingga si buaya muda menyembunyikan kebiasaannya ini. Namun sayangnya, sepandai-pandainya bangkai disembunyikan, pasti lama-kelamaan baunya akan tercium juga, dan hal inilah yang terjadi pada si buaya muda.

     Si buaya muda, suatu hari melihat anak seekor rusa yang sedang minum di tepi sungai tempat dia berada. Tanpa sengaja, anak rusa itu terjatuh ke dalam sungai tanpa disadari oleh rombongan rusa. Si buaya muda merasa kasihan pada si anak rusa dan menolongnya. Si buaya muda berusaha mendorong si anak rusa dengan moncongnya ke tepi sungai. Namun sayang sekali, rombongan rusa yang baru belakangan memperhatikan si anak rusa yang tenggelam menyalahpahami pemandangan yang mereka lihat. Rombongan rusa mengira bahwa si buaya muda akan memakan si anak rusa. Akibatnya, saat si buaya muda tiba di tepi sungai, rombongan rusa berusaha menyelamatkan si anak rusa dan menginjak-injak si buaya muda. Si buaya muda merasa kesakitan dan sedih, namun dia tidak mendapat kesempatan untuk menjelaskan apapun, sehingga dia hanya dapat berenang menjauh.

Tanpa sengaja, anak rusa itu terjatuh ke dalam sungai tanpa disadari oleh rombongan rusa.

     Layaknya nasib seseorang yang sudah jatuh tertimpa tangga, si buaya muda ternyata harus menghadapi kemarahan dari orang tuanya yang tidak sengaja melihat perbuatan si buaya muda. Si buaya muda kemudian berdebat dengan kedua orang tuanya, saling memberikan alasan dan pendapat masing-masing. Ayah dan ibu si buaya muda, yang akhirnya lewat perdebatan ini mengetahui bahwa si buaya muda telah lama bertindak tidak seperti buaya pada umumnya, berkata bahwa sikap si buaya muda dapat mengikis dan menghilangkan rasa hormat yang diberikan oleh para hewan lainnya kepada para buaya. Sementara si buaya muda berkata bahwa dia hanya merasa kasihan pada anak rusa tersebut dan tidak tega memakan hewan-hewan hutan lainnya kecuali ikan-ikan.

     Si buaya muda tetap bertahan pada sikap awalnya, sehingga semakin hari hubungannya semakin renggang dengan kedua orang tuanya dan buaya lainnya. Ya, buaya lainnya akhirnya juga mengetahui bahwa si buaya muda ini berbeda dengan mereka. Namun demikian, orang tua si buaya muda tidak pernah lupa bahwa mereka adalah orang tua dari si buaya muda. Setiap kali buaya lain mengancam atau menyakiti si buaya muda karena perbedaan dirinya, ayah dan ibu si buaya muda selalu berusaha melindungi anak mereka ini. Memang benar jika dikatakan bahwa ayah, ibu, dan anak adalah hubungan yang sangat amat kuat dan tidak akan pernah seutuhnya berakhir. Tapi tetap saja hampir setiap hari, selalu ada perbincangan di antara si buaya muda dan kedua orang tuanya tentang sikap si buaya muda ini. Orang tua si buaya muda masih berharap agar anak mereka dapat bersikap seperti buaya pada umumnya, sementara si buaya muda terus bertahan pada sikap awalnya.

     Hari demi hari berlalu, beberapa kejadian yang serupa dengan peristiwa yang dulu terjadi antara si buaya muda dengan si anak rusa, kembali terjadi. Ya, si buaya muda kadang melihat anak hewan lainnya yang tenggelam di sungai saat mereka sedang minum, lalu si buaya muda menolong mereka, kemudian si buaya muda disalahpahami dan diserang oleh rombongan hewan tempat asal anak hewan yang tenggelam tersebut. Hal ini terjadi berulang kali dengan rombongan banteng, rombongan zebra, rombongan zarafah, dan rombongan kuda.

Hal ini terjadi berulang kali dengan rombongan banteng, rombongan zebra, rombongan zarafah, dan rombongan kuda.

     Sampai pada suatu hari, rombongan gajah yang tiba di tepi sungai dan sedang minum. Dan kembali, kejadian yang sama berulang kembali. Seekor anak gajah tenggelam saat dia sedang asyik minum. Si buaya muda, yang melihat pemandangan itu, merasa harus menolong si anak gajah. Akan tetapi sesuatu menghentikannya. Si buaya muda berpikir bahwa diinjak-injak oleh rusa, kuda, zarafah, zebra, maupun banteng, bukanlah masalah yang menyangkut hidup dan mati. Akan tetapi diinjak-injak oleh gajah adalah sesuatu yang lain. Orang tua si buaya muda pun sering mengingatkan pada si buaya muda untuk menghindari masalah dengan beberapa hewan, yaitu singa, kuda nil, termasuk GAJAH. Detik-detik berlalu, dan si buaya muda memilih untuk mengorbankan hidupnya demi si anak gajah. Si buaya muda menolong si anak gajah, mendorongnya ke tepi sungai.

     Saat tiba di tepi sungai, si buaya muda telah melihat akhir hidupnya. Begitu banyak gajah yang panik saat melihat si anak gajah dan si buaya muda. Si buaya muda tiba di tepi sungai, si anak gajah segera ditolong oleh gajah lainnya, dan beberapa gajah segera mendekati si buaya muda untuk menyerangnya. Si buaya muda hanya dapat menutup matanya, menanti akhir hidupnya.

     Akan tetapi, sebelum ada seekor gajah pun yang menginjak si buaya muda, terdengar suara pekik keras dari seekor gajah lain. Si buaya muda membuka mata dan melihat seekor gajah, yang jauh lebih besar daripada gajah-gajah lainnya, bergerak ke tengah-tengah, antara dirinya dengan gajah-gajah yang ingin menginjak-injaknya. Gajah yang besar itulah yang memekik dan kelihatan sedang menghalangi gajah-gajah lainnya sebelum mereka menyerang si buaya muda. Gajah-gajah lainnya berhenti dan memperhatikan. Gajah yang besar itu kemudian berkata pada si buaya muda, “Terima kasih karena telah menolong anak dari rombongan kami, buaya yang berbeda dari yang lain, buaya yang rela berkorban, buaya yang penuh kasih…”

Gajah-gajah lainnya berhenti dan memperhatikan.

     Si buaya muda merasa kaget dan terharu, dia lalu bertanya, “Jadi, kamu tahu apa yang aku lakukan? Kamu melihat dan mengetahui bahwa aku berusaha menolong anak gajah itu?” Si gajah besar menggeleng dan menjawab, “Tidak, tapi aku tahu tidak ada satu pun buaya yang akan berani menganggu rombongan gajah, sampai akhirnya aku melihat dirimu. Masalahnya adalah, apakah itu karena dirimu gila atau karena dirimu ‘berbeda’? Sesaat tadi cukup bagiku untuk mengetahui bahwa dirimu tidak gila, tapi dirimu ‘berbeda’… Kau tidak panik, kau tidak takut, kau tidak segera melarikan diri, dan kau tidak sedikit pun melukai si anak gajah.” Si buaya muda merasa kagum. Banyak hewan berkata bahwa gajah adalah hewan yang sangat bijaksana, terutama pemimpinnya. Dan saat ini si buaya muda menyaksikan sendiri kebenarannya.

     Si gajah besar kemudian berkata, “Aku melihat kesedihan di raut wajahmu. Aku melihat kesedihan dari seekor hewan yang disalahpahami, tidak dimengerti, dan kebingungan akan apakah yang dilakukannya benar atau salah? Benarkah demikian?” Si buaya muda tersentak. Si buaya muda tidak menyangka bahwa kebijaksanaan si gajah besar sangatlah tajam. Si buaya muda kemudian menceritakan kisah hidupnya dan pilihannya untuk tidak menyakiti hewan hutan lainnya, namun hanya berburu ikan-ikan. Si buaya muda kemudian menceritakan kisah hidupnya dan pilihannya yang menjauhkannya dari para buaya lainnya, termasuk kedua orang tuanya.

     Si gajah besar mengangguk. Dia kemudian menatap ke atas, ke langit, kemudian mengatakan sesuatu yang membuat si buaya muda penasaran, “Jadi kau bilang bahwa kau selalu berburu ikan-ikan dan tidak memburu hewan hutan lainnya… Jadi kau bilang bahwa kau punya masalah dengan para buaya lainnya, termasuk orang tuamu… Menarik… Sungguh menarik…” Si buaya muda mengangguk, lalu si gajah besar melanjutkan, “Untuk masalahmu di darat, serahkan itu padaku. Aku akan mengabarkan pada seluruh hewan di hutan bahwa ada buaya yang tidak perlu mereka hormati karena perasaan takut dan terancam, namun perlu mereka hormati karena buaya itu akan menjadi penjaga dan penyelamat di sungai. Itulah dirimu…” Si gajah menarik napas sebelum melanjutkan, “Tapi… Untuk masalahmu di air, di antara keluargamu dan kaummu, hanya dirimu yang dapat menyelesaikannya… Telah lima tahun berlalu sejak banjir besar terjadi di sungai ini, sungai tempat engkau tinggal. Dan telah lima tahun ini juga kulihat buaya semakin banyak karena kenyamanan yang mereka dapat. Tak kusangka Tuhan mengatur ini semua, salah satunya demi seekor buaya muda seperti dirimu… Lihatlah bagaimana Tuhan menyayangi dirimu… Kulihat cakrawala dan awan-awan telah berbisik bahwa hujan deras akan terjadi seminggu lagi. Saat itu, permukaan air sungai akan naik dan arusnya akan menjadi kejam. Cobalah untuk berjaga-jaga di tepi sungai pada saat-saat mengerikan itu, karena aku merasa yakin kamu akan mendapat kesempatan untuk bersatu dengan keluargamu dan kaummu di tempat tersebut, pada waktu tersebut.”

Tak kusangka Tuhan mengatur ini semua, salah satunya demi seekor buaya muda seperti dirimu… Lihatlah bagaimana Tuhan menyayangi dirimu…

     Si buaya muda masih tidak mengerti arti pesan itu, namun si gajah besar hanya berkata bahwa si buaya muda hanya perlu melakukan pesan si gajah besar dan si buaya muda nantinya akan mengerti maksud si gajah besar. Si buaya muda mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada si gajah besar. Tidak lupa si buaya muda mengucapkan salam perpisahan pada gajah-gajah lainnya. Saat itu, para gajah telah bisa menerima si buaya muda dan mengucapkan salam perpisahan yang akrab pada si buaya muda. Si buaya muda merasakan kebahagiaan yang hangat di dalam hatinya saat itu.

     Seminggu berlalu dan kata-kata si gajah besar menjadi kenyataan…

     Banjir besar terjadi di sungai tempat si buaya muda tinggal bersama buaya-buaya lainnya. Pada saat banjir besar seperti ini, hampir tidak ada satu pun buaya yang berani mengarungi sungai karena derasnya sungai. Para buaya memadati daerah pinggiran sungai dan diam di sana sambil menunggu saat nantinya sungai lebih ramah untuk diarungi.

     Pada saat itu, si buaya muda melakukan perkataan si gajah besar. Si buaya muda berjaga-jaga di tepi sungai. Si buaya muda menanti dengan sabar akan apa yang menjadi maksud si gajah besar, walaupun ternyata si buaya muda harus menanti beberapa hari lamanya. Satu hari, dua hari, lalu tiga hari berlalu. Permukaan sungai menjadi semakin tinggi dan arusnya menjadi semakin liar. Si buaya muda tetap setia berjaga-jaga di tepi sungai dan dia dikagetkan oleh sesuatu.

Si buaya muda berjaga-jaga di tepi sungai.

     Si buaya muda mendengar teriakan buaya betina yang anaknya hanyut ke sungai deras. Ternyata jumlah buaya yang semakin banyak membuat daerah tepi sungai menjadi lebih padat, sehingga beberapa buaya perlu berbagi tempat sempit dengan buaya lainnya. Akibatnya, beberapa buaya yang tidak hati-hati, termasuk anak-anak buaya, akan lebih mudah terseret arus sungai. Derasnya arus sungai membuatnya tidak mungkin diarungi oleh siapapun, termasuk oleh para buaya. Si buaya muda pun akhirnya memutuskan untuk mengarungi sungai dan menyelamatkan anak buaya tersebut. Si buaya muda sebenarnya ditahan oleh kedua orang tuanya agar tidak coba-coba masuk ke dalam sungai yang keadaannya tengah berbahaya, namun si buaya muda mengatakan bahwa kedua orang tuanya tidak perlu khawatir dan tidak perlu takut, karena si buaya muda dapat melakukan hal tersebut. Entah dari mana keyakinan yang dia miliki ini, tapi dia merasa yakin karena perkataan si gajah besar.

     Si buaya muda masuk ke dalam sungai dan mulai berenang. Awalnya dia merasa sangat kesulitan, akan tetapi dia merasakan bahwa dia dapat berenang di sungai yang beraliran deras tersebut. Ternyata, tahun-tahunnya selama berburu ikan-ikan di sungai membuatnya lebih gesit dan lebih cepat daripada buaya-buaya lainnya. Dengan bekal itulah dia mengarungi sungai yang tidak bersahabat ini dan menyelamatkan si anak buaya.

     Hari-hari berlalu, dan si buaya muda terus setia berjaga-jaga di tepi sungai, karena hanya dia yang mampu menyelamatkan anak-anak buaya yang tidak sengaja hanyut di sungai deras tersebut. Begitulah yang terus terjadi sampai akhirnya banjir berakhir dan arus sungai kembali bersahabat. Sekarang sudah tidak ada lagi buaya yang berani menghina dan merendahkan si buaya muda karena kebiasaannya berburu ikan dan tidak berburu hewan-hewan hutan lainnya. Orang tua si buaya muda juga mulai bisa menerima dan merasa bangga pada anak mereka. Para buaya pun memilih untuk berburu hewan-hewan hutan di bagian sungai di mana si buaya muda tidak sedang berada di sana, karena mereka segan pada si buaya muda. Selain itu, sekarang hampir seluruh hewan hutan telah mengetahui dari rombongan gajah, bahwa di sungai ada seekor buaya yang tidak perlu mereka hormati karena perasaan takut dan terancam, namun perlu mereka hormati karena buaya itu akan menjadi penjaga dan penyelamat di sungai.

Begitulah yang terus terjadi sampai akhirnya banjir berakhir dan arus sungai kembali bersahabat.

     … Begitulah kisah tentang perjuangan seekor buaya. Kisah yang menarik, bukan? Sungguh sangat banyak pelajaran yang dapat aku petik dari kisah ini. Dan sekali lagi perlu aku tekankan, tetap saja kisah ini tidak hanya sekadar kisah bagiku, tapi entah mengapa aku merasa aku pernah mendengar kisah ini dari orang lain di masa lalu. Entah siapapun dia…

- bersambung -

Cerita sebelumnya : Pedang Raja : (7) Kisah Pemanah yang Setia

No comments:

Post a Comment